POJOKSATU.id, JAKARTA—Pengaruh sang Proklamator Soekarno perlahan mulai dikikis oleh Presiden Soeharto sejak dia berkuasa tahun 1967. Berbagai cara dilakukan Soeharto untuk meniadakan Soekarno.
Setelah Soekarno lengser, Pemerintah Orde Baru gencar melakukan desoekarnoisasi untuk melemahkan pengaruh Soekarno di Indonesia.
Kebijakan ini bertujuan untuk menghapus peran Soekarno dari ingatan dan sejarah bangsa.
Baca Juga: Soeharto Pernah Buat Ribuan Orang Terdiam Seketika dengan Satu Kalimat Ini
Desoekarnoisasi tidak hanya menyasar pada peran Soekarno dalam sejarah, tetapi juga menargetkan orang-orang terdekat dan loyalisnya.
Pembersihan juga dilakukan terhadap orang sipil dan militer yang dianggap loyal kepada Soekarno.
Soeharto, dengan falsafah hidup 'mikul dhuwur mendhem jero' menganggap penting untuk memutus pengaruh Soekarno dari sejarah Indonesia.
Dalam bahasa Indonesia, isi pepatah ini bisa diartikan, mengangkat tinggi dan mengubur dalam.
Baca Juga: Anies Berjanji Akan Lakukan Perbaikan Tata Niaga
Bagi orang Jawa, pepatah ini punya maksud sebagai anak, kita diwajibkan mengangkat tinggi derajat orangtua, serta menutup rapat-rapat aib keluarga.
Puncak desoekarnoisasi ini yakni penahanan Soekarno di Wisma Yaso dan pemakaman di Blitar.
Setelah itu banyak bangunan yang awalnya diberi nama Soekarno perlahan mulai banyak dirubah.
Selain itu, Orde Baru menyesuaikan narasi sejarah Pancasila dengan mengurangi peran Soekarno dalam perumusannya melalui program Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4).***

