POJOKSATU.id, SETIAP kali kata “Merdeka” digaungkan, kita sedang menghidupkan kembali jejak perjuangan panjang bangsa. Pekik itu bukan sekadar seruan, melainkan simbol keberanian dan harapan yang diwariskan oleh seorang tokoh besar bernama Otto Iskandar Dinata.

Lelaki asal Bojongsoang, Bandung, kelahiran 31 Maret 1897 ini dikenal sebagai pejuang yang gagah berani, hingga masyarakat Sunda menjulukinya Si Jalak Harupat.

Si Jalak Harupat: Simbol Keberanian Orang Sunda

Julukan Si Jalak Harupat bukan tanpa alasan. Burung jalak yang keras dan berani menjadi lambang sifat Otto dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.

Baca Juga: Rekomendasi Smartwatch Anak Sekolah 2025, Dilengkapi Fitur Timer Belajar, Kalkulator hingga Pemutar Audio

Dalam sejarah Sunda, sebutan ini disematkan pada sosok yang tidak gentar menghadapi tantangan.

Otto Iskandar Dinata menjelma sebaggai representasi itu, baik di parlemen kolonial, organisasi pergerakan, maupun di kabinet Republik Indonesia yang baru lahir.

Dari Budi Utomo hingga Paguyuban Pasundan

Perjalanan Otto dalam dunia politik dimulai sejak ia bergabung dengan Budi Utomo di Bandung pada awal 1920-an. Karier organisasinya semakin menonjol ketika ia memimpin Paguyuban Pasundan pada 1929–1942.

Baca Juga: Ingatkan Aturan Perlindungan Anak di Indonesia, Komdigi Minta Roblox Berbenah

Melalui organisasi ini, Otto memperjuangkan pendidikan bagi masyarakat pribumi, memperkuat posisi ekonomi rakyat, serta mendorong peran perempuan dalam pembangunan.

Sebagai anggota Volksraad (semacam parlemen kolonial Belanda) sejak 1930, Otto dikenal kritis dan vokal.

Ia berani menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat. Sikap lantang itulah yang mengokohkan reputasinya sebagai pejuang yang tidak bisa dibungkam.

Penggagas Pekik “Indonesia Merdeka”

Salah satu warisan terbesar Otto adalah gagasannya mengenai pekik perjuangan. Dalam rapat Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP) pada 1945, ia menggagas pekik “Indonesia Merdeka”.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Smartwatch Murah untuk Pelajar, Mulai Rp150 Ribuan, Dari Tahan Air sampai Bisa Pantau Kesehatan

Namun karena dianggap terlalu panjang, pekik itu kemudian disingkat menjadi “Merdeka!”. Dari situlah, pekik “Merdeka” menjadi salam perjuangan yang digunakan dalam rapat-rapat, pidato, hingga salam antar pejuang.

Seiring waktu, pekik itu melebur ke dalam jiwa bangsa Indonesia. Ia bukan hanya seruan kemerdekaan, tetapi juga simbol identitas nasional.

Hingga kini, kata “Merdeka” masih menjadi seruan abadi setiap kali rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan.

Baca Juga: Tak Cuma Pati, Sejumlah Daerah Lain Juga Naikkan PBB-P2

Namun, riwayat Otto berakhir tragis. Pada Desember 1945, ia diculik oleh kelompok bersenjata yang dikenal
sebagai Laskar Hitam di Tangerang.

Sehari kemudian, Otto dibawa ke Pantai Mauk, Banten, dan dibunuh. Jenazahnya tak pernah ditemukan, sehingga hingga kini kematiannya menyisakan misteri.

Untuk menghormatinya, pada tahun 1952 digelar pemakaman simbolis. Sebotol air laut dan segenggam pasir dari Pantai Mauk dimakamkan di Lembang, Bandung.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perjuangan Otto tak pernah hilang meski jasadnya tak ditemukan.

Baca Juga: Daftar Lengkap Anggota Paskibraka Nasional 2025, Siap Kibarkan Bendera Pusaka di HUT ke-80 RI

Pahlawan Nasional dan Warisan Abadi

Otto Iskandar Dinata resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 088/TK/1973 pada 6 November 1973.

Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di banyak kota besar (Otista), wajahnya pernah menghiasi uang Rp20.000 edisi 2004–2016, dan stadion megah di Bandung dinamai Si Jalak Harupat Stadium.

Warisan terbesarnya adalah pekik “Merdeka” yang lahir dari gagasannya. Pekik itu kini tidak hanya menjadi salam nasional, tetapi juga napas perjuangan yang tak pernah padam.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Setiap kali kita mengucapkannya, kita seolah mendengar gema suara Otto Iskandar Dinata yang menyeru agar bangsa ini tidak pernah gentar dalam menjaga kemerdekaan. ***