POJOKSATU.id - Cerita keindonesiaan di dunia bulutangkis terasa kontras dengan peta sepakbola di masa kini. Banyak dibela etnis Tionghoa dan tak ada istilah naturalisasi.
Mereka pebulutangkis yang beretnis Tionghoa, sudah sejak lama berjuang membela dan mengharumkan nama Indonesia. Salah satunya adalah kisah keindonesiaan Ong Lien Hiang.
Tak lain, Ong Lien Hiang adalah nama etnis Tionghoa dari Susi Susanti. Ia pernah menolak diajak pindah ke negeri lain. Padahal ia punya kisah kelam di tanah air, di masa Orde Baru.
Meski hal itu sudah berlalu, kisah Ong Lie Hiang alias Susi Susanti tetap menjadi nilai berharga kuatnya rasa keindonesiaan yang dimiliki etnis Tionghoa.
Kisah kelam itu dialami Susi Susanti ketika hendak menikah pada 1997 dan terkendala karena belum memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI).
Walau sebelumnya kerap membela nama Indonesia, Susi tetap mengalami perlakuan diskriminatif.
Pada waktu itu, memang ada peraturan yang menetapkan bahwa setiap warga Tionghoa yang berusia 17 tahun diharuskan memiliki SBKRI.
Pemerintah Orde Baru yang memberlakukan SBKRI bagi warga Tionghoa yang tinggal di Indonesia, justru tidak memberikan kemudahan untuk mendapatkan SBKRI.
Diterapkannya Inpres Nomor 14 Tahun 1967, justru melahirkan berbagai pembatasan terhadap kegiatan etnis Tionghoa di Indonesia.
Aturan membuat SBKRI itu banyak menjadi hambatan besar terhadap hak-hak mereka.
Padahal SBKRI memiliki peran penting bagi etnis Tionghoa karena menjadi persyaratan utama untuk mengurus administrasi kependudukan, termasuk kartu tanda penduduk (KTP), akta pernikahan, akta kelahiran, dan dokumen lainnya.
Sekian lama diskriminasi itu dialami etnis Tionghoa di masa pemerintahan Suharto.
Mereka diawasi dengan alasan politis yaitu kecurigaan bahwa Republik Rakyat Tiongkok sudah menunggangi etnis Tionghoa di Indonesia untuk mendukung gerakan PKI.
Berbagai alasan bahkan digunakan untuk mencabut akar budaya mereka, diwajibkan mengganti nama, diminta untuk melupakan leluhur etnis mereka.
Alih-alih dipermudah mendapatkan SBKRI karena kerap membela nama Indonesia, Susi harus menunggu hingga delapan tahun untuk mendapatkan SBKRI sejak ia membuat permohonan pada 1988.
Padahal antara waktu 1988 hingga 1996 itu, Susi kerap mewakili Indonesia dan mempersembahkan prestasi untuk mengharumkan nama Indonesia.
“Mama mengajukan pengurusan SBKRI saya itu tahun 1988 dan baru keluar tahun 1996 saat kami mengurus pernikahan,” cerita Susi kepada media.
Susi bertutur, mengurus SBKRI itu tidak hanya susah. Tapi juga harus menggunakan uang yang tidak sedikit.
Saudaranya bercerita, ada seorang kerabat yang sakit parah dan tidak bisa berobat ke luar negeri akibat terkendala SBKRI, hingga akhirnya meninggal.
Tentu saja Susi juga tak habis pikir, mengapa ia harus dituntut memperlihatkan SBKRI, ketika sudah banyak prestasi yang ia persembahkan untuk Indonesia.
“Bagaimana ya, kami sudah berjuang, tetapi kok kami harus menunjukkan bukti kewarganegaraan. Kakek saya lahir di Indonesia, mama lahir di Indonesia, saya lahir di Indonesia. Kenapa mesti ada perbedaan?” kata Susi.
Nyata dalam sejarah bulutangkis, bahkan disaksikan oleh dunia, pada tahun 1992 Susi mempersembahkan meraih medali emas Olimpiade setelah di partai final menumbangkan atlet Korea Selatan, Bang Soo-hyun.
Pertandingan yang menegangkan hingga tiga set menghancurkan perlawanan Bang Soo-hyun, 5-11, 11-5, dan 11-3.
Sorak kemenangan menggema di tanah air. Dan di podium, tangis Susi tak lagi bisa terbendung ketika ia menyaksikan sang Merah Putih berkibar diiringi lagu Indonesia Raya. Air mata Susi berlinang untuk tanah air.
Warga Indonesia yang menonton langsung di Barcelona juga larut dalam keharuan itu.
Beberapa dari mereka juga tak kuasa meneteskan air mata, usai Susi Susanti membuat sejarah bagi Indonesia dalam Olimpiade Barcelona.
Kebanggaan bangsa Indonesia semakin meluap saat pasangan kekasih Alan Budi Kusuma juga berhasil menyandingkan medali emas di tunggal putra.
Alan Budi Kusuma, pemilik nama Tionghoa Goei Ren Fang ini mengalahkan Ardy B Wiranata yang juga merupakan tunggal putra Indonesia.
Hanya saja, Ardy B Wiranata kini telah pindah kewarganegaraan bersama istrinya, Elisabeth Tamzil di Kanada.
Konon ada cerita, orang tua Susi Susanti memberikan syarat kepada Alan harus menang medali emas Olimpiade jika ingin direstui menikah dengan Susi Susanti.
Nyatanya ayah Susi, Risad Haditono (Ong Siong Lie) hanyalah melecutkan semangat. Ia hanya khawatir hubungan mereka mengganggu performance mereka saat membela Indonesia.
Itu pula sebabnya, usai pembuktian Susi dan Alan menyandingkan medali emas Olimpiade, mereka segera mempersiapkan pernikahan.
Saat hendak menikah itulah, Susi kembali harus berjuang mendapatkan SBKRI. Berkali-kali Susi harus bolak-balik ke pengadilan untuk mengurus SBKRI.
Terus terang, Susi memang geram dengan kebijakan itu.
Jelang Olimpiade Barcelona 1992, banyak negara sempat mengajak Susi untuk menjadi atlet andalan mereka.
Tawaran itu dengan tegas ditolak Susi, meski ia dijanjikan jaminan kehidupan yang lebih baik di negara lain.
“Sebelum Olimpiade, 1992, tawaran ke luar negeri banyak dengan jaminan yang besar, tetapi saya merasa orang Indonesia, cinta Indonesia," ujar Susi.
"Keindonesiaan itu dibeli berapa pun tidak mungkin saya jual. Saya lahir dan hidup di sini, masa saya jual keindonesiaan saya dengan uang,” ungkap perempuan kelahiran Tasikmalaya, 11 Februari 1971 itu.
Tak kurang akal, Susi akhirnya angkat bicara melalui media. Lalu, dalam hitungan hanya satu sampai dua bulan, surat SBKRI yang ditunggunya hingga delapan tahun itu akhirnya keluar.
Belum selesai, setahun kemudian giliran ayah Susi Susanti dan keluarganya yang menerima teror diskriminasi.
Ong Siong Lie, ayah Susi pernah mengalami kerusuhan rasial ketika Susi Susanti pergi membawa Tim Thomas dan Uber Cup 1998 ke Hongkong.
Rumah keluarga Susi Susanti di Tasikmalaya dirusak oleh masa, kaca dan jendela habis, bahkan mau diamuk dan dibakar massa.
Mereka berteriak,'Bakar rumah Susi Susanti!' dan batu pun dilemparkan.
Ayahnya nyaris jadi bulan-bulanan massa. Untung saja para tetangga sekitar langsung mengamankan Risad. Sesungguhnya, tak ada perbedaan di tengah warga.
Di Hongkong, Sigit Budiarto memompa semangat kawan-kawan pebulutangkis.
"Keluarga yang ada di Indonesia aman. Apapun yang terjadi di Indonesia, kita lagi berjuang, membawa nama merah putih!," ujar pasangan ganda Candra Wijaya ini.
Saat Thomas Cup 1998 itu, Sigit dan Candra berhasil membawa piala Thomas ke Indonesia dan menyapu bersih seluruh partai dengan kemenangan telak atas Malaysia.
Dalam kisah kelam Orde Baru, Susi tak sendiri. Ada Tan Joe Hok, Ang Tjing Siang, Rudy Hartono, Liem Swi King, Hendrawan, dan Ivana Lie yang juga merupakan para pahlawan bulutangkis Indonesia yang mengalami sulitnya menjadi WNI.
Baca Juga: Berkuasa 32 Tahun, Soeharto Kecil Ternyata Sering Dibully
Tan Joe Hok adalah salah satu legenda bulutangkis Indonesia yang pernah menjuarai All England pada tahun 1959.
Tan Joe Hok juga pernah menjuarai Piala Thomas pada tahun 1958, 1961, dan 1964, serta Asean Games pada tahun 1962.
"Untuk berstatus WNI juga dipersyaratkan berganti nama. Saya menjadi Hendra Kartanegara. Ang Tjin Siang jadi Mulyadi," kata Tan Joe Hok.
Cerita pilu juga dialami Tong Sinfu, mantan pelatih bulutangkis nasional yang banyak melahirkan pebulutangkis hebat Indonesia.
Sebut saja Hastomo Arbi, Icuk Sugiarto, Ardi B Wiranata, Joko Suprianto dan Hariyanto Arbi adalah pebulutangkis yang dilahirkan dari tangan Tong Sinfu.
Baca Juga: Ganjar Menginap di Rumah Warga Keturunan Tionghoa, Ganjar Disebut Sosok Merakyat
Tong Sinfu yang berganti nama menjadi Fuad Nurhadi lahir dan besar di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942.
Ia akhirnya hijrah ke Tiongkok, setelah permohonan dirinya menjadi warga negara Indonesia (WNI) ditolak.
"Saya sudah berusaha mati-matian menjadi WNI, tapi tetap tidak dikabulkan. Apa mau dikata,” kata Tong Sinfu.
Menjalani hidup sebagai seorang etnis Tionghoa yang mencintai Indonesia, berjuang menjadi bagian dari bangsa pada masa Orde Baru, memang bukanlah perkara mudah.
Mereka yang sejak lama sudah hidup bersama kita, membela kita, rasanya sudah cukup membuktikan jiwa keindonesiaan.
Kini, masihkah Anda membenci etnis Tionghoa? Apa hak Anda? ***

