POJOKSATU.id – Laut selalu menyimpan dua wajah. Ia menjadi jalur yang menghubungkan ribuan pulau di Indonesia, tetapi pada saat yang sama menyimpan kisah-kisah pilu yang tak pernah benar-benar selesai.

Ketika kebakaran melanda KM Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Madura pada awal Agustus 2026, ingatan bangsa seolah ditarik kembali ke salah satu halaman paling kelam dalam sejarah pelayaran nasional.

Peristiwa itu memang berbeda. Jumlah korban jauh lebih sedikit berkat evakuasi yang lebih cepat.

Namun kobaran api, kepanikan penumpang, hingga proses pencocokan manifes yang kembali menjadi perhatian publik, mengingatkan pada sebuah nama yang selama puluhan tahun identik dengan tragedi di laut: KMP Tampomas II.

Empat puluh lima tahun telah berlalu sejak kapal itu tenggelam di Laut Jawa. Namun kisahnya masih menyisakan pelajaran yang terasa relevan setiap kali sirene penyelamatan kembali berbunyi di tengah lautan.

Saat Laut Jawa Menjadi Neraka
Malam 24 Januari 1981, KMP Tampomas II meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok menuju Ujung Pandang, kini Makassar. Kapal milik Pelni tersebut merupakan salah satu moda transportasi utama yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Indonesia bagian timur.

Menurut manifes resmi, kapal membawa lebih dari seribu penumpang beserta puluhan awak kapal.

Akan tetapi, banyak kalangan meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih besar karena adanya penumpang yang tidak tercatat.

Tak ada seorang pun yang menyangka pelayaran rutin itu berubah menjadi perjalanan terakhir bagi ratusan orang.

Di tengah Laut Jawa, tepatnya di sekitar Kepulauan Masalembo, asap mulai muncul dari bagian kapal.

Mula-mula terlihat biasa. Namun dalam hitungan waktu, asap berubah menjadi kobaran api yang menjalar tanpa bisa dihentikan.

Belakangan penyelidikan menyebut kebakaran diduga berawal dari puntung rokok yang menyambar bahan bakar kendaraan di dek mobil.

Situasi diperburuk oleh kebocoran tangki kendaraan, cuaca buruk, serta susunan muatan yang membuat api sangat cepat merambat.

Gelap Gulita di Tengah Badai
Ketika api terus membesar, nakhoda Kapten Abdul Rivai mengambil keputusan yang tidak mudah.

Mesin utama dimatikan agar kobaran api tidak semakin meluas menuju ruang mesin. Keputusan itu memang memperlambat penyebaran api, tetapi sekaligus membuat kapal kehilangan tenaga listrik.

Dalam sekejap, kapal berubah menjadi bangunan besi raksasa yang gelap gulita di tengah Laut Jawa.

Kepanikan pun pecah.

Penumpang berebut jaket pelampung. Sebagian tidak mengetahui cara menggunakannya.

Sekoci sulit diturunkan karena ombak tinggi. Anak-anak menangis. Orang tua berusaha menyelamatkan keluarga mereka.

Di tengah kobaran api, laut yang bergelombang menjadi satu-satunya pilihan bagi sebagian penumpang yang memutuskan melompat.

Kapten yang Memilih Tetap Bertahan
Di tengah kekacauan itu, muncul satu kisah yang hingga kini terus dikenang.

Kapten Abdul Rivai menolak menjadi orang pertama yang meninggalkan kapal.

Ia memilih tetap berada di anjungan untuk mengoordinasikan proses penyelamatan para penumpang.

Salah satu pesan terakhirnya kepada kapal penolong bahkan dikenang sebagai simbol tanggung jawab seorang pelaut.

Ia meminta air dan makanan karena memutuskan tetap berada di kapal hingga detik terakhir.

Keputusan tersebut membuat namanya dikenang sebagai sosok yang gugur bersama kapal yang dipimpinnya.

Saat Tampomas II Hilang dari Permukaan Laut
Selama hampir dua hari kapal terapung dalam kondisi terbakar.

Sejumlah kapal yang melintas berusaha memberikan pertolongan meski cuaca buruk menyulitkan proses evakuasi. Banyak korban berhasil diselamatkan setelah nekat melompat ke laut dan dijaring oleh kapal-kapal penolong.

Namun nasib Tampomas II akhirnya mencapai titik akhir pada 27 Januari 1981.

Ledakan besar diduga berasal dari tabung gas di dalam kapal. Pintu belakang kapal jebol. Air laut masuk dengan sangat cepat ke dalam lambung kapal.

Dalam waktu singkat kapal miring, kemudian tenggelam sepenuhnya ke dasar Laut Jawa.

Jumlah korban hingga kini masih menjadi perdebatan karena perbedaan data manifes dan jumlah penumpang sebenarnya.

Namun berbagai catatan sejarah menyebut ratusan orang kehilangan nyawa dalam tragedi tersebut, menjadikannya salah satu kecelakaan kapal paling mematikan yang pernah dialami Indonesia.

Tragedi yang Membuka Mata
Musibah Tampomas II tidak berhenti sebagai berita duka.

Investigasi setelah kejadian mengungkap banyak persoalan mendasar, mulai dari kondisi kapal yang merupakan kapal bekas, lemahnya disiplin keselamatan, kerusakan sejumlah perlengkapan darurat, hingga buruknya sistem penanganan keadaan darurat.

Peristiwa itu kemudian memicu evaluasi besar terhadap dunia pelayaran nasional.

Di ruang publik, tragedi tersebut bahkan melahirkan kritik sosial yang kuat, termasuk melalui lagu "Celoteh Camar Tolol dan Cemar" karya musisi Iwan Fals, yang menggambarkan duka sekaligus kemarahan terhadap kelalaian manusia yang harus dibayar dengan ratusan nyawa.

Mutiara Sentosa 2 dan Pelajaran yang Tak Boleh Dilupakan
Empat puluh lima tahun kemudian, Indonesia kembali dikejutkan oleh kebakaran kapal penumpang.

KM Mutiara Sentosa 2 yang berlayar dari Surabaya menuju Makassar mengalami kebakaran di perairan utara Madura.

Berkat respons cepat kru, Basarnas, kapal-kapal penolong, serta koordinasi berbagai pihak, ratusan penumpang berhasil dievakuasi.

Meski demikian, insiden tersebut tetap merenggut korban jiwa dan memunculkan tantangan yang tidak asing: pencocokan manifes penumpang, proses identifikasi korban, hingga investigasi mengenai penyebab kebakaran.

Pemerintah telah memastikan investigasi dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Di saat yang sama, muncul komitmen untuk mempercepat peremajaan armada kapal serta memperkuat aspek keselamatan pelayaran.

Langkah tersebut menjadi penting karena sejarah menunjukkan bahwa setiap kecelakaan besar selalu menyisakan pertanyaan yang sama: apakah pelajaran dari tragedi sebelumnya benar-benar telah diterapkan?

Sejarah Tidak Ditulis untuk Menakut-nakuti
Tragedi Tampomas II bukan sekadar kisah tentang kapal yang tenggelam.

Ia adalah pengingat bahwa keselamatan tidak pernah boleh dikalahkan oleh kelalaian, penghematan biaya, ataupun anggapan bahwa pelayaran akan selalu berjalan seperti biasa.

Musibah KM Mutiara Sentosa 2 menunjukkan bahwa teknologi penyelamatan memang jauh lebih maju dibanding empat dekade lalu.

Respons evakuasi juga jauh lebih cepat. Namun sejarah mengajarkan bahwa kemajuan hanya akan bermakna jika diiringi budaya keselamatan yang terus dijaga.

Karena itu, mengenang Tampomas II bukan sekadar membuka kembali luka lama, melainkan memastikan bahwa setiap pelayaran berikutnya membawa satu tekad yang sama: jangan biarkan sejarah yang paling kelam kembali terulang. ***