POJOKSATU.id, KEDIRI-- Di lereng bawah Gunung Klotok, Kediri, berdiri sebuah situs batu yang tak hanya menyimpan jejak sejarah, tetapi juga lapisan cerita yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Goa Selomangleng, kerap dibicarakan dalam dua pandangan yaitu soal sejarah dan mistis.
Sebagian orang datang untuk belajar tentang peninggalan Jawa klasik dan sebagian lain datang dengan rasa ingin tahu terhadap cerita-cerita tak kasatmata dari masa lampau.
Sejarawan Kediri, Novi Bahrul Munib mengatakan, berdasarkan interpretasi relief yang ia lakukan bersama sejumlah arkeolog, terdapat indikasi bahwa Goa Selomangleng pada masa tertentu mungkin berfungsi menyerupai kompleks pemakaman terbuka.
Baca Juga: Habiburokhman Sebut Teror Air Keras ke Andrie Yunus Bentuk Perlawanan terhadap Pemerintahan Prabowo
Dalam praktik tersebut, jenazah tidak dikuburkan seperti tradisi pemakaman modern, melainkan diletakkan di ruang terbuka atau ceruk batu dan dibiarkan mengalami proses dekomposisi alami hingga kembali menyatu dengan tanah.
“Narasi bahwa Goa Selomangleng dulunya adalah makam terbuka diambil dari pembacaan relief bersama para arkeolog," kata Novi, Selasa (17/3/2026).
Ia menambahkan, bahwa interpretasi ini bukan spekulasi mistis, melainkan hipotesis historis yang berangkat dari ikonografi relief serta perbandingan dengan praktik kematian pada periode Jawa kuno tertentu.
Baca Juga: Di Tengah Kecamuk Perang, Presiden Trump Akui Orang Iran Pintar dengan Kecerdasan Sangat Tinggi
"Dalam konteks budaya Hindu-Budha di Nusantara terdapat variasi praktik pengelolaan jenazah, termasuk kremasi, pengabuan, hingga eksposur terbuka sebelum sisa-sisa tubuh diproses lebih lanjut secara ritual," ujarnya.
"Jika hipotesis ini benar, maka fungsi Goa Selomangleng tidak hanya sebagai ruang pertapaan, tetapi juga sebagai ruang transisi tempat yang menghubungkan kehidupan, kematian, dan kosmologi spiritual masyarakat pada masanya," tambahnya.
Goa Selomangleng, sebagai ruang tertutup dan minim distraksi, secara alami mendukung praktik semacam itu.
Karena itu, pemilihan lokasi Goa Selomangleng lebih berkaitan dengan karakter ruangnya yang sunyi dan sejarahnya yang dipercaya memiliki energi, bukan semata karena atribut mistis yang benar-benar melekat.
Pada akhirnya, memahami Goa Selomangleng tidak cukup hanya dari cerita. Tempat ini perlu didatang dan dirasakan secara langsung baik sebagai situs sejarah maupun sebagai ruang refleksi.
"Secara antropologis, keberlanjutan praktik tirakat di situs bersejarah menunjukkan bagaimana ruang dapat mempertahankan fungsi simboliknya meski telah bertransformasi menjadi destinasi wisata," ujarnya.***

