POJOKSATU.id, KEMERIAHAN mewarnai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT) ke-80 Republik Indonesia (RI). Berbagai perlombaan penuh semangat tampak di berbagai pelosok negeri.
Dari jauh-jauh hari, warga sudah mempersiapkan perayaan dengan memasang bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga pernak-pernik kemerdekaan yang menghiasi jalanan dan lingkungan sekitar.
Euforia ini menjadi bentuk nyata rasa cinta tanah air serta penghormatan pada perjuangan para pahlawan yang telah memerdekakan bangsa.
Namun, jika melihat ke belakang, persiapan menyambut kemerdekaan 80 tahun lalu jauh berbeda.
Masyarakat Indonesia kala itu hidup dalam ketegangan dan ketidakpastian.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, kekuasaan beralih ke pemerintahan Republik Indonesia yang baru berdiri.
Periode transisi tersebut kemudian dikenal dengan istilah Masa Bersiap oleh Belanda atau disebut juga masa Berdaulat di Indonesia.
Masa Bersiap berlangsung pada tahun 1945–1947 dan penuh dengan gejolak sosial dan politik.
Baca Juga: Ribuan Warga Bandung Hentikan Aktivitas, Rayakan HUT RI dengan Mengheningkan Cipta
Situasi yang kacau menyebabkan munculnya aksi kekerasan, huru-hara, hingga perampokan massal.
Kelompok pro-kemerdekaan yang terdiri dari Pemoeda dan Pelopor kerap menjadi motor perlawanan
Namun, dalam praktiknya banyak kekerasan yang menyasar orang-orang sipil, terutama kelompok Eropa, Indo, Maluku, hingga Tionghoa.
Catatan sejarah menyebutkan, jumlah korban dalam periode ini diperkirakan mencapai 3.500 hingga 20.000 jiwa.
Baca Juga: KUMPULAN SOAL PAI Kelas 8 SMP Semester Ganjil untuk Meningkatkan Pemahaman dan Kesiapan Belajarmu
Mereka termasuk orang Belanda beserta keturunannya, tahanan perang Jepang dan Korea, hingga warga lokal dengan status sosial ekonomi tinggi.
Orang-orang Tionghoa juga banyak menjadi korban, sebagian karena adanya perpecahan politik di Tiongkok Daratan kala itu
Saat itu, kubu pro-Kuomintang mendukung Belanda dan menolak pengakuan terhadap Republik Indonesia.
Kekacauan tersebut membuat banyak warga keturunan Belanda dan Eropa memilih meninggalkan Indonesia setelah proklamasi.
Masa Bersiap menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah revolusi nasional Indonesia, sekaligus menggambarkan betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan.
Kini, delapan dekade kemudian, Indonesia merayakan kemerdekaan dalam suasana damai dan penuh sukacita.
Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;
Persiapan yang dilakukan masyarakat bukan lagi dalam bayang-bayang ketakutan, melainkan dalam semangat kebersamaan.
Dari tragedi sejarah menuju perayaan penuh warna, bangsa ini terus belajar bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang harus dijaga dengan persatuan. ***

