POJOKSATU.id - Pada masa penjajahan, suku Dayak yang berada di Kalimantan sangat ditakuti Belanda.

Kala itu, setiap suku dan etnis diberbagai daerah di Indonesia memiliki perjuangannya masing-masing melawan tentara Belanda.

Diketahui, Belanda sempat mencoba menyerang suku dari Kalimantan ini. Alih-alih mendapat kemenangan, suku Dayak justru berhasil membuat mereka kocar kacir.

Baca Juga: Bukan di Myanmar Atau Ancol, Taman Lumbini Punya Pagoda Emas Tertinggi dan Jembatan Gantung di Kaki Gunung yang Indah

Saat itu, tanpa memahami medan perang, Belanda menerobos masuk ke dalam hutan. Tetapi, bagi suku Dayak yang sejak kecil hidup diantara pepohonan tinggi, memahami betul medan pertarungan ini.

Tidak hanya itu, mereka juga memiliki fisik terlatih layaknya seorang tentara.

Mereka terbiasa sejak kecil untuk menyesuaikan diri dengan alam sehingga kemampuan fisiknya juga ikut terasah.

Orang-orang Suku Dayak menjadi penghuni terlama di Borneo, Kalimantan.

Baca Juga: Jelang Pemilu KPU Telah Umumkan Daftar Caleg PDIP DPRD Kabuapten Tasikmalaya

Mereka sudah ada sejak pra-kolonialisme, munculnya kerajaan, masa kolonialisme Belanda, hingga di masa saat ini.

Seiring masuknya bangsa Melayu, Suku Dayak menolak menganut kepercayaan yang dipegang kerajaan dan kesultanan Melayu.

Keteguhan ini yang membuat mereka perlahan berpindah ke wilayah ketinggian.

Kemudian bangsa Melayu atau pihak kesultanan menyebut mereka Dayak. Nama itu berarti orang di atas.

Baca Juga: Keunikan Vihara Dewi Kwan Im Palembang Berusia 291 Tahun, Ada Makam Ju Sin Kong Panglima Beragama Islam

Hal ini sama dengan penyebutan Toraja di Sulawesi Selatan yang berarti orang-orang yang ada di atas. Arti ini menjelaskan tempat bermukim mereka.

Kolonial Belanda yang masuk belakangan menyebut mereka sebagai Dayak untuk mengidentifikasi mereka yang di pedalaman dianggap tidak beradab.

Pada tahun 1980, orang Dayak masih kukuh menolak memercayai agama yang diakui pemerintah.

Akhirnya, negara mengkategorikan kepercayaan mereka ke dalam agama Hindu. Lebih tepatnya Hindu Kaharingan.

Baca Juga: Mahfud MD Dilaporkan ke Bawaslu Karna Sebut Jawaban Gibran Ngawur

Sebenarnya Kaharingan dan Hindu merupakan dua kepercayaan yang berbeda. Tetapi, hal ini dilakukann demi kepentingan administrasi Negara dan kependudukan.

Sampai saat ini, penganut Kaharingan masih berjuang untuk mendapat pengakuan sebagai kepercayaan sendiri yang terpisah dari Hindu.

Kepercayaan ini dikategorikan sebagai Hindu karena Hindu menjadi agama terlama di Kalimantan.

Baca Juga: 6 Bulan Pelarian, Pelaku Pedofil dan Pembunuhan Bocah di Cianjur Akhirnya Ditangkap, Ternyata Residvis Kasus yang Sama

Pada masa pendudukan Jepang, Kaharingan diusulkan menjadi nama dalam menyebut kepercayaan orang Dayak. Lambat laun, kepercayaan ini memiliki kitab bernama Panaturan dan tempat beribadahnya disebut Balai Besar.

Kepercayaan ini mengajarkan kerukunan hidup antar manusia, menghormati arwah leluhur, dan manusia dan alam semesta yang tidak bisa dipisahkan.

Orang Dayak percaya bahwa menjaga alam adalah menjaga kehidupan.

Baca Juga: Soal Video Viral Ban Mobil Dinas Jokowi Bocor di Grobogan, Ternyata Faktanya Begini

Dayak adalah sebutan dari penguasa untuk mengkategorikan mereka di pedalaman. Padahal, jumlah mereka sangatlah berbeda dan memiliki hukum adat yang berbeda-beda.

Salah satu tradisi yang terkenal di Suku Dayak adalah memanjangkan kuping. Tradisi ini ada terutama di Kalimantan Timur dan dipercaya sebagai simbol kecantikan.

Mereka biasanya menggunakan logam sebagai pemberat di ujung telinga. Untuk perempuan hanya boleh panjang sebatas dada dan untuk laki-laki hanya boleh sebatas bahu.

Seni lukis tubuh atau biasa dikenal sebagai sebutan tato juga merupakan kebiasaan orang Dayak.

Baca Juga: Luar Biasa! Warga Satu Desa di Karawang Kompak Dukung Vera Febyanthy

Menurut mereka, tato adalah simbol kekuatan, serta perjalanan kehidupan dan spiritualitas.

Pewarnaan dan teknik pelukisan tato ini semuanya menggunakan bahan alami. Setiap goresan tato untuk laki-laki maupun perempuan memiliki makna tersendiri.

Misalnya, untuk laki-laki ada gambar bunga terong yang bermakna kedewasaan. Kemudian untuk perempuan misalnya tato Tedak Kassa di kaki atau tanganlah yang menggambarkan kedewasaan.

Baca Juga: Berkunjung ke Kota Gunung Sitoli, Dessy Hassanudin Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian Kesehatan Turunkan Stunting

Salah satu kesenian berupa alat musik yang berkembang di suku ini adalah alat musik Sape.

Alat musik ini mengeluarkan bunyi sendu yang disertai suasana mistis dan gagah. Pewarnaan dan teknik pelukisan tato ini semuanya menggunakan bahan alami. ***