POJOKSATU.id - Syekh Abdurrauf Al Singkili adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya.

Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala yang dalam bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala.

Pada masa jayanya, Kesultanan Aceh Darussalam menghasilkan banyak alim ulama besar. Salah seorang di antaranya adalah Syekh Abdur Rauf as-Singkili.

Sang fakih hidup antara tahun 1035-1105 Hijriah atau sekitar 1615-1693 Masehi. Dialah penerjemah Alquran pertama ke dalam bahasa Melayu melalui karyanya, Tarjuman al-Mustafid.

Baca Juga: Berlatar View Gunung Pangrango dan Salak, Lokasi Glamping All In One Ini Jadi Hidden Gem Termewah di Bogor

Namanya juga dikenang sebagai seorang sastrawan dan sufi. Seperti tampak dari gelarnya, Syekh Abdur Rauf lahir di Singkil, yang kini merupakan sebuah kecamatan di Aceh bagian selatan. Nama lengkapnya adalah Abdur Rauf bin ‘Ali al-Jawi al-Fansuri as-Singkili.

Sepanjang yang diketahui, ayahanda Abdur Rauf bernama Syekh Ali, seorang ulama Arab. Sementara itu, ibundanya adalah seorang perempuan lokal dari Desa Fansur Barus.

Pada saat Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Kesultanan ini melindungi perkembangan pemikiran Islam yang cenderung heterodoks.

Pada 1642, Abdur Rauf berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji sekaligus meneruskan pengembaraan intelektualnya. Salah seorang gurunya bernama Abdul Qadir al-Mawrir.

Baca Juga: MASIH ADA WAKTU! Cara Ajukan RESET Perencanaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah di PMM Meski Sudah Disetujui

Selanjutnya, dia pergi ke Yaman untuk menimba ilmu di dua lembaga pendidikan terpenting saat itu, Bait al-Faqih dan Zabid.

Usai berhaji, di kota suci itu dia berguru pada Badruddin al-Lahuri, Abdullah al-Lahuri, dan Ali bin Abdul Qadir ath-Thabari. Tempat selanjutnya adalah Madinah.

Di sini, dia menimba ilmu dari Ibrahim al-Kurani dan Ahmad al-Qusyasyi, yang darinya Abdur Rauf memeroleh gelar khalifa tarekat Syatariyah dan Qadiriyah. Gelar tersebut semacam pengakuan tanda selesai pelajarannya.

Baca Juga: BINUS Masuk, Ini Top 20 Peringkat Perguruan Tinggi Swasta di ASEAN Versi AppliedHE

Di Haramain, puncak kariernya adalah sebagai guru yang membimbing banyak murid dari beragam bangsa. Periode ini juga dimanfaatkannya untuk menulis kitab-kitab.

Seiring dengan reputasinya yang kian menanjak, jumlah murid-muridnya kian bertambah. Di antara mereka banyak berasal dari Nusantara.

Kira-kira 19 tahun lamanya mubaligh tersebut mengajar di Tanah Suci. Pada 1661, dia memutuskan kembali ke Aceh untuk ikut mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam.

Baca Juga: Ratusan Warga Pandeglang Bersama Projo Akan Menangkan Prabowo-Gibran Satu Putaran

Syekh Abdur Rauf terbilang istimewa karena mendalami baik ilmu syariah maupun tarekat. Lantaran taraf keilmuannya yang tinggi, kalangan istana Aceh menetapkannya sebagai mufti kesultanan. Pada masa itu, Aceh mengalami masa keemasan.

Penguasa Aceh mendukung penuh dakwah dan perkembangan peradaban Islam. Pada tahun 1884/1885, buku tersebut diketahui pernah terbit dalam edisi dua jilid di Istanbul, Turki.

Karya-karyanya yang lain juga menjadi bacaan penting bagi alim ulama dan sultan-sultan Melayu. Di samping itu, mubaligh kelahiran Singkil ini juga kerap menggunakan sastra sebagai medium penyebaran gagasan-gagasan sufistik.

Baca Juga: Momen Haru Prabowo Peluk dan Beri Bantuan Bebek untuk Pengusaha Telur Asin Asal Subang

Sebuah syair yang terkenal sebagai karyanya adalah Syair Ma’rifat yang salinan atasnya ditulis di Bukittinggi pada tahun 1859.

Syekh Abdur Rauf memiliki banyak murid sekembalinya dari Tanah Suci. Seperti dituturkan Ustaz Abdul Somad, ulama besar Aceh ini merupakan rujukan penting para mubaligh yang merintis dakwah ke berbagai daerah.

Hal ini agaknya sejalan dengan sifat strategis Aceh sebagai poros peradaban Islam di Nusantara.

Baca Juga: Rini Soemarno Suarakan Prabowo Presiden 2024, Ajak Anggota MDS Coop Ikut Mendukung

Pada waktu itu, jelas Liaw Yock Fang, Aceh merupakan tempat persinggahan para calon jamaah haji asal Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain.

Saat tinggal di Aceh, tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri untuk menimba ilmu-ilmu agama kepada ulama setempat.

Pada 1105 Hijriah atau 1693 Masehi, Syekh Abdur Rauf menghembuskan nafas terakhir. Jasadnya dimakamkan di dekat muara sungai Aceh.

Dalam bahasa setempat, daerah tersebut dinamakan sebagai kuala.

Baca Juga: Datang dari Keluarga Koperasi, Prabowo : Sarana Bantu Rakyat yang Membutuhkan

Lantaran itu, sosok yang tutup usia pada 73 tahun ini secara anumerta digelari Tengku Syiah Kuala. Nama itu kelak diabadikan menjadi perguruan tinggi tertua di Aceh, Universitas Syiah Kuala. ***