POJOKSATU.id — Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional dengan mengangkat nama Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Namun, seiring waktu, muncul argumentasi lain yang menggugah pertanyaan, apakah sejarah pendidikan kita memang dimulai dari Ki Hadjar, atau justru lebih dulu dirintis oleh seorang tokoh asing bernama Hendrik Willem Daendels?
Antara Nasionalisme dan Realitas Sejarah
Ki Hadjar Dewantara tak bisa dipisahkan dari perjuangan pendidikan berbasis nasionalisme.
Melalui Taman Siswa, ia memperjuangkan pendidikan yang membangkitkan harga diri bangsa.
Namun, beberapa pemerhati sejarah menemukan adanya catatan pendidikan formal untuk rakyat jelata yang justru telah dimulai jauh sebelum Ki Hadjar berjuang.
Pada awal abad ke-19, Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, membawa gagasan besar tentang pendidikan untuk rakyat kecil.
Sebuah langkah radikal pada 1810 dilakukan Daendels di Cirebon. Ia konon mendirikan Sekolah Ronggeng, sekolah rakyat pertama yang mengajarkan membaca, menulis, dan keterampilan hidup berbasis budaya lokal.
Daendels bukan sekadar gubernur dengan ambisi militer. Ia seorang pemikir rasionalis, dipengaruhi ajaran René Descartes yang menekankan pentingnya akal dan pendidikan sebagai hak semua manusia, bukan hanya kaum bangsawan.
Menggagas Pendidikan Modern di Tanah Kolonial
Melalui kebijakan-kebijakan progresif, Daendels mendirikan lebih banyak sekolah rakyat di pesisir utara Jawa.
Ia bahkan memulai pendidikan kesehatan dengan mendirikan sekolah bidan pertama di Batavia tahun 1811. Tujuannya sederhana, memperbaiki taraf hidup rakyat melalui ilmu pengetahuan.
Sayangnya, upaya Daendels tidak berumur panjang.
Ketika Inggris menguasai Hindia Belanda lewat Raffles, prioritas pendidikan rakyat memudar.
Fokus beralih ke studi-studi ilmiah elit, seperti pengetahuan botani dan zoologi yang dilakukan hanya untuk kepentingan kolonial.
Lahirnya Sistem Pendidikan Nasional Modern
Gagasan pendidikan rakyat baru bangkit lagi saat Van Heutz menjadi Gubernur Jenderal.
Ia memperkenalkan sekolah desa sederhana yang tersebar di kampung-kampung.
Pendidikan itu kemudian dipertegas pada masa Van Limburg Stirum dan Idenburg sekitar tahun 1918 dengan membangun semacam kurikulum nasional berbasis modernisasi.
Itu sebabnya, jika dirunut, kurikulum nasional kita hingga saat ini — dari struktur pelajaran hingga pembagian jenjang pendidikan — masih banyak mewarisi pola pikir pendidikan masa Hindia Belanda, ketimbang spirit pendidikan kultural yang kuat ala Taman Siswa.
Sejarah mencatat, keduanya, Daendels dan Ki Hadjar, berpengaruh penting dalam pendidikan dan perubahan — walau dengan arah perjuangan yang berbeda.
Meski begitu, Ki Hajar Dewantara tetaplah sosok yang membangkitkan kesadaran nasional melalui pendidikan dan berhak disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Sejarah memang seringkali berbicara dalam warna abu-abu, bukan hitam putih. ***

