POJOKSATU.id - Kehidupan ekonomi pada masa Orde Baru bermula dan berakhir dengan masa krisis.
Ada beberapa kebijakan perekonomian negara yang diterapkan rezim Soeharto, seperti Repelita, Trilogi Pembangunan, hingga 8 Jalur Pemerataan Ekonomi.
Selain itu, Orde Baru juga membuat program jangka pendek dan jangka panjang dengan harapan memulihkan krisis ekonomi yang terjadi di awal pemerintahan.
Baca Juga: Ciptakan Peluang Bisnis Rumahan, Kowarteg Ganjar Latih Emak-Emak Cara Pembuatan Sabun Cuci Piring
Masa berkuasanya Soeharto sebenarnya diawali dengan warisan krisis ekonomi dari era Presiden Soekarno.
Terlepas dari berbagai dinamika yang terjadi, pemerintahan Orde Baru mampu keluar dari krisis dan menjalani kehidupan yang relatif stabil.
Namun, rezim Soeharto pada akhirnya justru ambruk dan tamat juga gara-gara krisis ekonomi pada 1998.
Indonesia mengalami krisis ekonomi dalam perjalanan dekade 1950-an di bawah pemerintahan Orde Lama pimpinan Presiden Soekarno.
Baca Juga: Belum Genap Setahun Menjabat, Kinerja Kapolres AKBP Arman Muis Diapresiasi Tinggi Masyarakat
Pemerintahan Sukarno kala itu menerapkan sistem ekonomi terpimpin yang merupakan turunan dari Demokrasi Terpimpin, yang juga dianut negara-negara Blok Timur, macam Uni Soviet atau Cina.
Pada masa-masa itu Presiden Soekarno menolak mentah-mentah bantuan dari Amerika Serikat. Bahkan, atas perintahnya, Indonesia menarik diri dari keanggotaan IMF dan Bank Dunia.
Di tengah situasi itu, potensi ekonomi Indonesia terkuas untuk membiayai proyek-proyek politik pemerintah. Anggaran belanja negara lebih besar dari pendapatan negara.
Baca Juga: Ketakutan Merajalela di Dunia Software Engineering, Tren AI dan Ketidakpastian Karier di Industri IT
Gendutnya anggaran lebih banyak dipakai untuk mendanai proyek mercusuar yang sarat kepentingan politis.
Beberapa megaproyek yang digencarkan kala itu di antaranya adalah pengajuan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962 serta pembangunan Monumen Nasional (Monas), Stadion Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, dan sebagainya.
Situasi politik dan ekonomi negara semakin parah dengan terjadinya Gerakan 30 September (G30S) 1965.
Baca Juga: Proses Pengajuan CASN, Segini Formasi Lowongan PPPK dan CPNS Bekasi 2024
Peristiwa berdarah inilah yang menjadi awal dari akhir rezim Soekarno yang kemudian diambil-alih oleh Soeharto sejak 1966.
Sejak Soeharto berhasil mengendalikan kekuasaan tertinggi dan rezim Orde Baru mulai terbentuk, yang menjadi misi utamanya adalah memulihkan ekonomi dan membangun negara lewat program jangka pendek serta jangka panjang.
Program jangka pendek yang dimaksud yakni stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Stabilisasi ekonomi bertujuan untuk menekan inflasi yang pada 1966 mencapai angka 650 persen.
Inflasi ditekan dengan cara menyeimbangkan anggaran belanja negara dan memperbanyak pinjaman luar negeri.
Baca Juga: Sambil Sindir Anwar Usman Besan Jokowi, Sekjen PDIP Terima Pengunduran Diri Maruarar Sirait
Di sisi lain, rehabilitasi ekonomi dilakukan dengan merehabilitasi sarana prasarana dan alat produksi yang rusak secara fisik.
Pemerintahan Soeharto juga melakukan rehabilitasi dengan cara menjamin keamanan investor asing di Indonesia.
Usai stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi dinilai sukses, Orde Baru lantas melaksanakan program jangka panjang sejak 1969.
Baca Juga: Memahami Proses Pindah TPS Pemilu 2024, Cek Syarat, Prosedur, dan Hak Pemilih
Program tersebut dinamai Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), program yang kemudian berjalan sepanjang lima periode.
Repelita I, berada di tahun 1969-1973 yang berfokus pada rehabilitasi prasarana penting sekaligus pengembangan iklim usaha dan investasi.
Repelita II yaitu pada tahun 1974-1979 dan Repelita III pada tahun 1979-1984, berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional, dan pemerataan pembangunan, dengan penekanan pada sektor pertanian dan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.
Baca Juga: Film Saltburn Tampilkan Drama Kekayaan, Obsesi, dan TikTok Worthy, Sinopsis yang Bikin Melongo!
Selanjutnya, Repelita IV pada tahun 1984-1989 dan Repelita V di tahun 1989-1994 yakni mempertahankan capaian sebelumnya dan mulai bergerak pada sektor industri, terkhusus yang menghasilkan barang ekspor, industri yang menyerap tenaga kerja, industri pengolahan hasil pertanian, dan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri.
Kesuksesan Orde Baru dalam membangun ekonomi Indonesia ternyata tidak berjalan mulus.
Pada tahun 1997-1998, kawasan Asia diguncang krisis dan Indonesia termasuk negara yang terdampak.
Di waktu yang sama, pemerintahan Soeharto mendapatkan gelombang perlawanan dari mahasiswa dan rakyat yang menginginkan perubahan di berbagai bidang.
Akhirnya, pada 21 Mei 1998, Soeharto lengser dari kekuasaannya. Orde Baru pun berakhir dan digantikan dengan masa reformasi.
Selain stabilisasi, rehabilitasi ekonomi, dan Repelita, pemerintahan Orde Baru memiliki kebijakan ekonomi yang termaktub dalam Trilogi Pembangunan dan 8 Jalur Pemerataan Ekonomi. ***

