POJOKSATU.id – Sebelum namanya dikenal sebagai salah satu pengawal terdekat Presiden Soekarno, Maulwi Saelan lebih dahulu berdiri di bawah mistar gawang untuk membela Indonesia.

Ia lahir di Makassar pada 8 Agustus 1926 dengan nama Surachman. Ayahnya, Amin Saelan, merupakan pedagang yang kemudian terjun ke pemerintahan.

Dari lingkungan keluarga itulah Maulwi tumbuh dengan semangat dan keberanian yang kelak membentuk perjalanan hidupnya.

Baca Juga: Syarat Dokumen Lengkap untuk Pengurusan Pencabutan Tunjangan Pasangan ASN

Sejak muda, bakat Maulwi sebagai penjaga gawang sudah terlihat. Ia menjadi benteng bagi tim sepak bola sekolahnya, sebelum kemudian memperkuat PSM Makassar, klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Pada era 1950-an, namanya semakin dikenal setelah menjadi bagian dari Tim Nasional Indonesia.

Ia tampil dalam berbagai pertandingan internasional dan berdiri sebagai penjaga terakhir gawang Indonesia ketika menghadapi lawan-lawan tangguh.

Namun perjalanan Maulwi ternyata tidak berhenti di lapangan hijau.

Takdir membawanya mendekat kepada orang yang juga menjadi simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia: Soekarno.

Baca Juga: Saat Menegangkan Jelang 17 Agustus 1945, Dari Kabar Jepang Kalah hingga Proklamasi, Buah Perdebatan Berakhir Begini

Dari Penjaga Gawang Menjadi Pengawal Presiden
Maulwi merupakan salah satu orang yang mengagumi Soekarno. Baginya, Bung Karno bukan sekadar kepala negara, tetapi sosok yang merepresentasikan perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.

Kesempatan untuk mengabdi langsung kepada sang presiden datang pada 1962.

Maulwi ditunjuk menjadi Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan khusus yang bertugas mengawal Presiden Soekarno.

Posisi tersebut menempatkannya sangat dekat dengan pusat kekuasaan. Ia menyaksikan berbagai peristiwa politik dari jarak yang tidak dimiliki banyak orang.

Indonesia saat itu sedang berada dalam situasi yang semakin tegang. Persaingan politik mengeras, hubungan antarkelompok semakin tajam, sementara ancaman terhadap Presiden Soekarno datang dari berbagai arah.

Baca Juga: Lama Dijajah, Indonesia Tidak Berbahasa Belanda, Ini Kisah Bahasa yang Menjadi Benteng Terakhir Kemerdekaan Bangsa

Maulwi tetap berada di sisi presiden. Bagi dirinya, tugas itu adalah amanah. Seperti ketika berdiri di bawah mistar, ia harus menjadi orang yang berada paling belakang ketika bahaya datang.

Malam 30 September 1965
Malam 30 September 1965 mengubah perjalanan sejarah Indonesia.

Ketika gerakan G30S pecah dan Jakarta berada dalam situasi penuh ketidakpastian, Maulwi Saelan berada dalam lingkaran pengamanan Presiden Soekarno.

Sebagai bagian dari Tjakrabirawa, ia berusaha memastikan keselamatan presiden di tengah keadaan yang kacau.

Namun setelah gerakan tersebut ditumpas, kedekatan Maulwi dengan Soekarno justru menjadi persoalan.

Baca Juga: Hanya Destry Damayanti yang Diusulkan Presiden Prabowo Calon Tunggal Gubernur BI Definitif

Sejumlah anggota Tjakrabirawa ditangkap karena dituding terlibat dalam G30S. Salah satunya adalah Maulwi Saelan.

Ia ditangkap, diinterogasi, lalu ditahan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta.

Dalam biografinya, Maulwi mengenang dirinya mungkin dianggap sebagai salah satu tokoh utama sehingga menjadi orang yang lebih dahulu ditahan.

"Mungkin saya dianggap pentolannya barangkali, yang pertama ditahan dulu."

Baca Juga: Kejagung Periksa 16 Saksi Terkait Kasus Korupsi MBG, 10 Diantaranya Ternyata Direktur Perusahaan Swasta

Padahal Maulwi berkali-kali menyangkal keterlibatannya. Berpindah dari Penjara ke Penjara
Penahanan itu ternyata tidak berlangsung singkat.

Dari Budi Utomo, Maulwi dipindahkan ke Penjara Salemba. Kondisi tahanannya sangat berat.

Ia ditempatkan di sebuah sel dengan pintu besi dan ruang gerak yang terbatas. Bahkan untuk buang air, ia harus melakukannya di dalam sel. Kondisi tersebut membuat nafsu makannya menurun.

Setelah dari Salemba, Maulwi kembali dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nirbaya. Di sana ia ditahan bersama sejumlah orang yang juga dituduh terlibat dalam G30S, termasuk Brigjen Sabur dan Kompol Mangil.

Baca Juga: Kebakaran Hanguskan Rumah di Maleer, Wakil Wali Kota Bandung Turun Langsung Bantu Korban

Penahanan itu tidak hanya mengambil kebebasannya. Maulwi juga kehilangan hak-haknya sebagai tentara. Gaji dan tunjangannya tidak lagi diterima, sementara sejumlah barang miliknya disita.

Untungnya, orang tuanya di Makassar masih dapat membantu kehidupan keluarganya.

Hari-hari panjang itu akhirnya berakhir pada pertengahan 1972.

Suatu hari, petugas memerintahkannya keluar dari sel dan naik ke sebuah mobil. Maulwi menurut tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi.

Baru di perjalanan ia mengetahui bahwa dirinya telah dibebaskan.

Baca Juga: Tokoh Sunda Bicara Masa Depan: Ekoregion Sunda Dinilai Bisa Jadi Jalan Menuju Pembangunan yang Lebih Adil

"Ternyata itu hari kebebasan. Sudah begitu aja," kenangnya.

Setelah sekitar lima tahun ditahan sejak 1967, Maulwi akhirnya menghirup udara bebas.

Namun kebebasan itu belum sepenuhnya mengembalikan hidupnya. Ia masih diwajibkan mendatangi kantor CPM untuk memperoleh surat keterangan agar tidak dicap sebagai anggota PKI.

Haknya sebagai tentara, termasuk gaji dan pensiun, juga tidak langsung kembali.

Pertolongan Datang dari Buya Hamka
Di tengah kehidupan yang belum pulih, Maulwi bertemu dengan Buya Hamka.

Pertemuan itu menarik karena keduanya sebenarnya memiliki latar belakang politik yang berbeda.

Hamka pernah berseberangan dengan Soekarno, sementara Maulwi merupakan orang yang sangat dekat dengan sang presiden.

Namun perbedaan politik tidak membuat Hamka menutup pintu.

Baca Juga: Waspada Kejahatan Siber, Kenali 10 Ekstensi File Spam Berbahaya yang Haram Diklik di WhatsApp

Buya Hamka justru memberikan kepercayaan kepada Maulwi untuk membantu mengurus sekolah di Kebayoran Baru.

Kepercayaan itu dijawab Maulwi dengan kerja yang baik. Hubungan keduanya kemudian semakin dekat hingga Hamka mengangkat Maulwi sebagai anak.

Bagi Maulwi, kesempatan tersebut menjadi salah satu titik balik dalam kehidupannya.

Setelah bertahun-tahun hidup dalam tahanan dan menghadapi stigma politik, perlahan kehidupannya kembali normal.

Baca Juga: Kabar Baik TPG, Tunjangan Profesi Guru untuk Guru TK di Bekasi Mulai Cair Lewat Bank BJB

Penjaga Gawang yang Menjadi Saksi Zaman
Maulwi Saelan meninggal dunia pada 10 Oktober 2016 di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

Ia meninggalkan perjalanan hidup yang sulit diringkas hanya sebagai kisah seorang pemain sepak bola.

Ia pernah menjadi penjaga gawang Timnas Indonesia, berdiri di bawah mistar dan menjaga harapan sebuah tim.

Ia kemudian menjadi salah satu penjaga terdekat Presiden Soekarno, berdiri di tengah pusaran politik dan berbagai ancaman yang mengelilingi sang presiden.

Baca Juga: Jembatan Perintis Garuda di Karawang Diresmikan, Pangkas Akses Warga hingga 5 Km

Namun setelah kekuasaan berubah, orang yang pernah bertugas menjaga keselamatan kepala negara itu justru harus menjalani bertahun-tahun kehidupan di balik jeruji.

Kisah Maulwi Saelan memperlihatkan bagaimana sejarah besar sering kali meninggalkan jejak yang sangat pribadi.

Pergantian zaman tidak hanya mengubah pemerintahan dan kekuasaan, tetapi juga dapat mengubah kehidupan orang-orang yang berada di dalamnya.

Maulwi pernah berdiri di bawah mistar sebagai penjaga terakhir Timnas Indonesia. Ia kemudian berdiri sebagai penjaga terakhir Presiden Soekarno. ***