POJOKSATU.id - Di dunia yang menuturkan ratusan bahasa, Portugis menempati posisi istimewa.

Lebih dari 260 juta orang di empat benua kini berbicara bahasa ini: dari Brasil hingga Mozambik, dari Angola hingga Timor-Leste.

Bahkan di Makau—wilayah kecil di pesisir Tiongkok selatan—bahasa Portugis masih menjadi bahasa resmi.

Penunjuk jalan, gedung pemerintahan, hingga dokumen hukum tetap menggunakan bahasa ini, berdampingan dengan Mandarin.

Baca Juga: Nasib OASA, BIPI Cs setelah Presiden Batalkan PSEL di Kota Tangerang dan Tangsel

Makau memang memiliki kisah panjang bersama Portugal. Sejak tahun 1557, Portugis menyewa wilayah itu sebagai pos perdagangan selama 442 tahun.

Baru pada 20 Desember 1999, Makau dikembalikan ke China, namun jejak sejarahnya tetap melekat kuat.

Semua bermula dari semenanjung kecil di barat daya Eropa: Portugal. Lima abad silam, dari sanalah kapal-kapal berlayar menembus samudra luas membawa misi dagang, penjelajahan, dan penyebaran budaya.

Baca Juga: Jejak Panjang Musik Keroncong, Dari Fado Portugis hingga Bengawan Solo

Bahasa Portugis sendiri lahir dari bahasa Latin Romawi dan sempat mendapat pengaruh kuat dari bahasa Arab selama berabad-abad penjajahan Moor.

Pada abad ke-12, seiring berdirinya Kerajaan Portugal, bahasa ini mulai membentuk identitas modernnya.

Menyusuri Jalur Rempah dan Samudra
Abad ke-15 dan ke-16 dikenal sebagai masa “Age of Discovery” atau Zaman Penjelajahan Besar.

Baca Juga: Bikin Siswa Melek Teknologi! Tips Seru Mengajarkan AI di SMA dan SMK

Para pelaut Portugis menjadi pionir penembus dunia baru. Vasco da Gama berhasil menemukan jalur laut menuju India, sementara Pedro Álvares Cabral berlayar ke Amerika Selatan dan memberi nama Brasil pada tanah yang ditemuinya.

Dari sana, bahasa Portugis menyebar ke berbagai penjuru dunia—ke Afrika, Goa, Makau, hingga Timor-Leste.

Elaine Sanceau dalam karyanya Good Hope: The Voyage of Vasco Da Gama (1967) mencatat bahwa pelayaran Vasco da Gama dimulai melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, lalu berlanjut ke Lautan Hindia.

Tahun 1498, rombongannya tiba di Goa, India bagian barat.

Baca Juga: Bikin Siswa Melek Teknologi! Tips Seru Mengajarkan AI di SMA dan SMK

Setelah itu, Alfonso de Albuquerque meneruskan misi besar ini. Armada di bawah komandonya mencapai Malaka, pusat perdagangan di Asia Tenggara.

Dari sana, ekspedisi Antonio de Abreu berlayar lebih jauh hingga sampai ke Kepulauan Maluku—sumber rempah-rempah paling berharga—pada tahun 1512.

Rute penjelajahan bangsa Portugis ke Indonesia pun jelas: dari Pelabuhan Lisbon menuju Tanjung Harapan (Afrika Selatan), lanjut ke India (Kalkuta), Malaka, hingga akhirnya tiba di Maluku.

Baca Juga: Tips Tetap Modis dengan Memilih Outfit yang Tepat Sesuai dengan Bentuk Tubuh

Jalur ini menghubungkan benua Eropa dengan Asia Tenggara, menjadikan Nusantara bagian penting dari peta besar perdagangan dunia kala itu.

Mata Biru di Lamno
Sejarah tidak hanya meninggalkan catatan di kertas, tetapi juga jejak dalam wajah manusia.

Di pesisir utara Aceh, tepatnya di Lamno, Aceh Jaya, terdapat komunitas yang disebut masyarakat “mata biru”.

Mereka memiliki ciri fisik berbeda—mata terang, rambut pirang, dan hidung mancung—yang dipercaya sebagai keturunan pelaut Portugis yang karam atau tertawan di perairan Aceh berabad-abad silam.

Baca Juga: Kinerja Stabil di Kuartal Ketiga, Indosat Ooredoo Hutchison Terus Dorong Inovasi dan Daya Saing di Tengah Tantangan Makro

Selain di Aceh, jejak keturunan Portugis juga terlihat di Kampung Tugu (Jakarta Utara), Maluku, Flores, dan Timor.

Mereka bukan sekadar pewaris darah, tetapi juga budaya: musik, bahasa, hingga tradisi Katolik yang masih dijaga di beberapa daerah.

Warisan yang Hidup
Tujuan utama bangsa Portugis berlayar jauh ke timur sebenarnya sederhana: rempah-rempah.

Di Eropa, rempah menjadi komoditas mahal, digunakan untuk obat, parfum, dan pengawet makanan—kebutuhan penting di musim dingin.

Baca Juga: Wali Kota Tangsel Pembayaran Gaji ASN Ditunda Dua Bulan Demi Stabilitas Anggaran

Namun, seiring waktu, misi dagang itu berubah menjadi ambisi kekuasaan.

Ketika Alfonso de Albuquerque merebut Malaka pada 1511, Portugis memonopoli jalur perdagangan rempah di Asia Tenggara.

Mereka menguasai pelabuhan penting di Selat Malaka, jalur laut utama yang menghubungkan Nusantara dengan dunia luar.

Tidak heran bila Kesultanan Demak dari Jawa merasa terancam dan mengirim armada laut untuk menentang Portugis pada 1512 di bawah pimpinan Pati Unus.

Baca Juga: Rahasia Branding Profesional di LinkedIn yang Bikin Profilmu Stand Out

Sayangnya, serangan itu gagal karena Portugis memiliki senjata dan teknologi yang lebih canggih.

Kekuatan militer dan teknologi inilah yang membuat Portugis mampu menaklukkan banyak wilayah dan memperluas kekuasaan di Nusantara.

Namun, seiring berjalannya waktu, kehadiran mereka juga meninggalkan pengaruh budaya yang tak terhapuskan—mulai dari bahasa, arsitektur, hingga musik dan makanan.

Dari Kolonialisme ke Diplomasi Bahasa
Kini, setelah berabad-abad berlalu, bahasa Portugis kembali mendapat tempat baru di Indonesia.

Baca Juga: Warga Cipeucang Krisis Air Bersih, Terpaksa Beli 4 Galon Setiap Hari

Dalam kunjungan kenegaraan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva ke Jakarta pada 23 Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto menegaskan rencana besar: bahasa Portugis akan diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia.

Kebijakan ini menjadikan Portugis sebagai bahasa asing kedua setelah Inggris.

Tujuannya bukan sekadar menambah pilihan bahasa, tetapi membuka jendela baru diplomasi dan kerja sama global—baik dalam bidang ekonomi, budaya, maupun ilmu pengetahuan—dengan negara-negara berbahasa Portugis (lusofon) seperti Brasil, Portugal, Angola, dan Timor-Leste.

Baca Juga: Upaya Pencegahan Kematian Ibu dan Bayi di Kota Bogor

Menyebrangi Samudra Waktu
Dari Lisbon hingga Lamno, dari abad ke-16 hingga ruang kelas modern, bahasa Portugis terus berlayar melintasi samudra waktu.

Ia tidak lagi hanya bahasa penakluk, tetapi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara sejarah dan harapan.

Bahasa yang dahulu datang bersama kapal dagang kini hidup kembali dalam semangat pendidikan dan kerja sama lintas budaya.

Baca Juga: Rahasia Memulai Usaha Sampingan Tanpa Ganggu Pekerjaan Utama, Bisa Cuan di Waktu Luang!

Dari ruang kerajaan ke ruang kelas, dari koloni ke kolaborasi, Portugis menegaskan satu hal: bahasa bisa menjadi warisan, kekuatan, dan penyambung dunia.***