POJOKSATU.id - Masjid Raya Singkawang merupakan salah satu masjid tertua di Provinsi Kalimantan Barat yang berada di Kota Singkawang.

Keberadaan masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Islam, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Muslim di kota tersebut.

Masjid ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan masyarakat Singkawang sejak masa kolonial.

Baca Juga: Perumda Tirta Patriot Gandeng Kejari Kota Bekasi untuk Pendampingan Hukum

Awal Pendirian Masjid Raya Singkawang
Sejarah masjid ini bermula pada tahun 1870 ketika seorang pedagang bernama Kapitan Abdul Razak Kadirsa Sahib Maricar datang ke Singkawang.

Ia merupakan pendatang dari Distrik Karikal, Calcutta, India yang datang untuk berdagang permata atau marjan.

Selama beberapa tahun menjalankan usahanya, Abdul Razak akhirnya diangkat oleh pemerintah Belanda sebagai Kapitan di Singkawang pada tahun 1875.

Baca Juga: Masjid Babul Hasanah, Masjid Tertua di Kayong Utara yang Berdiri Sejak 1947

Selain berdagang, ia juga mengembangkan usaha perkebunan kelapa dan gambir serta beternak sapi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan ransum tentara Belanda yang dikenal sebagai Nederlands Indies Leger.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1885, Kapitan Abdul Razak membangun sebuah masjid di kawasan Pasar Baru Singkawang.

Masjid tersebut menjadi tempat ibadah bagi umat Islam yang saat itu jumlahnya terus bertambah.

Baca Juga: Guru yang SKTP Belum Terbit Sejak Januari Kini Mulai Muncul di Info GTK, Ternyata Ada Percepatan Validasi TPG, Ini Penjelasan Lengkapnya

Bangunan masjid pada masa awal masih berukuran kecil dan belum memiliki menara. Masjid ini didirikan di atas tanah milik Abdul Razak yang berbentuk segitiga.

Menariknya, tidak jauh dari lokasi masjid tersebut juga berdiri sebuah pekong atau kelenteng yang menjadi tempat ibadah etnis Tionghoa.

Kelenteng tersebut didirikan oleh seorang kapitan dari komunitas Tionghoa.

Kedua tempat ibadah itu berdiri berdampingan dan menjadi simbol keharmonisan masyarakat Singkawang sejak masa lalu.

Baca Juga: Guru yang SKTP Belum Terbit Sejak Januari Kini Mulai Muncul di Info GTK, Ternyata Ada Percepatan Validasi TPG, Ini Penjelasan Lengkapnya

Meski berasal dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda, masyarakat tetap hidup rukun tanpa konflik.

Kebakaran Besar yang Menghancurkan Bangunan
Pada sekitar tahun 1927, kebakaran besar melanda kawasan tersebut dan menghancurkan banyak bangunan, termasuk Masjid Raya Singkawang dan pekong yang berada di dekatnya.

Peristiwa tersebut menyebabkan aktivitas ekonomi masyarakat sempat terganggu. Warga membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkan kembali kondisi kehidupan mereka.

Baca Juga: DAM Gelar Iftar Berdaya Bersama Anak Yatim, Pererat Kebersamaan di Bulan Ramadhan

Sementara itu, pendiri Masjid Raya Singkawang, Kapitan Abdul Razak Kadirsa Sahib Maricar, telah lebih dahulu meninggal dunia pada tahun 1914 sehingga tidak sempat menyaksikan pembangunan kembali masjid tersebut.

Setelah kepergiannya, kepemimpinan komunitas dilanjutkan oleh keponakannya, Cartiker Bawarsah Marican. Ia kemudian digantikan oleh Kanda SM Maiden yang memimpin hingga tahun 1949.

Pembangunan Kembali Masjid Raya
Sekitar tahun 1936 atau hampir satu dekade setelah kebakaran besar, Masjid Raya Singkawang akhirnya dibangun kembali di lokasi yang sama seperti sebelumnya.

Baca Juga: Guru PAI Non ASN Tanpa NUPTK Berisiko Tidak Masuk Daftar Insentif 2026, Ini Cara Mengurusnya Agar Hak Tunjangan Tidak Terlewat

Sementara itu, bangunan kelenteng yang sebelumnya berdiri di dekat masjid dipindahkan ke lokasi lain.

Dalam proses pembangunan kembali masjid, keluarga Kapitan Bawarsah Marican turut memberikan kontribusi besar. Anak pertamanya, H Ahmad, menyumbangkan lahan tambahan untuk memperluas area masjid.

Kemudian anak keduanya, BM Hanifah Marican, turut menyumbangkan pembangunan satu menara masjid yang dikerjakan pada tahun 1953 dengan bantuan tenaga Jenawi Tahir.

Baca Juga: Viral Truk Sampah Miring di Tengah Jalan Kendari, DLHK Pastikan Kendaraan Dalam Perjalanan ke Bengkel

Sementara itu, anak ketiga Kapitan Bawarsah Marican, BM Khalid Marican, juga menyumbangkan sebagian lahannya untuk memperluas kawasan masjid.

Meski mengalami perluasan, bentuk lahan masjid tetap mempertahankan bentuk segitiga seperti semula.

Seiring bertambahnya jemaah, bangunan masjid kemudian diperbesar melalui beberapa tahap rehabilitasi.

Perluasan pertama dilakukan pada tahun 1973, kemudian dilanjutkan lagi pada tahun 1978.

Baca Juga: SPPG Ditutup pada Maret 2026, Total 1.512 Dihentikan di Pulau Jawa, Ini Alasan dan Rinciannya

Renovasi besar kembali dilakukan pada tahun 2007 untuk memperbaiki dan memperindah bangunan masjid hingga menjadi seperti sekarang.

Simbol Toleransi Beragama
Salah satu keunikan Masjid Raya Singkawang adalah letaknya yang berdekatan dengan Kelenteng Tri Darma Bumi Raya.

Kedua tempat ibadah ini menjadi simbol nyata toleransi beragama di Kota Singkawang.

Baca Juga: Polisi Tangkap Pasutri Pelaku Pencurian Rumah Kosong di Karawang

Sejak dahulu, masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan agama dapat hidup berdampingan secara damai.

Pemerintah Kota Singkawang bahkan pernah berencana menjadikan Masjid Raya ini sebagai salah satu penanda kota karena nilai sejarah dan simbol kerukunan yang dimilikinya.

Hingga kini, Masjid Raya Singkawang tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah umat Islam, tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah kota yang menggambarkan kehidupan masyarakat yang penuh toleransi dan kebersamaan.***