POJOKSATU.id - Masjid Raya Sabilal Muhtadin merupakan salah satu masjid bersejarah yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman No.1, Kelurahan Antasan Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Masjid ini dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan pada 9 Februari 1981. 

Nama Sabilal Muhtadin diambil dari kitab karya ulama besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, berjudul Sabilal Muhtadin lit-Tafaqquh fi Amrid-din. 

Kitab fikih bermazhab Syafi’i tersebut menjadi salah satu rujukan penting bagi para ulama di Nusantara.

Masjid megah ini berdiri di atas bekas tanah asrama tentara di Pulau Tatas. 

Pada masa kolonial Belanda, wilayah tersebut dikenal sebagai Fort Van Tatas atau Benteng Tatas, yang dulunya berfungsi sebagai benteng pertahanan sekaligus pusat aktivitas militer.

Pulau Tatas sendiri merupakan wilayah delta yang berada di lokasi strategis. 

Pada masa lalu, kawasan ini menjadi titik pertemuan jalur perdagangan yang menghubungkan wilayah Kesultanan Banjar di Kuin dengan daerah Martapura dan Hulu Sungai. 

Armada dagang dari berbagai bangsa seperti Belanda, Portugis, Inggris, Tiongkok, Melayu, Bugis, hingga Jawa sering berlabuh di kawasan ini untuk melakukan perdagangan lada.

Gagasan pembangunan masjid raya di Banjarmasin bermula dari kesepakatan sejumlah tokoh dan ulama, di antaranya Brigjen H Hasan Basry, H Maksid, M Yusi, serta para ulama setempat. 

Mereka menginginkan sebuah masjid besar yang dapat menjadi pusat kegiatan Islam di Banjarmasin.

Awalnya, lokasi masjid direncanakan berada di area bekas Hotel Banjar. 

Namun setelah melalui berbagai pertimbangan dan masukan dari Pangdam X Lambung Mangkurat saat itu, Amir Machmud, serta Gubernur Kalimantan Selatan Aberani Sulaiman, akhirnya diputuskan bahwa masjid akan dibangun di Pulau Tatas yang berada di pusat kota.

Lahan yang tersedia di kawasan tersebut mencapai sekitar 100 ribu meter persegi dan saat itu masih digunakan sebagai asrama militer. 

Setelah lokasi dipastikan dengan bantuan para ahli dari Institut Teknologi Bandung, peletakan batu pertama dilakukan pada tahun 1964 oleh Aberani Sulaiman dan Amir Machmud.

Namun pembangunan sempat tertunda akibat kondisi ekonomi, politik, dan keamanan yang belum stabil pasca peristiwa Gerakan 30 September. 

Proyek pembangunan baru kembali dilanjutkan pada 10 November 1974 ketika Gubernur Kalimantan Selatan saat itu, Soebardjo, meresmikan pemancangan tiang pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan kembali masjid tersebut.

Sebelum pembangunan dimulai, Kantor Wilayah Departemen Agama juga membentuk tim khusus untuk menentukan arah kiblat pada 8 Agustus 1974. 

Tim tersebut terdiri dari KH M Hanafie Gobit, KH Abdullah Busthani, Drs Mas’ud Djuhrie, serta M Arsyad Suban.

Pada 31 Oktober 1979 atau bertepatan dengan 10 Zulhijah 1399 Hijriah, Salat Iduladha pertama kali dilaksanakan di masjid ini meskipun pembangunannya belum sepenuhnya selesai. 

Hal tersebut menandakan bahwa masjid sudah dapat digunakan oleh masyarakat untuk beribadah.

Setelah melalui proses pembangunan selama kurang lebih tujuh tahun, Masjid Raya Sabilal Muhtadin akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Februari 1981.

Secara arsitektur, masjid ini memiliki luas bangunan sekitar 5.250 meter persegi dan mampu menampung hingga 15.000 jemaah. 

Sekitar 7.500 jemaah dapat berada di dalam ruang utama, sementara sisanya dapat menempati area halaman masjid.

Bangunan masjid dikelilingi empat menara setinggi 21 meter serta satu menara utama setinggi 45 meter. 

Lantai bangunan menggunakan batu pualam, sementara area tempat wudu menggunakan porselen dan bagian plaza menggunakan keramik.

Interior masjid juga dihiasi berbagai ornamen kaligrafi yang diukir pada bahan tembaga berwarna gelap. 

Kaligrafi tersebut memuat ayat-ayat Al-Qur’an, Asmaulhusna, lafaz Allah, serta lafaz Nabi Muhammad dan para sahabatnya dengan berbagai gaya tulisan seperti Naskhi, Diwani, Riqah, Tsulus, dan Kufik.

Selain itu, terdapat 17 lampu hias besar yang tersusun melingkar di ruang utama dengan diameter sekitar 9 meter. 

Ribuan bola kaca pada lampu tersebut memberikan kesan megah dan indah pada interior masjid.

Pada tahun 2009, masjid ini sempat menjalani renovasi yang diprakarsai oleh Gubernur Kalimantan Selatan saat itu, Rudy Ariffin, dengan anggaran sekitar 37 miliar rupiah. 

Renovasi dilakukan untuk memperbaiki berbagai bagian bangunan yang mulai mengalami penurunan kualitas akibat usia.

Meski dilakukan perbaikan, renovasi tersebut tidak mengubah bentuk asli bangunan masjid sehingga tetap mempertahankan karakter arsitektur awalnya.

Kini, kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin tidak hanya menjadi tempat Salat berjamaah, tetapi juga pusat berbagai aktivitas keagamaan dan sosial. 

Di kompleks masjid terdapat kantor Badan Pengelola Masjid, Majelis Ulama Indonesia Kalimantan Selatan, Badan Amil Zakat Nasional, hingga Badan Wakaf Indonesia wilayah Kalsel.

Masjid ini juga dilengkapi fasilitas perpustakaan, Islamic Center, taman, serta aula yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat.

Selain itu, Masjid Raya Sabilal Muhtadin juga memiliki media dakwah melalui Radio Dakwah Sabilal Muhtadin di frekuensi 88,5 FM serta kanal YouTube Syiar Majelis Sabilal Muhtadin.

Sebagai salah satu masjid terbesar dan paling bersejarah di Kalimantan Selatan, Masjid Raya Sabilal Muhtadin tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, dakwah, dan kegiatan umat Islam. 

Keberadaannya menjadi simbol kuat perkembangan Islam sekaligus kebanggaan masyarakat Banjarmasin hingga saat ini.***