POJOKSATU.id - Masjid Nurul Huda merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Masjid yang berada di Kampung Sungai Jawi, Kecamatan Matan Hilir Selatan ini telah berdiri sejak tahun 1932 dan menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di daerah tersebut.
Pada awalnya, masjid ini dikenal dengan nama Masjid Kuning. Seiring berjalannya waktu, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Masjid Nurul Huda yang hingga kini masih berdiri kokoh di Desa Sungai Jawi.
Keberadaan masjid ini tidak terlepas dari kondisi masyarakat pada masa lalu yang harus menempuh perjalanan jauh untuk menunaikan Salat Jumat.
Baca Juga: Efektif! Pilih 5 Hero Fighter Anti-Dash Ini untuk Lawan Fanny
Saat itu, satu-satunya masjid tempat pelaksanaan Salat Jumat berada di Kampung Kaum yang kini dikenal sebagai Kelurahan Kauman, yakni Masjid Jamik Kerajaan Matan.
Bagi masyarakat Kampung Sungai Jawi, perjalanan menuju masjid tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama karena keterbatasan transportasi.
Bahkan sejak pagi hari mereka sudah harus meninggalkan kampung dengan membawa bekal agar dapat mengikuti Salat Jumat.
Kondisi tersebut akhirnya memunculkan gagasan dari seorang tokoh masyarakat bernama Haji Muhammad Saleh agar didirikan masjid di Kampung Sungai Jawi.
Baca Juga: Anggaran MBG Rp 335 Triliun Digugat ke MK, Penggugat Nilai Tata Kelola Semakin Tidak Terkontrol
Usulan tersebut kemudian disepakati masyarakat, namun harus terlebih dahulu mendapat izin dari Raja Matan saat itu, Panembahan Gusti Muhammad Saunan.
Masyarakat kemudian menunjuk Uti Haji Dulmukti sebagai perwakilan untuk menyampaikan permohonan tersebut.
Dulmukti yang bergelar Pangeran Sepuh dikenal sebagai tokoh agama sekaligus guru di Sungai Jawi.
Dengan keberanian dan tanggung jawabnya, Dulmukti menghadap Panembahan Saunan di Istana Mulia Kerta yang berada di wilayah Kelurahan Mulia Kerta saat ini.
Baca Juga: Bolehkah Makan dan Minum di Masjid Saat Iktikaf? Ini Penjelasan Hukum dan Adabnya
Sebagai bentuk penghormatan kepada panembahan, masyarakat Sungai Jawi mempersembahkan sebuah mustika atau buntat berukuran sebesar telur bebek.
Benda tersebut sangat dihargai oleh panembahan hingga ditempatkan dalam sebuah jambangan indah di istana.
Namun dalam perjalanan sejarah, mustika tersebut diduga termasuk dalam harta yang dirampas oleh Jepang ketika masa penjajahan sehingga kini tidak lagi ditemukan di Istana Mulia Kerta.
Permohonan masyarakat Sungai Jawi akhirnya dikabulkan oleh Panembahan Saunan.
Baca Juga: Dianggap Tak Layak, SMAN 2 Pamekasan Tolak Ribuan MBG
Meski demikian, panembahan memberikan beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh masyarakat.
Salah satu syaratnya adalah masjid yang dibangun tidak digunakan untuk pelaksanaan akad nikah.
Prosesi pernikahan tetap harus dilaksanakan di Masjid Jamik Kerajaan Matan di Kampung Kaum.
Selain itu, panembahan juga meminta agar lokasi masjid dibangun dengan jarak sekitar 25 meter dari jalan raya.
Permintaan tersebut ternyata sangat visioner karena perkembangan pembangunan di kemudian hari membuat jalan semakin melebar.
Setelah izin diberikan, masyarakat Sungai Jawi segera bergotong royong membangun masjid yang mereka impikan.
Pada tahun 1932, masjid tersebut akhirnya berdiri dan menjadi pusat ibadah masyarakat setempat.
Usman bin Husin kemudian dipercaya sebagai imam pertama yang memimpin kegiatan keagamaan di masjid tersebut.
Baca Juga: Viral Dagangan Sawo Tak Laku Seharian, Pedagang Ini Menangis Saat Didatangi KDM
Empat tahun setelah berdiri, tepatnya sekitar tahun 1936, lokasi masjid dipindahkan ke tempat yang sekarang.
Pemindahan ini dilakukan karena perubahan jalur jalan lama yang sebelumnya sudah dipindahkan terlebih dahulu.
Bangunan lama masjid tersebut kini tidak lagi menyisakan jejak. Namun Masjid Nurul Huda yang berdiri di lokasi baru tetap kokoh hingga sekarang dan mudah terlihat oleh siapa saja yang melintas di jalan raya Desa Sungai Jawi.
Masjid Nurul Huda bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol perjuangan masyarakat Sungai Jawi dalam menghadirkan kemudahan beribadah bagi generasi mereka.
Dari semangat gotong royong dan keberanian menyampaikan aspirasi kepada raja, lahirlah masjid bersejarah yang hingga kini tetap menjadi pusat kehidupan religius masyarakat setempat.***

