POJOKSATU.id - Masjid Kiai Gede merupakan salah satu masjid bersejarah di Kalimantan Tengah yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam di wilayah Kotawaringin.
Masjid ini berada di Desa Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Keberadaan masjid ini tidak dapat dipisahkan dari sosok seorang ulama asal Pulau Jawa yang dikenal dengan nama Kiai Gede.
Ia merupakan tokoh penting yang berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kalimantan, khususnya di daerah Kotawaringin.
Masjid Kiai Gede dibangun pada masa pemerintahan Raja Kerajaan Kotawaringin, Dipati Antakesuma.
Letaknya berada di bagian tenggara alun-alun kota dan memiliki halaman seluas sekitar 900 meter persegi yang dikelilingi pagar kayu setinggi sekitar 1,25 meter.
Bangunan masjid berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 15,5 x 15,5 meter dan memiliki bentuk menyerupai rumah joglo khas Jawa.
Struktur bangunannya dibuat seperti rumah panggung dengan ketinggian sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah.
Lantai dan dinding masjid seluruhnya menggunakan kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama.
Untuk memasuki ruang utama, jamaah harus menaiki tangga kayu yang terletak di sisi bangunan.
Di dalam bangunan terdapat 36 tiang penyangga yang memiliki tiga bentuk berbeda.
Tiang-tiang tersebut berfungsi sebagai penopang utama struktur bangunan yang telah berdiri selama ratusan tahun.
Tidak jauh dari masjid, sekitar 200 meter dari bangunan utama, terdapat makam Kiai Gede yang berada di tengah permukiman masyarakat Kotawaringin Lama.
Lokasinya berada sekitar 100 meter di sebelah kiri Astana Alnursari.
Di kompleks makam tersebut terdapat bangunan kecil yang digunakan sebagai kantor pengurus makam atau juru kunci.
Nisan makam Kiai Gede sendiri memiliki ukuran cukup panjang, sekitar lima meter.
Seperti masjid kuno pada umumnya, Masjid Kiai Gede dilengkapi dengan mihrab, mimbar, dan bedug sebagai perlengkapan utama kegiatan ibadah.
Dari segi arsitektur, masjid ini memiliki perpaduan gaya bangunan yang unik.
Ciri arsitektur Jawa terlihat pada bentuk atap tumpang dengan model limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki.
Sementara itu, pengaruh arsitektur lokal Kalimantan terlihat dari penggunaan kayu ulin serta bentuk bangunan panggung yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.
Unsur arsitektur Tiongkok juga dapat ditemukan pada cara peletakan bedug yang digantung di serambi masjid.
Perpaduan berbagai gaya tersebut membuat Masjid Kiai Gede memiliki karakter yang khas dibandingkan masjid lainnya di Kalimantan.
Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1632 Masehi atau tahun 1052 Hijriah.
Pembangunannya berkaitan dengan peran Kiai Gede yang diutus oleh Kesultanan Demak untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kalimantan.
Kedatangan Kiai Gede mendapat sambutan baik dari Sultan Mustain Billah, penguasa Kesultanan Banjarmasin saat itu.
Ia kemudian ditugaskan untuk menyebarkan Islam sekaligus merintis wilayah pemerintahan baru di Kotawaringin.
Berkat jasanya yang besar dalam membangun wilayah tersebut, Kiai Gede kemudian diangkat sebagai Adipati di Kotawaringin dengan gelar Adipati Gede Ing Kotawaringin dan pangkat Patih Hamengkubumi.
Selain gelar kehormatan tersebut, Sultan juga menghadiahkan sebuah masjid yang kemudian dikenal sebagai Masjid Kiai Gede.
Masjid ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat.
Bersama sekitar 40 pengikutnya, Kiai Gede membuka wilayah Kotawaringin yang sebelumnya masih berupa hutan belantara dan membangunnya menjadi kawasan permukiman yang berkembang.
Seiring berjalannya waktu, wilayah Kotawaringin pun tumbuh menjadi salah satu daerah penting di Kalimantan.
Perkembangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran besar Kiai Gede dan para pengikutnya pada masa awal pembentukan wilayah tersebut.
Kini, meskipun usianya telah mencapai ratusan tahun, Masjid Kiai Gede masih berdiri kokoh dan terus dirawat oleh masyarakat setempat.
Bangunan ini bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya.
Masjid Kiai Gede menjadi saksi bisu perjalanan panjang dakwah Islam di Kalimantan.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini menyimpan jejak sejarah perjuangan seorang ulama dan masyarakat yang bersama-sama membangun peradaban di tanah Kotawaringin.***

