POJOKSATU.id - Masjid Jami Banjarmasin atau yang lebih dikenal dengan Masjid Jami Sungai Jingah merupakan salah satu masjid bersejarah di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

Masjid ini berada di Jalan Masjid Jami, Kelurahan Antasan Kecil Timur, Kecamatan Banjarmasin Utara.

Letaknya cukup strategis karena berada dekat dengan sejumlah lokasi penting. Di bagian timur masjid terdapat Kompleks Makam Pangeran Antasari yang berada di kawasan Jalan Malkon Temon. 

Sementara di bagian barat masjid terdapat makam ulama karismatik K.H. Ahmad Zuhdiannor atau yang akrab disapa Guru Zuhdi.

Kedekatan dengan dua tokoh penting tersebut membuat kawasan masjid kerap dipenuhi peziarah. 

Halaman masjid bahkan sering digunakan sebagai tempat parkir oleh para pengunjung yang datang untuk berziarah maupun mengikuti kegiatan keagamaan.

Sejarah Awal Berdirinya Masjid

Masjid Jami yang berdiri saat ini sebenarnya dibangun pada tahun 1352 Hijriah atau sekitar 1934 Masehi. Namun sejarahnya jauh lebih lama dari itu.

Menurut catatan sejarah, masjid ini merupakan pemindahan dari masjid sebelumnya yang berada di tepi Sungai Martapura. 

Masjid lama tersebut dibangun pada Sabtu, 17 Syawal 1195 Hijriah atau sekitar tahun 1777 hingga 1780 Masehi pada masa pemerintahan Pangeran Tamjidillah.

Bukti sejarah tersebut tercatat dalam sebuah prasasti yang berada di samping mimbar masjid dan ditulis menggunakan huruf Arab Melayu. 

Saat ini, lokasi masjid lama tersebut menjadi sebuah musala bernama Langgar Sinar Masjid.

Dipindahkan Karena Ancaman Longsor

Lokasi masjid yang berada di tepi Sungai Martapura membuat kawasan tersebut rawan longsor. 

Selain itu, bangunan masjid lama juga tidak lagi mampu menampung jumlah jamaah yang terus bertambah.

Karena alasan tersebut, pada tahun 1932 masjid dipindahkan ke lokasi yang sekarang, sekitar 200 meter dari tepi Sungai Martapura.

Proses pembangunan masjid baru dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Banjar. 

Bahkan pada masa itu pemerintah kolonial Belanda sempat menawarkan bantuan dari hasil pajak yang dipungut dari masyarakat.

Namun tawaran tersebut ditolak oleh warga Banjarmasin. Masyarakat saat itu tidak ingin masjid dibangun menggunakan dana dari pemerintahan kolonial. 

Akhirnya pembangunan dilakukan melalui gotong royong dengan sumbangan harta, tenaga, hingga waktu dari masyarakat.

Banyak warga yang menyumbangkan perhiasan emas, hasil pertanian, bahkan tanah. 

Material untuk meninggikan pondasi masjid juga diambil dari Pulau Kembang berupa tanah dan pasir.

Perancangan konstruksi masjid juga melibatkan Ir. Pangeran Muhammad Noor. 

Setelah melalui proses panjang, pembangunan Masjid Jami Banjarmasin akhirnya selesai pada tahun 1934.

Renovasi Tanpa Menghilangkan Nilai Sejarah

Seiring waktu, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi besar. Beberapa bagian lama seperti menara pagoda, tangga melingkar pada tiang utama, pagar serambi, serta penunjuk matahari di halaman selatan akhirnya dihilangkan.

Lantai, dinding, dan beberapa tiang juga dilapisi keramik. Meski mengalami perubahan, bentuk dasar serta arsitektur asli masjid tetap dipertahankan sehingga nilai historisnya tetap terjaga.

Renovasi besar pertama dilakukan pada masa Gubernur Kalimantan Selatan Drs H. Gusti Hasan Aman sekitar periode 1995 hingga 2000 dengan pelapisan dinding menggunakan kayu jati.

Renovasi berikutnya dilakukan pada masa Gubernur Sjahriel Darham sekitar tahun 2000 hingga 2005 dengan pengecoran lantai serta pemasangan keramik pada penopang dinding.

Kemudian pada masa Gubernur H. Rudy Ariffin dilakukan pembangunan menara masjid serta perbaikan interior. 

Halaman masjid juga diperluas sehingga mampu menampung sekitar 15 ribu jamaah saat pelaksanaan Salat Id maupun pengajian besar.

Arsitektur Unik Penuh Makna

Masjid Jami Sungai Jingah memiliki perpaduan arsitektur Timur Tengah, Banjar, dan kolonial. Salah satu ciri khasnya adalah keberadaan 17 tiang utama atau tiang guru yang menjadi penyangga bangunan.

Jumlah tiang tersebut melambangkan 17 rakaat dalam Salat fardhu sehari semalam. Selain itu, masjid ini memiliki 41 pintu masuk yang memudahkan jamaah menuju ruang utama.

Ruang induk masjid mampu menampung sekitar 5.000 orang. Bangunannya juga memiliki atap sirap bertumpang lima dengan kubah di bagian puncak.

Mihrab masjid berada di bagian barat ruang utama dan dilengkapi empat pintu serta sepuluh jendela. 

Di bagian mihrab terdapat mimbar kayu ulin bersejarah berbentuk panggung dengan tujuh anak tangga yang menjadi saksi pembangunan masjid sejak awal.

Pusat Kegiatan Keagamaan

Masjid Jami Sungai Jingah juga menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat. Berbagai kegiatan rutin digelar di tempat ini, mulai dari pengajian, kajian keislaman, hingga kegiatan pendidikan.

Masjid ini pernah dibina oleh K.H. Muhammad Hanafie Gobit yang semasa hidupnya rutin mengisi pengajian setiap Jumat malam dan Senin malam. Tradisi pengajian tersebut kemudian dilanjutkan oleh sejumlah ulama.

Salah satu pengajian yang sangat dikenal adalah pengajian yang dahulu diisi oleh Guru Zuhdi setiap Sabtu malam. Ribuan jamaah dari berbagai daerah bahkan luar negeri kerap menghadiri kegiatan tersebut.

Selain itu, masjid juga rutin mengadakan pengajian Selasa malam, pengajian Kamis siang, malam ibadah setiap malam Jumat, pengajian Subuh Jumat, hingga pengajian khusus ibu-ibu setiap Jumat pagi.

Di lingkungan masjid juga terdapat berbagai fasilitas pendidikan seperti Taman Kanak-Kanak, Taman Pendidikan Al-Qur'an, Pondok Pesantren Hunafa, hingga kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Jami yang berdiri sejak 1989.

Masjid Jami Sungai Jingah bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi saksi perjalanan sejarah, semangat gotong royong masyarakat Banjar, sekaligus pusat kehidupan spiritual yang terus hidup dari generasi ke generasi. 

Di tempat inilah nilai kebersamaan dan keimanan terasa begitu kuat, seakan mengingatkan bahwa warisan sejarah akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup di hati umat.***