POJOKSATU.id - Masjid Jami Sungai Banar merupakan salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan yang berada di tepi Sungai Negara. 

Lokasinya sekitar tiga kilometer dari Kota Amuntai, tepatnya di Desa Jarang Kuantan, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Masjid ini memiliki sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan perkembangan Islam di wilayah Banjar, tetapi juga menyimpan berbagai kisah unik yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Berdiri Sejak Awal Abad ke-19

Masjid Jami Sungai Banar pertama kali didirikan pada tahun 1218 Hijriah atau sekitar 1804 Masehi. 

Bukti tahun pendiriannya masih dapat dilihat dari pahatan yang terdapat pada bedug masjid yang hingga kini masih digunakan.

Menurut cerita masyarakat, pembangunan masjid ini bermula ketika beberapa warga Amuntai menuntut ilmu kepada Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di Martapura. 

Ulama besar tersebut kemudian menyarankan agar masyarakat Amuntai membangun sebuah masjid di wilayah mereka karena pada masa itu belum ada masjid sama sekali.

Saran tersebut langsung disambut antusias oleh masyarakat. Mereka kemudian bergotong royong mempersiapkan berbagai bahan bangunan seperti batu, kayu, dan sirap untuk mendirikan masjid.

Awalnya lokasi pembangunan masjid dipilih sekitar 500 meter dari lokasi masjid yang sekarang.

Kisah Tiang Masjid yang Hilang

Menjelang proses pemasangan tiang utama masjid atau yang dikenal dengan istilah batajak tiang dalam bahasa Banjar, masyarakat dikejutkan dengan peristiwa yang dianggap aneh.

Beberapa tiang besar dari kayu ulin yang sebelumnya sudah disiapkan tiba-tiba hilang dari tempat pembuatannya. 

Padahal bobot setiap tiang mencapai beberapa ton dan untuk memindahkannya membutuhkan puluhan orang.

Setelah dilakukan pencarian, tiang-tiang tersebut justru ditemukan di tepi sungai pada lokasi yang sekarang menjadi tempat berdirinya masjid.

Peristiwa tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan karena tidak ada yang mengetahui siapa yang memindahkan tiang-tiang tersebut. 

Masyarakat akhirnya menganggap kejadian itu sebagai isyarat gaib bahwa masjid seharusnya dibangun di tempat tiang-tiang itu ditemukan.

Akhirnya pembangunan masjid dipindahkan ke lokasi tersebut dan beberapa tiangnya hingga kini masih dianggap memiliki nilai keramat oleh sebagian masyarakat.

Asal Usul Nama Sungai Banar

Setelah masjid selesai dibangun, masyarakat sempat bermusyawarah untuk menentukan nama masjid tersebut. Namun pertemuan itu belum menghasilkan keputusan.

Pada suatu waktu, sebuah perahu datang merapat di tepi sungai dekat masjid. Seorang penumpang yang tampak seperti pedagang turun dari perahu dan meminta izin untuk melaksanakan Salat.

Setelah selesai beribadah, pria tersebut kembali melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian masyarakat menemukan sebuah kantong berisi uang tertinggal di tepi sungai dekat perahu tadi bersandar.

Beberapa hari kemudian pria tersebut kembali datang. Masyarakat pun mengembalikan kantong uang miliknya dan menjamunya dengan penuh penghormatan.

Saat itulah pria misterius tersebut berkata, "Urang-urang sini banar-banar kadada nang culasnya (orang-orang di sini semuanya jujur, tidak ada yang culas atau curang)".

Ia kemudian bertanya tentang nama sungai dan masjid yang baru dibangun tersebut. 

Ketika masyarakat menjawab belum ada nama, pria itu tersenyum dan berkata, "Bagaimana kalau sungai itu diberi nama Sungai Banar dan masjidnya diberi nama Masigit Sungai Banar?"

Usulan itu langsung disambut takbir oleh masyarakat. Sejak saat itulah sungai dan masjid tersebut dikenal dengan nama Sungai Banar.

Nama Masjid yang Tak Pernah Berubah

Seiring berjalannya waktu, sempat ada upaya untuk mengganti nama masjid ini. Pada tahun 1990 misalnya, nama masjid pernah diubah menjadi Masjid Baiturrahman.

Kemudian pada tahun 2000 muncul nama lain yaitu Masjid Istiqomah yang tercantum dalam dokumen resmi. Namun masyarakat tetap lebih mengenalnya sebagai Masjid Sungai Banar.

Akhirnya nama tersebut dipertahankan dan ditambah menjadi Masjid Jami Sungai Banar sebagai penegasan bahwa masjid ini merupakan salah satu masjid besar dan bersejarah di daerah tersebut.

Pusat Dakwah dan Perjuangan

Sejak dulu Masjid Jami Sungai Banar menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Amuntai dan sekitarnya. Banyak orang datang untuk belajar ilmu agama di tempat ini.

Masjid ini juga pernah menjadi tempat berkumpul para pejuang kemerdekaan untuk menyusun strategi melawan penjajah Belanda. 

Dalam cerita masyarakat bahkan dikenal adanya kelompok yang dijuluki Pasukan Gaib.

Kelompok tersebut dipimpin oleh Mat’ali bersama wakilnya Itar dan sekitar 70 orang anggota. Mereka dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam menghadapi pasukan penjajah.

Dalam salah satu kisah yang terkenal, pasukan ini berhasil menyerang markas Belanda tanpa menimbulkan korban di pihak mereka. 

Kisah tersebut hingga kini masih menjadi cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Tiang Perdamaian yang Dikeramatkan

Masjid Jami Sungai Banar juga dikenal sebagai tempat yang sering digunakan untuk menyelesaikan pertikaian antar kelompok pada masa lalu.

Menurut cerita yang berkembang, pihak-pihak yang berselisih biasanya datang ke masjid ini untuk melakukan perjanjian damai di dekat salah satu tiang masjid.

Karena itulah hingga kini ada sebagian masyarakat yang menganggap salah satu tiang tersebut sebagai tiang perdamaian yang memiliki nilai sakral.

Ramai Diziarahi dari Berbagai Daerah

Masjid Jami Sungai Banar kini juga menjadi tujuan ziarah dari berbagai daerah. Bahkan ada pengunjung yang datang dari luar Kalimantan hingga negara tetangga.

Sebagian peziarah datang untuk beribadah atau melakukan tirakat dengan berbagai harapan, mulai dari memohon kemudahan rezeki, jodoh, hingga keinginan menunaikan ibadah haji.

Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya yang penting di Kalimantan Selatan.

Masjid Jami Sungai Banar bukan sekadar bangunan tua yang berdiri di tepi sungai. 

Ia adalah saksi perjalanan sejarah, tempat lahirnya nilai kebersamaan, serta ruang spiritual yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat Banjar. 

Dari generasi ke generasi, kisahnya terus diceritakan, menjaga agar warisan iman dan sejarah itu tidak pernah hilang ditelan waktu.***