POJOKSATU.id - Jika biasanya masjid identik dengan kubah besar dan menara tinggi berwarna netral, Masjid Cheng Hoo di Pandaan, Pasuruan, justru tampil berbeda.

Terletak dekat Terminal Pandaan, bangunan ini memikat perhatian karena warna merah mencolok dan ornamen khas budaya Tionghoa yang kental.

Nuansa merah, aksen naga, lampion, serta ukiran khas Tionghoa menjadi simbol akulturasi budaya yang harmonis.

Perpaduan budaya China dan Islam terlihat begitu menyatu tanpa menghilangkan identitas sebagai rumah ibadah umat Muslim.

Baca Juga: Heboh! Video Tyas Viral, LPDP Langsung Telusuri Dugaan Suami 3 Tahun Tak Pulang

Lokasi Strategis dan Ramai Pengunjung

Bukan hanya sebagai tempat ibadah, Masjid Cheng Hoo juga kerap menjadi lokasi transit para peziarah maupun pelancong.

Letaknya yang strategis, fasilitas memadai, serta suasana yang khas membuat masjid ini selalu ramai pengunjung dari berbagai daerah.

Area parkir yang luas kerap dipenuhi bus, mobil, hingga sepeda motor.

Bahkan banyak pengunjung yang sengaja datang hanya untuk melihat langsung keunikan arsitekturnya.

Baca Juga: Ramadan Makin Bermakna, 8 Film Pendidikan Inspiratif untuk Ngabuburit yang Penuh Hikmah

Jejak Sejarah Laksamana Cheng Hoo

Nama Cheng Hoo diambil dari sosok Laksamana Cheng Hoo atau Zheng He, seorang pelaut Muslim asal Tiongkok yang memiliki peran besar dalam sejarah pelayaran Asia.

Ia diketahui mengunjungi berbagai wilayah di Asia dan Afrika, termasuk Majapahit di Jawa, Palembang, hingga Samudera Pasai di Aceh.

Muslim Ma Huan, pembantu dekatnya, pernah mengisahkan bahwa mereka bertemu Muslim Tionghoa yang telah menetap di Jawa sejak awal abad ke-15.

Ini menandakan bahwa jejak Muslim Tionghoa di Indonesia sudah sangat panjang.

Baca Juga: Respons Keluhan Konsumen, Pertamina Regional JBB Buka Kembali Penyaluran Pertalite di Parung Panjang

Pada tahun 1961, Buya Haji Hamka pernah menulis,

“Seorang Muslim dari China yang amat erat kaitannya dengan kemajuan dan perkembangan agama Islam di Indonesia dan Melayu adalah Laksamana Cheng Hoo (Zheng He)”.

Untuk mengenang perjalanan bersejarah tersebut, umat Muslim di Surabaya membangun Masjid Laksamana Cheng Hoo di pusat kota.

Menyusul hal itu, pada 2004 Masjid Cheng Hoo Pandaan dibangun oleh Bupati Pasuruan Jusbakir Al-Jufri dengan berkonsultasi kepada komunitas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), lalu diresmikan pada 27 Januari 2008.

Arsitektur Pagoda dan Konsep Akulturasi

Masjid Cheng Hoo Pandaan terinspirasi desain kelenteng dengan atap bertingkat menyerupai pagoda.

Baca Juga: Menteri HAM Natalius Pigai Pasang Badan, Sebut Siapa Tolak MBG, Bisa Bertentangan dengan HAM

Namun tetap mempertahankan elemen Islam yang kuat. Warna merah mendominasi bangunan, dilengkapi warna hijau pada genteng dan kuning keemasan pada ukiran dinding serta tulisan nama masjid.

Saat malam hari, lampion-lampion yang menyala semakin mempertegas nuansa budaya Tionghoa.

Perpaduan budaya Arab, China, dan Jawa terlihat jelas, menjadikannya simbol toleransi antarumat beragama di Pasuruan.

Di bagian belakang masjid, terdapat puluhan UMKM yang menjual makanan dan oleh-oleh.

Pengunjung bisa berkuliner sambil menunggu waktu salat tiba. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau.

Masjid Cheng Hoo Pandaan bukan sekadar bangunan ibadah. Ia menjadi bukti bahwa Islam hadir dengan wajah damai dan mampu berdampingan dengan budaya lokal.

Baca Juga: IKN Mesir

Di tengah perbedaan warna dan ornamen, masjid ini justru mengajarkan satu hal penting: toleransi dan keimanan bisa berjalan seiring, indah, dan saling menguatkan. ***