POJOKSATU.id - Masjid Babul Chair menjadi salah satu masjid bersejarah yang berdiri di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Masjid ini terletak di Kelurahan Tengah, Kecamatan Delta Pawan, tepat di kawasan pusat aktivitas masyarakat Kota Ketapang.

Bangunan masjid ini berada di Jalan MT Haryono yang dahulu dikenal sebagai Jalan Darussalam.

Lokasinya yang berada di tengah kota membuat masjid ini sangat dikenal oleh masyarakat setempat.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Zulhas Pastikan Stok Pangan Indonesia Aman Jelang Ramadan dan Lebaran

Sejarah berdirinya Masjid Babul Chair bermula dari kebutuhan umat Islam di kawasan Matan Hilir Utara pada masa lalu.

Saat itu masyarakat yang ingin melaksanakan Salat Jumat harus menyeberang menuju Masjid Jamik di Kampung Kaum yang kini berada di Kelurahan Kauman.

Perjalanan menuju masjid tersebut tentu tidak selalu mudah bagi masyarakat yang tinggal di wilayah seberang kota lama Kerajaan Matan.

Karena itu, para tokoh agama dan masyarakat mulai menggagas pembangunan masjid baru yang lebih dekat dengan pemukiman mereka.

Baca Juga: Sejarah Universitas Negeri Papua: Berawal dari Fakultas Pertanian UNCEN hingga Menjadi UNIPA

Beberapa tokoh yang dikenal berperan penting dalam gagasan pembangunan masjid ini antara lain H. Hasan Zulkifli, H. Abdussamad, Asri, Asri Yatim, serta Sabran.

Mereka kemudian mengusulkan pembangunan masjid di lokasi yang kini ditempati Masjid Babul Chair.

Sebelum berdirinya masjid ini, sebenarnya sudah ada sebuah surau kecil yang digunakan masyarakat untuk beribadah.

Surau tersebut berada tidak jauh dari lokasi masjid saat ini, tepatnya di sekitar kawasan pemotongan sapi.

Baca Juga: Waspada Penipuan Digital Menjelang Libur Lebaran Merajalela

Usulan pembangunan masjid akhirnya mendapat persetujuan pada tahun 1948.

Pada masa itu pemerintahan di wilayah Kerajaan Matan berada di bawah Majelis Pemerintahan Kerajaan Matan.

Majelis tersebut dipimpin oleh tiga tokoh bangsawan, yakni Uti Halil yang bergelar Pangeran Mangku Negara, Uti Aplah bergelar Pangeran Adipati, serta Uti Kencana yang bergelar Pangeran Anom Laksamana.

Setelah mendapatkan izin, pembangunan masjid pun dimulai secara bertahap pada tahun 1948.

Baca Juga: Tips Menjaga Kesehatan Setelah Puasa dan Saat Lebaran

Saat itu kondisi Jalan Darussalam masih berupa jalan tanah yang diperkeras menggunakan kulit ale-ale.

Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat setempat.

Proses pengerjaannya memakan waktu beberapa tahun hingga akhirnya selesai pada tahun 1953.

Setelah rampung, masjid tersebut mulai digunakan secara resmi untuk pelaksanaan Salat Jumat pada tahun yang sama. H. Hasan Zulkifli kemudian ditunjuk sebagai imam pertama di Masjid Babul Chair.

Baca Juga: Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda, Masjid Tertua di Kota Tepian yang Berdiri Sejak 1881

Sejak saat itu, masyarakat di kawasan utara Kota Ketapang tidak perlu lagi menyeberang ke Kampung Kaum hanya untuk melaksanakan Salat Jumat.

Masjid ini pun menjadi pusat kegiatan ibadah bagi warga di wilayah Delta Pawan, Muara Pawan, dan Matan Hilir Utara.

Beberapa bagian bangunan masjid memang telah mengalami perubahan seiring waktu.

Namun terdapat beberapa bagian yang masih mempertahankan bentuk aslinya, seperti empat tiang penyangga utama di bagian tengah bangunan.

Baca Juga: THR P3K Paruh Waktu Kabupaten Bandung Segera Cair, Bupati Dadang Siapkan Anggaran Rp12 Miliar

Kubah masjid juga disebut masih merupakan kubah asli meskipun posisinya telah sedikit ditinggikan agar ruang dalam masjid terasa lebih luas.

Hingga kini Masjid Babul Chair tetap berdiri kokoh di tengah Kota Ketapang.

Keberadaannya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah masyarakat Muslim di daerah tersebut.

Di tengah hiruk pikuk aktivitas masyarakat dan pusat perekonomian Kota Ketapang, masjid ini terus menghadirkan suasana teduh bagi para jamaah yang datang untuk beribadah.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa sejarah dan nilai spiritual selalu berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat.***