POJOKSATU.id - Masjid Al-Aqsa merupakan kompleks suci seluas sekira 144.000 meter persegi yang berada di Kota Lama Yerusalem, Palestina.

Tempat ini bukan sekadar bangunan masjid, melainkan kawasan yang menaungi sejumlah situs penting dan menjadi titik sakral bagi tiga agama besar: Islam, Yahudi, dan Kristen.

Dalam tradisi Islam, Masjid Al-Aqsa dikenal sebagai masjid terjauh yang disebut dalam Surah Al-Isra ayat 1, terkait peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.

Dari tempat inilah Rasulullah diyakini diangkat menuju Sidratulmuntaha setelah sebelumnya diberangkatkan dari Masjidil Haram di Makkah.

Baca Juga: Menelusuri Hukum Bermaaf-maafan Jelang Ramadan, Wajib atau Sekadar Tradisi?

Selain itu, Al-Aqsa juga menjadi kiblat pertama umat Islam selama sekitar 14–17 bulan setelah hijrah ke Madinah, sebelum kemudian dialihkan ke Ka’bah.

Namun, kompleks ini kerap disalahpahami. Banyak orang menyamakan Masjid Al-Aqsa dengan bangunan berkubah biru di sisi selatan.

Padahal, bangunan tersebut adalah Jami' Al-Aqsa atau Masjid Al-Qibli, salah satu bagian dari keseluruhan kawasan.

Sementara bangunan berkubah emas yang ikonik di tengah kompleks adalah Kubah Shakhrah, yang dibangun pada 692 M pada masa Dinasti Umayah dan menjadi salah satu bangunan Islam tertua di dunia.

Baca Juga: Mengatur Keuangan Keluarga Agar Tidak Jebol Saat Bulan Puasa Ramadhan

Jejak Sejarah dari Bait Suci hingga Kekhalifahan

Bagi umat Yahudi, kawasan ini dikenal sebagai Bukit Bait Suci atau Har HaBayit, yang diyakini sebagai lokasi berdirinya Bait Suci pertama yang dibangun Nabi Sulaiman sekitar 957 SM dan dihancurkan Babilonia pada 586 SM.

Bait Suci kedua kemudian dibangun kembali dan dihancurkan Romawi pada 70 M.

Dalam tradisi Kristen, lokasi ini juga memiliki nilai historis karena terkait peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus.

Meski demikian, pusat ibadah Kristen di Yerusalem kemudian beralih ke Gereja Makam Kudus.

Ketika umat Islam mengambil alih Yerusalem pada 638 M di masa Khalifah Umar bin Khattab, kawasan ini ditemukan dalam kondisi tidak terawat.

Baca Juga: Dua Sekolah Kedinasan Baru 2026 Resmi Disiapkan! Peluang Lulus Jadi CPNS Makin Terbuka Lebar

Umar kemudian memerintahkan pembersihan dan mendirikan tempat salat sederhana di bagian selatan kompleks.

Pada masa Umayah, pembangunan besar-besaran dilakukan, termasuk pendirian Kubah Shakhrah dan pengembangan Jami’ Al-Aqsa.

Masa Perang Salib dan Kembalinya Kepemimpinan Islam

Pada 1099, Perang Salib Pertama membawa Yerusalem ke tangan pasukan Kristen.

Jami’ Al-Aqsa diubah menjadi istana kerajaan bernama Templum Solomonis, sementara Kubah Shakhrah dijadikan gereja bernama Templum Domini.

Kompleks ini kembali ke tangan umat Islam pada 1187 setelah kemenangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Sejak itu, kawasan Al-Aqsa dikelola sebagai wakaf Islam hingga pendudukan Israel atas Yerusalem Timur pada 1967.

Status kawasan ini kemudian menjadi salah satu isu paling sensitif karena zionis Israel ingin menguasai.

Baca Juga: Dua Sekolah Kedinasan Baru 2026 Resmi Disiapkan! Peluang Lulus Jadi CPNS Makin Terbuka Lebar

Israel mengklaim kedaulatan atas Yerusalem, sementara pengelolaan harian kompleks tetap berada di bawah lembaga wakaf Islam Yordania.

Nilai Penting bagi Tiga Agama

Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa adalah tempat suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Hadis riwayat Imam Muslim menyebutkan keutamaan tiga masjid yang dianjurkan untuk diziarahi: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa.

Bagi Yahudi, kawasan ini diyakini sebagai tempat paling suci karena menjadi lokasi Batu Fondasi (Even ha-Shtiyya) dan bekas Bait Suci.

Sementara bagi Kristen, tempat ini terkait erat dengan sejarah kenabian dan narasi Perjanjian Lama serta Baru.

Baca Juga: Urutan Surat untuk Salat Tarawih dan Witir 23 Rakaat Lengkap dengan Bacaan Latin dan Artinya

Kompleks dengan Banyak Situs Bersejarah

Selain Jami’ Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah, kompleks ini juga mencakup Musala Al-Marwani, Kubah Mikraj, Kubah Silsilah, Museum Islam, berbagai gerbang bersejarah, hingga Tembok Barat yang dikenal luas sebagai Tembok Ratapan oleh umat Yahudi.

Keseluruhan kawasan mampu menampung hingga 400.000 jemaah, menjadikannya salah satu kompleks keagamaan terbesar di dunia.

Masjid Al-Aqsa bukan hanya bangunan fisik, melainkan simpul sejarah, iman, dan identitas bagi jutaan manusia lintas generasi.

Di tengah dinamika politik dan konflik yang terus bergulir, kawasan ini tetap menjadi simbol harapan akan kedamaian, bahwa tanah suci seharusnya menjadi ruang pertemuan spiritual, bukan perpecahan. ***