POJOKSATU.id - Masjid Agung Al Karomah berdiri megah di Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Masjid ini merupakan yang terbesar di provinsi tersebut dan menjadi tempat penting karena lokasinya strategis di Jalan Ahmad Yani, jalur nasional penghubung Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur menuju Banjarmasin.
Sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Banjar, Martapura menjadi saksi kepemimpinan 12 sultan.
Pada masa itu, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah, integrasi umat Islam, hingga benteng pertahanan rakyat dalam melawan penjajahan Belanda.
Sejarah mencatat, setelah pembakaran Kampung Pasayangan dan Masjid Martapura oleh Belanda, muncul tekad masyarakat untuk membangun masjid yang lebih besar dan kokoh.
Pembangunan dimulai pada tahun 1280 Hijriyah atau 1863 Masehi.
Baca Juga: Juknis Tunjangan Profesi Guru Madrasah 2026 Terbit, Atur Syarat hingga Mekanisme Pembayaran Digital
Masjid ini awalnya bernama Masjid Jami’ Martapura. Pembangunannya diprakarsai oleh HM Nasir, HM Taher (Datu Kaya), dan HM Apip (Datu Landak), dengan dukungan Raden Tumenggung Kesuma Yuda serta Mufti HM Noor.
Untuk mencari kayu ulin sebagai tiang guru (saka guru), Datuk Landak bersama rombongan menuju Barito, Kalimantan Tengah.
Kayu ulin dipilih karena kekuatan dan ketahanannya yang dikenal sebagai “kayu besi” khas Kalimantan.
Tepat 10 Rajab 1315 H atau 5 Desember 1897 M, pembangunan Masjid Jami’ resmi dimulai.
Struktur utamanya menggunakan kayu ulin, dengan atap sirap serta dinding dan lantai papan kayu ulin.
Meski telah beberapa kali direnovasi, empat tiang guru utama tetap dipertahankan sebagai warisan sejarah.
Baca Juga: Empat Pelabuhan di Banten Siap Layani Mudik Lebaran 1447 H, 81 Kapal Dikerahkan ke Sumatera
Momentum penting terjadi pada malam Senin 12 Rabiul Awal 1415 H saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, ketika Masjid Jami’ Martapura diresmikan menjadi Masjid Agung Al Karomah.
Saat pertama berdiri di era Kerajaan Banjar, ukurannya 37,5 x 37,5 meter. Kini, bangunan utamanya mencapai 85 x 85 meter, dengan total area termasuk halaman dan pelataran sekitar 210 x 110 meter.
Renovasi besar terakhir rampung pada Juni 2008 dan dikerjakan oleh PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk.
Masjid kini menggunakan konstruksi beton dengan rangka atap baja nirkarat berstruktur space frame serta kubah berlapis enamel yang menampilkan gaya arsitektur Timur Tengah berpadu ornamen khas Belanda.
Jejak Arsitektur Masjid Demak
Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Al Karomah mengadopsi konsep Masjid Agung Demak yang dibangun oleh Sunan Kalijaga.
Miniatur masjid tersebut dibawa oleh utusan Desa Dalam Pagar dan dijadikan acuan pembangunan.
Baca Juga: Mudik Gratis BUMN 2026, BNI Masih Buka Pendaftaran hingga 9 Maret, Berangkat 17 Maret, Ini Rutenya
Konsep empat tiang guru yang melingkupi ruang utama (cella) tetap dipertahankan.
Dalam kosmologi arsitektur tradisional, ruang cella yang dikelilingi tiang guru dianggap lebih sakral dan menjadi pusat spiritual bangunan.
Empat tiang ulin setinggi sekitar 12 meter itu dahulu ditarik beramai-ramai menggunakan tali (seradang) oleh Datuk Landak dan masyarakat sebagai simbol gotong royong.
Mimbar masjid yang telah berusia lebih dari satu abad masih digunakan hingga kini.
Mimbar tersebut diarsiteki H.M Musyafa dengan ukiran untaian kembang serta bentuk panggung bertangga yang memperlihatkan kekayaan seni ukir Banjar.
Meski wajahnya kini modern dengan kubah besar menggantikan atap kerucut bertumpang khas Banjar, struktur lama tetap dipertahankan di bagian dalam.
Bahkan, tradisi masyarakat Banjar seperti menaruh kembang di tempat yang dianggap keramat masih dapat ditemui sebagai bagian dari kearifan lokal.
Masjid Agung Al Karomah bukan sekadar bangunan megah di jalur Trans Kalimantan.
Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah, perjuangan, dan kebudayaan masyarakat Banjar.
Empat tiang ulin yang tetap berdiri kokoh di tengah beton modern menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak pernah menghapus akar tradisi dan nilai spiritual yang diwariskan leluhur.***

