POJOKSATU.id — Istilah londo ireng belakangan kembali menjadi perbincangan publik setelah muncul dalam berbagai diskusi politik dan sosial.

Banyak orang menggunakannya sebagai sindiran atau julukan, tetapi tidak sedikit yang belum mengetahui asal-usul maupun makna sebenarnya dari istilah tersebut.

Padahal, secara historis, londo ireng memiliki latar belakang yang berkaitan erat dengan masa kolonial Belanda di Indonesia.

Baca Juga: Kemdiktisaintek Buka Beasiswa BPDDI 2026, Simak Fasilitas, Persyaratan, dan Tahapan Seleksinya

Maknanya pun mengalami perubahan seiring perjalanan sejarah hingga akhirnya digunakan dalam konteks yang berbeda pada masa sekarang.

Lantas, apa itu londo ireng dan bagaimana sejarah penyebutannya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Istilah londo ireng berasal dari bahasa Jawa.

Kata londo merujuk pada orang Belanda atau bangsa Eropa yang datang ke Nusantara pada masa kolonial, sedangkan ireng berarti hitam.

Baca Juga: Beasiswa BANPIN Kabupaten Bekasi 2026 Resmi Dibuka, Kuliah S1 Gratis untuk 100 Pemuda Berprestasi

Jika diterjemahkan secara harfiah, londo ireng berarti "Belanda Hitam".

Namun, penyebutan tersebut pada awalnya bukan ditujukan kepada masyarakat Indonesia.

Istilah ini digunakan untuk menyebut sekelompok tentara asal Afrika Barat yang bertugas di bawah pemerintahan kolonial Belanda sebagai bagian dari Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Baca Juga: Asal Usul Danau Toba, Dari Letusan Gunung Api Purba hingga Kisah Legenda Toba dan Samosir

Pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda merekrut ribuan pria dari wilayah Pantai Emas Belanda (Dutch Gold Coast) yang kini menjadi bagian dari Ghana, serta beberapa daerah lain di Afrika Barat.

Mereka direkrut untuk memperkuat pasukan KNIL yang bertugas menjaga kepentingan Belanda di Hindia Belanda.

Di Belanda, kelompok tentara tersebut dikenal dengan nama Zwarte Hollanders atau Belanda Hitam.

Perekrutan tentara Afrika dilakukan karena Belanda mengalami kekurangan personel militer setelah berbagai peperangan di Eropa, termasuk setelah pemisahan Belgia pada 1830.

Baca Juga: Matangkan Ranperda PPLH, Pansus XV DPRD Jabar Siap Pangkas Pasal Tumpang Tindih

Untuk memenuhi kebutuhan pasukan di wilayah koloninya, Belanda kemudian merekrut prajurit dari Afrika Barat.

Walaupun berasal dari Afrika, para prajurit tersebut mengenakan seragam KNIL, bertugas di bawah komando pemerintah kolonial Belanda, dan memiliki status sebagai tentara Belanda.

Karena menjadi bagian dari pasukan Belanda tetapi memiliki warna kulit hitam, masyarakat Jawa kemudian menjuluki mereka sebagai londo ireng.

Seiring berjalannya waktu, makna istilah londo ireng mulai mengalami perubahan.

Baca Juga: Penjaga Rumah Eks Jampidsus Sempat Pulang Kampung, Dipanggil Pulang Sama Febrie Seminggu Lalu

Pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 1945 hingga 1949, istilah tersebut digunakan sebagai sebutan bernada negatif bagi orang Indonesia maupun kelompok non-Eropa yang dianggap berpihak kepada Belanda.

Sebutan itu kerap diarahkan kepada anggota KNIL dari kalangan pribumi atau pihak yang dinilai mendukung kepentingan pemerintah kolonial.

Dalam konteks tersebut, istilah londo ireng tidak lagi mengacu pada asal-usul etnis seseorang, melainkan lebih menekankan pada sikap, keberpihakan politik, atau loyalitas terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Baca Juga: Buntut Bentrokan di Matraman, 4 Tersangka Pengrusakan Gerobak, 3 Tersangka Penganiayaan Berat

Memasuki era modern, penggunaan istilah londo ireng semakin bergeser menjadi ungkapan kiasan dalam percakapan politik maupun sosial.

Sebutan ini umumnya ditujukan kepada seseorang yang dianggap lebih membela kepentingan pihak asing daripada kepentingan bangsa sendiri.

Karena mengandung konotasi negatif, istilah tersebut sering digunakan sebagai bentuk kritik, sindiran, atau ejekan.

Meskipun demikian, penting untuk dipahami bahwa makna tersebut merupakan hasil perkembangan penggunaan bahasa dari waktu ke waktu.

Makna modernnya berbeda dengan pengertian historis ketika istilah itu pertama kali muncul pada masa kolonial Belanda.

Baca Juga: Kemensos Kucurkan Bantuan Sosial Senilai Rp390 Miliar untuk Tiga Wilayah di Lampung

Dengan demikian, secara harfiah londo ireng berarti Belanda Hitam.

Pada awal kemunculannya, istilah ini digunakan untuk menyebut tentara asal Afrika Barat yang direkrut Belanda menjadi anggota KNIL pada abad ke-19.

Seiring perkembangan sejarah, maknanya bergeser menjadi julukan bagi pihak yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial Belanda, hingga kini lebih sering digunakan sebagai istilah kiasan bagi orang yang dinilai lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan nasional.

Memahami sejarah dan perubahan makna istilah ini dapat membantu masyarakat menggunakan kata tersebut secara lebih tepat sesuai konteksnya.***