POJOKSATU.id — Sejarah Bumi mencatat berbagai letusan gunung api yang tidak hanya menghancurkan wilayah di sekitarnya, tetapi juga membawa dampak besar terhadap iklim global, ekosistem, hingga perjalanan peradaban manusia.

Beberapa letusan bahkan memicu perubahan suhu dunia, menyebabkan gagal panen, serta mengubah bentang alam secara permanen.

Berikut sejumlah letusan gunung api yang dianggap paling berpengaruh dalam sejarah.

Baca Juga: Hobi Main Game Bisa Jadi Beasiswa, Ini Syarat Max Achievement Scholarship 2026

Gunung Toba di Sumatra Utara merupakan salah satu gunung api yang menghasilkan letusan terbesar dalam sekitar dua juta tahun terakhir.

Letusan supervulkan ini terjadi sekitar 74.000 tahun lalu dan diperkirakan mengeluarkan sekitar 2.800 kilometer kubik material vulkanik.

Abu hasil letusan menyebar hingga Asia Selatan dan Samudra Hindia.

Baca Juga: Hobi Main Game Bisa Jadi Beasiswa, Ini Syarat Max Achievement Scholarship 2026

Para ilmuwan meyakini peristiwa tersebut memicu musim dingin vulkanik selama beberapa tahun yang menyebabkan penurunan suhu global.

Selain itu, terdapat hipotesis yang menyebut letusan Gunung Toba sempat mengurangi populasi manusia purba secara drastis, meskipun teori tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti.

Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada tahun 1815 juga menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah modern.

Baca Juga: Matangkan Ranperda PPLH, Pansus XV DPRD Jabar Siap Pangkas Pasal Tumpang Tindih

Dengan indeks letusan vulkanik atau Volcanic Explosivity Index (VEI) sebesar 7, letusan ini menewaskan sekitar 71.000 orang, baik secara langsung maupun akibat kelaparan dan penyakit setelah bencana terjadi.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga di berbagai belahan dunia.

Pada tahun berikutnya, dunia mengalami peristiwa yang dikenal sebagai Year Without a Summer atau Tahun Tanpa Musim Panas.

Suhu rata-rata Bumi turun sekitar 0,4 hingga 0,7 derajat Celsius sehingga memicu gagal panen di Eropa dan Amerika Utara serta menyebabkan krisis pangan dan kenaikan harga bahan makanan.

Baca Juga: Penjaga Rumah Eks Jampidsus Sempat Pulang Kampung, Dipanggil Pulang Sama Febrie Seminggu Lalu

Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda meletus pada tahun 1883 dan menjadi salah satu letusan paling terkenal dalam sejarah.

Ledakan yang dihasilkan begitu dahsyat hingga suaranya terdengar sejauh sekitar 4.800 kilometer.

Letusan tersebut memicu tsunami dengan ketinggian lebih dari 30 meter yang menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Selain menimbulkan kerusakan besar di wilayah pesisir, abu vulkanik yang terlontar ke atmosfer menyebabkan langit di berbagai belahan dunia tampak berwarna merah selama berbulan-bulan.

Baca Juga: Kota Bandung Mulai Terdampak Kemarau, Walkot Farhan Jamin Pasokan Air Bersih Aman

Peristiwa ini juga mengakibatkan penurunan suhu global sekitar 0,3 derajat Celsius selama beberapa tahun.

Pada tahun 1991, Gunung Pinatubo di Filipina mengalami letusan terbesar pada abad ke-20.

Letusan tersebut melepaskan sekitar 20 juta ton sulfur dioksida ke atmosfer sehingga membentuk lapisan aerosol yang memantulkan sebagian sinar Matahari kembali ke luar angkasa.

Akibatnya, suhu rata-rata Bumi turun sekitar 0,5 derajat Celsius selama dua hingga tiga tahun.

Baca Juga: Buntut Bentrokan di Matraman, 4 Tersangka Pengrusakan Gerobak, 3 Tersangka Penganiayaan Berat

Hingga kini, letusan Gunung Pinatubo masih menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana aktivitas gunung api dapat memengaruhi iklim global.

Indonesia juga memiliki Gunung Samalas di Pulau Lombok yang meletus sekitar tahun 1257.

Letusan dengan tingkat VEI 7 ini menghasilkan abu vulkanik yang jejaknya ditemukan pada lapisan es di Greenland dan Antarktika.

Bukti tersebut menunjukkan bahwa dampak letusan menyebar hingga ke berbagai wilayah di dunia.

Para ilmuwan menduga letusan Samalas memicu pendinginan global yang menyebabkan gagal panen di sejumlah kawasan pada abad ke-13.

Baca Juga: Sering Lelah dan Sakit Kepala Hebat? Kenali 15 Gejala Tumor Otak yang Tak Boleh Diabaikan

Letusan ini juga membentuk Kaldera Segara Anak yang kini menjadi bagian dari kompleks Gunung Rinjani.

Di Islandia, Gunung Laki mengalami letusan besar pada tahun 1783 melalui retakan sepanjang sekitar 27 kilometer.

Letusan ini melepaskan gas sulfur dalam jumlah sangat besar yang kemudian membentuk kabut beracun di berbagai wilayah Eropa.

Dampaknya sangat serius bagi masyarakat Islandia karena sekitar seperempat penduduknya meninggal akibat kelaparan dan penyakit.

Baca Juga: Polres Karawang Naik Kelas Jadi Polresta, Kapolda: Ini Amanah Besar dari Negara

Sejumlah sejarawan juga berpendapat bahwa dampak ekonomi dari letusan tersebut turut memperburuk kondisi sosial di Eropa menjelang terjadinya Revolusi Prancis.

Sementara itu, Gunung Thera atau Santorini di Yunani diperkirakan meletus sekitar tahun 1600 sebelum Masehi.

Letusan ini termasuk salah satu yang terbesar pada zaman kuno dan menghancurkan sebagian besar Pulau Santorini.

Baca Juga: Pencuri Ayam di Bali Nyawa Melayang, Koruptor Milyaran Diskon Hukuman Besar-Besaran!

Selain memicu tsunami besar di Laut Aegea, letusan tersebut diduga berkontribusi terhadap runtuhnya peradaban Minoa yang berkembang di Pulau Kreta.

Berbagai letusan gunung api besar tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik dapat memberikan dampak yang jauh melampaui wilayah sekitar gunung.

Abu dan gas vulkanik yang mencapai atmosfer mampu menurunkan suhu global karena memantulkan sebagian sinar Matahari.

Dampaknya dapat berupa gagal panen, krisis pangan, hingga perubahan pola iklim selama beberapa tahun.

Baca Juga: Kodim 0604 Karawang Ucapkan Selamat atas Pengukuhan Polresta Karawang

Selain itu, letusan yang terjadi di wilayah laut atau dekat pantai juga berpotensi memicu tsunami yang menghancurkan kawasan pesisir.

Di sisi lain, letusan gunung api juga mampu mengubah bentang alam dengan membentuk kaldera, danau, maupun pulau baru.

Abu vulkanik yang semula menjadi sumber bencana dalam jangka panjang justru dapat menyuburkan tanah sehingga mendukung kegiatan pertanian.

Namun, abu tersebut juga dapat mengganggu transportasi udara karena berisiko merusak mesin pesawat.

Jika diurutkan berdasarkan besarnya pengaruh terhadap Bumi, Gunung Toba sering ditempatkan di posisi pertama karena diduga memberikan dampak terhadap iklim global sekaligus evolusi manusia.

Baca Juga: Kemensos Kucurkan Bantuan Sosial Senilai Rp390 Miliar untuk Tiga Wilayah di Lampung

Gunung Tambora berada di urutan berikutnya berkat peristiwa Tahun Tanpa Musim Panas yang memicu krisis pangan di berbagai negara.

Gunung Samalas menempati posisi selanjutnya karena diduga menyebabkan pendinginan global pada abad pertengahan, disusul Gunung Krakatau yang memicu tsunami dahsyat dan perubahan atmosfer dunia.

Sementara itu, Gunung Pinatubo menjadi contoh modern yang menunjukkan bagaimana letusan gunung api mampu memengaruhi suhu global dalam skala internasional.

Keberadaan beberapa letusan paling dahsyat di dunia di Indonesia bukanlah suatu kebetulan.

Wilayah Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, yaitu kawasan dengan aktivitas tektonik dan vulkanik paling aktif di Bumi.

Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki ratusan gunung api aktif sekaligus menjadi salah satu laboratorium alam terpenting untuk mempelajari dinamika vulkanisme dan dampaknya terhadap kehidupan di planet ini.***