POJOKSATU.id — Jauh sebelum lahirnya organisasi pribumi modern seperti Budi Utomo, etnis Tionghoa di Indonesia sudah lebih dulu membentuk sebuah wadah pergerakan bernama Tiong Hwa Hwee Kwan (THHK).

Organisasi ini berdiri di Batavia pada 23 Februari 1901, di tengah diskriminasi rasial dan politik kolonial Belanda, sekaligus menjadi penyulut nasionalisme dan cikal bakal persatuan Indonesia.

Kedatangan Etnis Tionghoa di Nusantara

Kehadiran etnis Tionghoa di Nusantara diperkirakan sudah berlangsung sejak 1.500 tahun lalu, semakin intens pada awal abad ke-16 seiring majunya perdagangan.

Baca Juga: Dies Natalis ke-60 UIN Siber Syekh Nurjati, 5 Wisudawan Berprestasi Langsung Diguyur Beasiswa S2

Mereka datang dari berbagai suku seperti Hokkien, Hakka, Teo-Chiu, dan Kwongfu/Kanton, lalu menetap di pesisir, berdagang, menjadi pengrajin, hingga berakulturasi dengan budaya lokal.

Kolonial Belanda kemudian menggolongkan masyarakat Hindia secara hirarkis: orang Eropa di lapisan atas, Tionghoa atau Timur Asing di tengah, dan pribumi di bawah.

Pengelompokan ini melahirkan diskriminasi yang juga dirasakan kaum Tionghoa peranakan.

Diskriminasi dan ketidakadilan itu membuat sebagian kaum Tionghoa mulai mempertanyakan identitas mereka.

Dari sinilah lahir gagasan mendirikan organisasi. Pada 23 Februari 1901, sekelompok Tionghoa di Batavia mendirikan Tiong Hwa Hwee Kwan (THHK), yang berfokus pada pendidikan, kebudayaan, hingga politik.

Baca Juga: Film Animasi Panji Tengkorak Siap Tayang di Bioskop 28 Agustus, Libatkan 250 Tenaga Profesional, Publik Bandingkan Merah Putih One for All

THHK mendirikan sekolah-sekolah dengan bahasa Cina sebagai pengantar dan kurikulum yang berorientasi pada nasionalisme.

Dalam waktu singkat, sekolah-sekolah ini berkembang pesat, menarik perhatian kaum Tionghoa, sekaligus menimbulkan kekhawatiran pemerintah kolonial.

Peran Pendidikan dan Media Tionghoa

Sekolah-sekolah THHK menjadi simbol kebangkitan. Kaum Tionghoa berbondong-bondong menyekolahkan anak-anaknya di lembaga ini.

Walaupun ada kritik bahwa penggunaan bahasa Cina mengabaikan tradisi leluhur lokal.

Tak berhenti di pendidikan, gerakan ini juga merambah media. Surat kabar berbahasa Melayu-Tionghoa seperti Li Po (1901), Chabar Perniagaan (1903), dan Djawa Tengah (1909) lahir.

Mereka menyebarkan ide kebangsaan dan mendorong kesadaran baru di kalangan masyarakat.

Baca Juga: FAKTA BAHASA: Makna Kata 'Merdeka', Satu Kata yang Menyimpan Sejuta Filosofi

Ancaman Kolonial, Inspirasi Pribumi

Belanda melihat perkembangan THHK sebagai ancaman. Sebagai tandingan, mereka mendirikan Hollandsche Chineesche School (HCS) di Batavia, menggunakan bahasa Belanda dan menjanjikan karier bagi lulusan.

Namun, semangat THHK sudah terlanjur menyala, bahkan menginspirasi pribumi untuk bergerak.

Tak lama setelah itu, lahirlah Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang didirikan Dr. Sutomo dan mahasiswa STOVIA.

Banyak sejarawan menilai berdirinya Budi Utomo tidak lepas dari inspirasi gerakan pendidikan modern ala THHK.

Baca Juga: Konara Enumbi Anggota KKB Penembak Polisi di Papua Ditangkap Satgas ODC 2025

Dukungan Revolusioner Cina dan Sun Yat Sen

Menariknya, THHK mendapat dukungan dana dari revolusioner Cina pimpinan Sun Yat Sen hingga Kaisar Dinasti Qing.

Bahkan, Sun Yat Sen sempat datang ke Hindia Belanda untuk mengajar di sekolah THHK, menyalakan semangat kebangsaan kaum Tionghoa.

Sejak 1909, lahir pula Soe Po Sia, perkumpulan pembaca yang menyebarkan propaganda politik.

Gerakan ini kemudian melahirkan organisasi pemuda Hsiao You Hui yang berubah menjadi Hua Chiao Tsing Nien Hui (1929), memperluas gerakan antikolonial.

Jalan Menuju Nasionalisme Indonesia

Pada 1912, lahir Indische Partij dengan semboyan "Indie voor Indiers" (Hindia untuk orang Hindia), menggaungkan persatuan lintas etnis: bumiputera, Tionghoa, Arab, hingga Indo.

Sementara itu, surat kabar Tionghoa seperti Sin Po, Sinar Djawa, dan Keng Po semakin lantang menyuarakan perlawanan kolonial.

Bahkan, Sin Po juga aktif mengangkat perjuangan Budi Utomo, menandakan terjalinnya solidaritas antarkelompok.

Baca Juga: Whoosh Terus Rugi Hingga Rp1,625 Triliun, Seret Keuangan BUMN, PT KAI Derek Beban Berat

Penyulut Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Bangsa

Puncaknya, gagasan persatuan yang lahir dari gerakan THHK turut menyulut lahirnya Sumpah Pemuda 1928, sebuah momentum penting lahirnya nasionalisme Indonesia.

Dari THHK, Budi Utomo, hingga Indische Partij, semuanya berpangkal pada satu tujuan: melawan kolonialisme dan membangun identitas Indonesia.

Kisah ini menunjukkan bahwa Tiong Hwa Hwee Kwan (THHK) bukan sekadar organisasi etnis Tionghoa, melainkan salah satu penyulut utama nasionalisme yang mempercepat lahirnya persatuan Indonesia, bahkan lebih awal dari Budi Utomo.***

Kirim komentar dan baca artikel Pojoksatu.id lainnya tanpa iklan melalui aplikasi kami di bawah ini:

Versi Android

Versi iOS

Saluran Whatsapp

FanPage Edugov