POJOKSATU.id — Nama Laksamana Tadashi Maeda atau yang kita kenal dengan Laksamana Maeda, tidak bisa dilepaskan dari sejarah kemerdekaan Indonesia.
Sebagai perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Maeda justru memilih berdiri di sisi bangsa Indonesia pada masa krusial menjelang proklamasi.
Perannya sangat penting, terutama pada malam 16–17 Agustus 1945, ketika rumah dinasnya di Jalan Miyako-Doori (saat ini Jalan Imam Bonjol), Jakarta, dijadikan tempat aman bagi Soekarno, Hatta, Achmad Soebardjo, serta tokoh lainnya untuk merumuskan teks Proklamasi.
Baca Juga: Lagu Kemerdekaan yang Cocok Jadi Backsound Foto dan Video Momen 17 Agustus
Keputusan Maeda untuk memberikan perlindungan bukanlah hal ringan. Saat itu, pihak Jepang secara resmi masih berkewajiban menjaga status quo hingga pasukan Sekutu datang.
Namun, Maeda menutup mata terhadap aturan tersebut. Ia menjamin keselamatan para tokoh nasional dengan pengaruhnya di Angkatan Laut Jepang, bahkan meski tindakannya berisiko besar bagi karier militernya.
Tanpa dukungan keberanian Maeda, sejarah perumusan naskah proklamasi bisa jadi akan menemui jalan berbeda.
Usai kemerdekaan, konsekuensi pun harus ditanggung Maeda. Ia ditangkap oleh pasukan Sekutu karena dianggap melanggar kewajiban resmi Jepang.
Maeda sempat dipenjara di Glodok hingga tahun 1947. Dalam peradilan militer Jepang, ia dinyatakan tidak bersalah.
Meski bebas, Maeda memilih mundur dari dunia militer maupun politik. Keputusan itu membuatnya hidup sebagai warga sipil biasa di Jepang, tanpa tunjangan pensiun dan jauh dari gemerlap kehidupan perwira tinggi.
Namun, pengorbanan dan jasa Maeda tidak dilupakan Indonesia. Pada tahun 1973, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Nararya sebagai bentuk penghormatan resmi.
Empat tahun kemudian, pada 13 Desember 1977, Tadashi Maeda meninggal dunia di Jepang.
Baca Juga: Kepala Desa Tak Tampak Saat Penurunan Bendera Merah Putih di Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok
Pemerintah Indonesia bahkan mengirimkan telegram resmi kepada pemerintah Jepang, menyatakan terima kasih sekaligus memastikan bahwa nama Maeda akan selalu tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa.
Kini, rumah dinas yang pernah menjadi tempat bersejarah perumusan teks Proklamasi telah diabadikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Keberadaan museum ini menjadi simbol nyata bahwa jasa Maeda tak pernah terhapus oleh waktu.
Setiap generasi yang berkunjung dapat melihat bukti keberanian seorang perwira asing yang memilih berpihak kepada cita-cita kemerdekaan Indonesia.***
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android: https://play.google.com/store/
Versi iOS: https://apps.apple.com/app/poj
Channel WhatsApp: https://www.whatsapp.com/chann
Fanpage Edugov: https://www.facebook.com/profi

