POJOKSATU.id — Kematian Hamzah bin Abdul Muthalib dalam Perang Uhud menjadi duka mendalam bagi Rasulullah SAW.
Sang paman yang gagah berani itu gugur setelah terkena lemparan belati dari seorang budak Habsyah bernama Wahsyi bin Harb.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bahkan menangis saat melihat jasad Hamzah yang telah dikoyak dan dicabik oleh Hindun binti Utbah.
Dalam pertempuran itu, Wahsyi bersembunyi di balik pohon, menunggu saat yang tepat untuk melancarkan serangannya.
Ketika Hamzah sedang sibuk menghadapi musuh, Wahsyi melemparkan belatinya dengan tepat ke bagian bawah perut Hamzah hingga menembus tubuhnya.
Seketika Hamzah tumbang, sementara Wahsyi segera mengambil kembali senjatanya dan bergabung dengan pasukan Quraisy.
Kepergian Hamzah bukan hanya kehilangan bagi Rasulullah, tetapi juga bagi umat Islam. Namun, tragedi ini bukanlah akhir dari kisah Wahsyi.
Awalnya, ia hanyalah seorang budak yang hidup dalam kekufuran dan dosa. Ia menerima tawaran Hindun yang menjanjikan kemerdekaan bagi siapa saja yang berhasil membunuh Hamzah.
Dendam Hindun kepada Hamzah membara setelah ia kehilangan ayah dan keluarganya dalam Perang Badar.
Namun, setelah menerima hadiah atas jasanya, Wahsyi tidak merasakan ketenangan. Hatinya gelisah hingga akhirnya ia mendapatkan hidayah untuk mendekati Rasulullah SAW dan memohon ampunan.
Dengan penuh keraguan, ia bertanya kepada Rasulullah SAW,
"Wahai Muhammad, bagaimana engkau akan mengajakku masuk Islam sedangkan engkau sendiri pernah berkata bahwa seorang pembunuh, musyrik, dan pezina telah terjatuh ke dalam dosa besar dan akan menerima azab yang berlipat ganda serta kekal di neraka dalam keadaan hina.
Sedangkan semua itu telah aku lakukan. Apakah menurutmu ada sedikit keringanan bagiku atas dosa-dosaku itu?"
Sebagai jawaban atas kegundahan Wahsyi, Allah SWT menurunkan firman-Nya dalam Surah Al-Furqan ayat 70:
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Namun, Wahsyi masih merasa berat memenuhi persyaratan tersebut. Maka turunlah firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
Mendengar ayat ini, Wahsyi akhirnya menerima Islam dengan sepenuh hati. Ia pun menyesali perbuatannya dan bertekad menebus dosa-dosanya.
Kehidupan Wahsyi pun berubah drastis. Ia menjadi bagian dari barisan kaum Muslimin dan berperan penting dalam perjuangan Islam.
Salah satu jasanya yang besar adalah membunuh Musailamah Al-Kadzab, seorang nabi palsu yang mengancam umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Kisah Wahsyi menjadi bukti nyata bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang benar-benar ingin kembali kepada Allah SWT.
Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama seseorang bersungguh-sungguh dalam tobatnya dan memperbaiki amal perbuatannya. ***

