POJOKSATU.id — Di kota Mekah, hiduplah seorang wanita yang dikenal karena kecantikannya. Ia telah bersuami, tetapi suatu hari, saat bercermin, ia bertanya kepada suaminya, "Menurutmu, adakah lelaki yang tidak akan tergoda setelah melihat wajahku?"
Tanpa ragu, sang suami menjawab, "Ada."
"Siapa?" tanya wanita itu.
"Ubaid bin Umair," jawab sang suami.
Tergerak oleh rasa ingin tahu dan kepercayaan diri akan pesonanya, wanita itu meminta izin untuk menguji keteguhan hati Ubaid bin Umair. Sang suami pun mengizinkannya.
Dengan rencana tersusun, wanita itu mendatangi Ubaid bin Umair seolah-olah hendak meminta fatwa.
Ia lalu membawanya ke sudut Masjidil Haram dan menyingkap wajahnya, yang bercahaya bak bulan purnama.
Namun, bukannya tergoda, Ubaid justru berkata dengan tenang, "Wahai hamba Allah, tutuplah wajahmu."
Namun, wanita itu justru mengakui, "Aku telah tergoda olehmu."
Mendengar pengakuan itu, Ubaid bin Umair tidak serta-merta marah atau menegur dengan kasar.
Baca Juga: Kisah Pemuda Beriman, Antara Ajaran Rahib atau Tukang Sihir
Sebaliknya, ia memilih pendekatan yang lebih dalam, dengan bertanya, "Baiklah, jika engkau jujur, aku ingin bertanya. Jika malaikat maut datang mencabut nyawamu saat ini, apakah engkau masih menginginkan hal ini?"
Wanita itu terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tentu tidak."
"Bagus," kata Ubaid, "engkau telah menjawab dengan jujur."
Baca Juga: Kisah Ikrimah Al Qurasyi, Mantan Budak yang Menjadi Ahli Tafsir Terkemuka
Ia kemudian melanjutkan pertanyaannya, "Jika nanti engkau telah dikuburkan dan bersiap menghadapi pertanyaan di alam kubur, apakah engkau masih menginginkannya?"
Wanita itu kembali menjawab, "Tentu tidak."
Satu demi satu, Ubaid terus mengajukan pertanyaan tentang kehidupan setelah mati, tentang catatan amal, tentang perjalanan melintasi shirat yang membentang di atas neraka, dan tentang pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Setiap pertanyaan yang diajukan membuat wanita itu semakin tersadar akan keabadian akhirat dibanding kesenangan sesaat di dunia.
Setelah mendengar semua pertanyaan itu, wanita tersebut merasa hatinya bergetar.
Ubaid lalu berkata, "Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Dia telah memberimu banyak nikmat dan kebaikan."
Wanita itu pun pulang ke rumahnya dengan hati yang telah berubah.
Ketika bertemu suaminya, ia berkata, "Sungguh, engkau adalah orang yang lalai, dan kita semua telah lalai."
Sejak saat itu, wanita tersebut berubah drastis.
Ia menjadi pribadi yang tekun dalam ibadah—sholatnya semakin khusyuk, puasanya semakin rutin, dan ia memperbanyak amal kebaikan.
Sang suami, yang menyaksikan perubahan istrinya, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Ia berkata, "Apa yang telah terjadi antara aku dan Ubaid? Ia telah mengubah istriku. Dulu, setiap malam terasa seperti malam pengantin bagi kami, tetapi sekarang, istriku telah berubah menjadi seorang ahli ibadah."
Kisah ini menjadi bukti bahwa hidayah bisa datang dari jalan yang tidak terduga.
Godaan duniawi tidak ada artinya dibanding ketenangan dan keselamatan di akhirat. ***

