POJOKSATU.id — Suatu hari, seorang laki-laki keluar dari rumahnya dengan membawa benang tenun untuk dijual.
Setelah laku seharga satu dirham, ia pun membeli tepung untuk keluarganya.
Dalam perjalanan pulang, ia melihat dua orang laki-laki tengah bertengkar sengit.
Ketika ia bertanya, ternyata penyebabnya adalah satu dirham yang mereka perebutkan.
Dengan hati tulus, laki-laki itu memberikan satu dirham miliknya agar perselisihan tersebut berakhir, meski itu adalah uang satu-satunya.
Ia pulang dengan tangan kosong dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Sang istri dengan sabar mengumpulkan beberapa barang rumah tangga agar dapat digadaikan.
Suaminya kembali ke pasar, tetapi tak seorang pun mau membeli barang-barang tersebut.
Dalam kebingungan, ia berpapasan dengan seorang pria yang membawa ikan berbau busuk.
Orang itu berkata, "Engkau membawa barang yang tidak laku, demikian pula denganku. Maukah engkau menukarnya?"
Tanpa berpikir panjang, ia menyetujui pertukaran itu dan membawa ikan tersebut pulang.
Setibanya di rumah, ia meminta istrinya segera mengolah ikan itu karena mereka sudah sangat lapar. Saat sang istri membelah perut ikan, ia menemukan sesuatu yang kecil, hampir sebesar telur burung dara.
Dengan takjub, ia berkata, "Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang sangat berharga!"
Sang suami melihatnya dengan penuh rasa ingin tahu dan menyadari bahwa itu adalah mutiara.
Dengan penuh harap, ia membawa mutiara tersebut ke pasar untuk menaksir nilainya.
Seorang pedagang menawarnya seharga 40 ribu dirham, tetapi menyarankan agar ia menemui pedagang lain yang mungkin menawar lebih tinggi.
Benar saja, pedagang berikutnya menawarkan 80 ribu dirham, dan yang ketiga bahkan berani membayar 120 ribu dirham.
Ia pun menerima tawaran terakhir dan membawa pulang 12 kantung uang, masing-masing berisi 10 ribu dirham.
Baca Juga: Kisah Uzair, Tidur Selama 100 Tahun, Hikmah Bukti Kebesaran Allah Menghidupkan yang Mati
Ketika sampai di rumah, seorang fakir mengetuk pintunya untuk meminta sedekah. Dengan murah hati, ia berkata, "Ambillah separuh dari hartaku ini."
Orang fakir itu menerima enam kantung uang dan pergi. Namun, tak lama berselang, ia kembali dan berkata,
"Sesungguhnya aku bukanlah orang miskin. Aku adalah utusan Allah Ta'ala. Dia telah mengganti satu dirham yang engkau sedekahkan dengan 20 qirath. Dan yang baru engkau terima ini hanyalah satu qirath saja, sedangkan 19 qirath lainnya masih tersimpan untukmu." ***

