POJOKSATU.id — Kisah tentang memaafkan sering kali menjadi cerminan kebesaran hati seseorang.
Salah satu kisah luar biasa tentang hal ini datang dari Abu Bakar As Siddiq – semoga Allah meridai beliau – dan seorang kerabatnya, Misṭah.
Misṭah adalah salah seorang Muhajirin yang hidup dalam kondisi miskin.
Ia memiliki hubungan kekerabatan dengan Abu Bakar, yang dengan penuh kedermawanan menanggung nafkahnya.
Namun, di balik kebaikan hati Abu Bakar, Misṭah justru ikut terlibat dalam menyebarkan fitnah besar yang menimpa Aisyah – semoga Allah meridai beliau.
Fitnah ini dikenal sebagai Ḥādiṭatul Ifki, yang kemudian dibantah oleh wahyu Allah dalam Al-Qur'an yang menegaskan kesucian Aisyah.
Mendengar bahwa Misṭah termasuk orang-orang yang turut menyebarkan fitnah terhadap putrinya, Abu Bakar pun bersumpah untuk tidak lagi menafkahinya. Namun, Allah menurunkan firman-Nya:
"Janganlah orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabat mereka, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Maka hendaklah mereka memberi maaf dan ampunan. Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?" (QS. An-Nur: 22).
Mendengar ayat ini, Abu Bakar tanpa ragu berkata, "Ya, tentu saja!"
Beliau segera kembali menafkahi Misṭah, tanpa sedikit pun ragu atau dendam.
Sikapnya ini menjadi teladan bagi siapa saja yang diuji dengan pengkhianatan atau kekecewaan dari orang terdekat.
Kisah Lain tentang Kebesaran Hati
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr juga menyampaikan kisah lain yang menggugah hati.
Seorang laki-laki datang kepadanya dan menceritakan tentang perselisihan dengan adik iparnya.
Laki-laki ini dulunya seorang pedagang kaya yang ingin membantu keluarganya.
Ia memberikan sebuah bangunan dengan toko kepada suami saudari kandungnya sebagai hadiah, berharap kehidupan saudarinya menjadi lebih baik.
Namun, ketika bisnisnya bangkrut dan ia kehilangan segalanya, ia meminta izin kepada iparnya untuk tinggal sementara di tempat yang dulu ia berikan.
Alih-alih mendapat bantuan, ia justru diusir dan dihina. Kecewa dan sakit hati, ia memutuskan hubungan dengan iparnya.
Ketika menceritakan kisah ini kepada Syaikh Abdurrazzaq, ia mengungkapkan betapa dalam luka di hatinya.
Namun, sang Syaikh bertanya, "Jika ia hanya mengecewakanmu dalam urusan duniawi, apakah itu lebih berat daripada jika ia merusak kehormatanmu?"
Laki-laki itu mengakui bahwa masalah kehormatan jauh lebih berat.
Syaikh lalu membacakan ayat yang sama yang turun kepada Abu Bakar, dan tanpa ragu laki-laki itu berkata, "Selesai urusan! Tidak ada lagi yang tersisa di hatiku. Aku telah memaafkannya."
Pelajaran dari Kisah Ini
Dendam dan kebencian sering kali memutuskan hubungan antar saudara, kerabat, atau sahabat.
Betapa banyak keluarga yang tercerai-berai hanya karena urusan duniawi yang sepele.
Namun, Allah mengajarkan kita untuk memaafkan, bukan karena orang yang menyakiti kita layak mendapatkannya, tetapi karena kita menginginkan ampunan dari Allah.
"Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?" (QS. An-Nur: 22).
Hendaknya kita menanamkan nilai ini dalam diri kita, agar kita senantiasa mengutamakan ridha Allah daripada memperturutkan ego dan dendam. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan dan kasih sayang-Nya. ***

