POJOKSATU.id – Tidak semua pejuang kemerdekaan Indonesia dilahirkan di tanah Nusantara.
Di tengah berkobarnya Revolusi Indonesia, ada seorang perempuan asing yang memilih berdiri di sisi republik muda ini ketika banyak bangsa di dunia masih meragukan kelahirannya.
Ia bukan prajurit yang mengangkat senjata di medan perang, tetapi suaranya melintasi batas negara, menembus gelombang radio, dan membuka mata dunia terhadap perjuangan rakyat Indonesia.
Perempuan itu adalah K'tut Tantri. Lahir dengan nama Muriel Stuart Walker di Glasgow, Skotlandia, ia datang ke Indonesia sebagai orang asing.
Namun ketika republik yang baru diproklamasikan menghadapi ancaman kembalinya kolonialisme, ia memilih mempertaruhkan kebebasan, bahkan nyawanya, demi negeri yang bukan tanah kelahirannya.
Bagi K'tut Tantri, Indonesia bukan sekadar tempat singgah. Negeri ini menjadi tanah air yang ia bela hingga harus merasakan penjara, penyiksaan, dan pengasingan.
Baca Juga: Kapolresta dan Kasat Narkoba Banda Aceh Dibawa Divpropam Mabes Polri
Dari Glasgow Menuju Pulau Dewata
Muriel Stuart Walker lahir pada 24 Februari 1898 di Glasgow, Skotlandia, Britania Raya. Ayahnya berkebangsaan Swedia, sedangkan ibunya berasal dari Skotlandia.
Latar belakang keluarganya yang berasal dari kawasan Skandinavia membuat sebagian penulis populer kemudian menyebutnya memiliki "darah Viking", meskipun istilah tersebut lebih bersifat kultural dan bukan identitas yang pernah ia gunakan sendiri.
Dalam perjalanan hidupnya, Muriel tiba di Bali pada dekade 1930-an.
Pulau yang kala itu mulai dikenal dunia karena keindahan alam dan budayanya justru mengubah arah hidup perempuan asal Eropa tersebut.
Ia diterima dalam lingkungan bangsawan Bali dan memperoleh nama adat K'tut Tantri.
Dalam tradisi Bali, "Ketut" merupakan nama yang lazim diberikan kepada anak keempat, sedangkan "Tantri" merujuk pada tokoh bijaksana dalam kisah-kisah klasik yang dikenal masyarakat Bali.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa ia diangkat sebagai anak secara adat oleh keluarga Puri Ubud.
Karena itu, penyebutan sebagai "anak angkat raja Bali" lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi pengangkatan dalam lingkungan keluarga bangsawan dan adat Bali, bukan dalam pengertian politik atau kerajaan modern.
Nama itulah yang kemudian lebih dikenal daripada nama lahirnya.
Ketika Radio Menjadi Senjata Perjuangan
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan tempur.
Pertempuran juga terjadi melalui diplomasi dan informasi.
Di Surabaya, Radio Pemberontakan yang dipimpin Bung Tomo menjadi salah satu alat perjuangan paling berpengaruh dalam membakar semangat rakyat.
Baca Juga: 4 Ide Lomba Agustusan Seru dari Ditjen Dikmen Diksus, Cocok Meriahkan HUT Ke-81 RI
Di sanalah K'tut Tantri mengambil peran yang sangat penting.
Kemampuannya berbahasa Inggris menjadikannya penyiar yang menyampaikan perkembangan Revolusi Indonesia kepada masyarakat internasional.
Melalui siaran-siarannya, wartawan asing, diplomat, dan kantor-kantor berita dunia memperoleh sudut pandang yang berbeda dari informasi yang selama itu banyak didominasi media Belanda.
Dalam autobiografinya Revolt in Paradise yang terbit pada 1960, ia mengenang tugas tersebut dengan kalimat yang menggambarkan tekadnya.
Baca Juga: Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Akhirnya Diborgol, Bawa Map Biru Hadapi Tim 9 Kejagung
"Aku berbicara kepada dunia bahwa Indonesia sedang berjuang mempertahankan kemerdekaannya."
Kalimat itu menjadi gambaran bagaimana gelombang radio berubah menjadi jembatan yang menghubungkan perjuangan rakyat Indonesia dengan opini publik internasional.
Suara yang Tak Pernah Gentar
K'tut Tantri dikenal memiliki gaya siaran yang lugas dan berani.
Di tengah ancaman dari Jepang maupun Belanda, ia tidak memilih diam.
Melalui siaran berbahasa Inggris, ia menyampaikan kritik, sindiran, sekaligus penjelasan mengenai situasi yang sebenarnya terjadi di Indonesia.
Baca Juga: AXIS Nation Cup 2026 di Medan: 42 Tim Futsal Bersaing untuk Raih Tiket ke Final Region ANC
Strategi tersebut menjadi sangat penting. Ketika sebagian besar informasi mengenai Indonesia masih berasal dari media kolonial Belanda, suara K'tut Tantri menghadirkan narasi lain yang memperlihatkan bahwa rakyat Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan.
Radio bukan lagi sekadar alat komunikasi. Di tangan para pejuang, radio menjadi senjata diplomasi yang mampu menembus batas negara.
Berkali-kali Dipenjara Demi Republik
Keberanian itu harus dibayar mahal.
Pada masa pendudukan Jepang, K'tut Tantri pernah ditahan karena dianggap membahayakan kekuasaan militer.
Baca Juga: Kompetisi Jurnalistik Cek Kesehatan Gratis 2026 Dibuka, Total Hadiah Puluhan Juta Rupiah Menanti
Setelah Jepang menyerah dan Revolusi Indonesia berlangsung, ancaman terhadap dirinya tidak berhenti.
Pemerintah Belanda menganggap siaran-siarannya sebagai propaganda yang mendukung Republik Indonesia.
Ia kemudian ditangkap, dipenjara, dan mengalami penyiksaan selama bertahun-tahun.
Dalam Revolt in Paradise, K'tut Tantri menceritakan bagaimana dirinya dipukuli dan diinterogasi karena menolak menghentikan dukungannya terhadap Republik Indonesia.
Meski mengalami tekanan fisik maupun mental, keyakinannya terhadap perjuangan bangsa Indonesia tidak pernah surut.
Membawa Suara Indonesia ke Australia
Sesudah keluar dari Indonesia, perjuangannya tidak berakhir.
K'tut Tantri menetap sementara di Australia dan melanjutkan perjuangannya melalui berbagai forum publik.
Baca Juga: Kolaborasi Kemendikdasmen dan Kementerian Agama Hadirkan Ratusan Bahan Ajar Baru di Ruang Murid
Ia memberikan ceramah di universitas, berdiskusi dalam berbagai organisasi perempuan, menghadiri forum kemanusiaan, serta menjelaskan kepada masyarakat Australia mengenai keadaan sebenarnya yang sedang dihadapi Indonesia.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, ia membantu memperluas pemahaman masyarakat Australia mengenai perjuangan Republik Indonesia yang saat itu masih berusaha memperoleh pengakuan internasional.
Solidaritas Australia bagi Revolusi Indonesia
Dukungan Australia terhadap Indonesia tentu tidak lahir hanya karena peran K'tut Tantri.
Namun, ia menjadi salah satu tokoh yang ikut membentuk opini publik di negara tersebut.
Pada periode 1945 hingga 1949, Australia menyaksikan munculnya berbagai aksi solidaritas terhadap Indonesia.
Baca Juga: Serka Hudi Antar Lansia Pulang Usai Posyandu, Bukti Nyata 7 Pilar Pangkal Perjuangan Kodim Karawang
Buruh pelabuhan menolak memuat kapal-kapal Belanda dalam gerakan yang kemudian dikenal sebagai Black Armada.
Mahasiswa menggelar demonstrasi, serikat buruh menyatakan dukungan, dan berbagai kelompok masyarakat menyuarakan simpati kepada Republik Indonesia.
Gerakan-gerakan itu memberikan dampak nyata terhadap upaya Belanda karena menghambat distribusi logistik selama masa Agresi Militer.
Sejumlah sejarawan Australia bahkan menilai aksi buruh pelabuhan tersebut sebagai salah satu bentuk solidaritas internasasional terbesar terhadap Revolusi Indonesia.
Baca Juga: Collab Honda Genio x Beauty Ultima II Jadi Ajang Kreativitas MUA Bandung Tampilkan Karya Terbaik
Bagian Penting dari Strategi Diplomasi Republik
Dalam berbagai kesaksiannya, Bung Tomo mengakui bahwa siaran berbahasa Inggris mempunyai arti penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia.
Memang tidak ditemukan kutipan yang secara khusus menyebut nama K'tut Tantri.
Namun keberadaan siaran internasional Radio Pemberontakan Surabaya diakui sebagai bagian dari strategi komunikasi Republik untuk memperkenalkan perjuangan Indonesia kepada dunia.
Di balik pidato-pidato yang membakar semangat rakyat Indonesia, terdapat pula suara yang menjelaskan kepada masyarakat internasional bahwa bangsa ini sedang mempertahankan haknya sebagai negara merdeka.
"Indonesia Menjadi Tanah Air yang Kuperjuangkan"
Barangkali tidak ada kalimat yang lebih menggambarkan kecintaan K'tut Tantri kepada Indonesia selain pengakuannya sendiri dalam Revolt in Paradise.
"Indonesia bukan tanah kelahiranku, tetapi menjadi tanah air yang kuperjuangkan."
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan emosional. Seluruh perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa ia benar-benar menghayati kata-kata tersebut.
Ia rela kehilangan kebebasan, mengalami penyiksaan, dan menghadapi berbagai risiko demi mempertahankan kemerdekaan sebuah bangsa yang secara darah bukan miliknya.
Baca Juga: Sulap Limbah Jerami Jadi Bernilai Ekonomi, Pertamina Regional JBB Raih Gold TJSL dan CSR Awards 2026
Warisan Seorang Sahabat Indonesia
K'tut Tantri wafat di Sydney, Australia, pada 27 Juli 1997. Namun jejak perjuangannya tetap hidup dalam berbagai buku sejarah Revolusi Indonesia.
Autobiografinya, Revolt in Paradise, hingga kini masih menjadi salah satu sumber primer yang penting untuk memahami kehidupan di Bali menjelang perang serta pengalaman langsung selama Revolusi Indonesia.
Di antara begitu banyak tokoh asing yang pernah datang ke Nusantara, nama K'tut Tantri menempati tempat yang istimewa.
Ia membuktikan bahwa cinta kepada Indonesia tidak selalu lahir karena tempat kelahiran, melainkan karena keyakinan terhadap nilai-nilai kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan.
Ketika dunia masih mencari kebenaran tentang revolusi yang sedang berlangsung di Nusantara, suara seorang perempuan dari Skotlandia justru ikut memastikan bahwa perjuangan Indonesia didengar oleh dunia. ***

