POJOKSATU.id — Pada suatu hari, sebuah perdebatan sengit terjadi di dalam masjid.
Seorang ilmuwan besar dari Romawi yang tidak beriman kepada Allah menantang para ulama Islam untuk beradu argumen.
Ulama-ulama Islam memilih untuk diam, kecuali satu orang—Hammad, guru dari Abu Hanifah. Ilmuwan tersebut segan kepadanya.
Namun, saat itu, seorang pemuda yang tak lain adalah Abu Hanifah memberanikan diri untuk menghadapi tantangan tersebut.
Dengan penuh hormat, ia melangkah ke depan dan berkata, “Saya siap berdiskusi dengan Anda.”
Ilmuwan itu terkejut melihat keberanian seorang pemuda, lalu memulai pertanyaannya.
Mengenai Keberadaan Allah
Ilmuwan: “Pada tahun berapa Tuhanmu dilahirkan?”
Abu Hanifah dengan tenang menjawab, “Allah berfirman: ‘Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan.’”
Ilmuwan: “Apakah masuk akal jika dikatakan bahwa Allah ada sebelum segala sesuatu? Kapan Ia mulai ada?”
Abu Hanifah: “Dia ada sebelum segala sesuatu ada.”
Ilmuwan: “Berikan contoh yang lebih jelas!”
Abu Hanifah: “Apakah Anda mengetahui angka dalam perhitungan?”
Ilmuwan: “Ya.”
Abu Hanifah: “Angka berapa yang ada sebelum satu?”
Ilmuwan: “Tidak ada.”
Abu Hanifah: “Jika angka satu yang merupakan makhluk saja tidak memiliki angka sebelumnya, mengapa Anda heran jika Allah yang Maha Esa tidak memiliki sesuatu yang mendahului-Nya?”
Keberadaan Allah di Suatu Tempat
Ilmuwan kembali bertanya: “Di mana Tuhanmu sekarang? Segala sesuatu pasti memiliki tempat.”
Abu Hanifah tersenyum dan bertanya kembali: “Tahukah Anda bagaimana bentuk susu? Apakah di dalam susu ada keju?”
Ilmuwan: “Tentu saja.”
Abu Hanifah: “Tolong tunjukkan padaku di mana tepatnya letak keju di dalam susu?”
Ilmuwan: “Keju ada di seluruh bagian susu, tidak ada tempat khusus.”
Abu Hanifah: “Jika keju yang merupakan ciptaan saja tidak memiliki tempat khusus dalam susu, bagaimana mungkin Anda menuntut saya untuk menentukan tempat bagi Allah, yang tidak terikat oleh ruang dan waktu?”
Sifat Allah dan Roh
Ilmuwan: “Tunjukkan zat Tuhanmu! Apakah Ia seperti benda padat, cair, atau gas?”
Abu Hanifah: “Pernahkah Anda melihat seseorang yang sekarat?”
Ilmuwan: “Ya.”
Abu Hanifah: “Saat orang itu masih hidup, ia berbicara dan bergerak. Tetapi setelah kematian, tubuhnya menjadi kaku. Apa yang berubah?”
Ilmuwan: “Rohnya telah meninggalkan tubuhnya.”
Baca Juga: KIsah Luqman dan Putranya, Bergantian Naik Keledai Menuju Pasar, Begini Hikmah yang Bisa Dipetik
Abu Hanifah: “Jika begitu, dapatkah Anda menjelaskan bentuk roh itu? Apakah ia padat, cair, atau gas?”
Ilmuwan: “Saya tidak tahu.”
Abu Hanifah: “Jika Anda tidak mengetahui zat roh yang merupakan makhluk, bagaimana Anda mengharapkan saya untuk menjelaskan zat Allah?”
Kekekalan Surga dan Takdir
Ilmuwan: “Jika surga ada awalnya, mengapa tidak ada akhirnya?”
Abu Hanifah: “Dalam perhitungan angka pun ada awalnya, tetapi tidak ada akhirnya.”
Ilmuwan: “Bagaimana mungkin seseorang bisa makan dan minum di surga tanpa buang air?”
Abu Hanifah: “Anda telah mengalaminya dalam rahim ibu Anda selama sembilan bulan tanpa buang air.”
Ilmuwan: “Bagaimana mungkin harta di surga tidak habis meskipun terus digunakan?”
Abu Hanifah: “Ilmu di dunia pun semakin berkembang saat dibagikan, bukannya berkurang.”
Jawaban Terakhir Abu Hanifah
Akhirnya, ilmuwan itu bertanya: “Jika segala sesuatu telah ditakdirkan, apa yang Allah kerjakan sekarang?”
Abu Hanifah mengajaknya bertukar tempat. Ilmuwan itu turun dari mimbar, dan Abu Hanifah naik ke atas mimbar lalu berkata, “Tuan menanyakan pekerjaan Allah? Saat ada orang kafir di atas mimbar, Dia menurunkannya, dan saat ada mukmin di bawah, Dia mengangkatnya.”
Para hadirin bertepuk tangan tanda kagum. Ilmuwan kafir itu terdiam, tak mampu membalas argumen Abu Hanifah. ***

