POJOKSATU.id — Dikisahkan oleh Abdul Mun’im dari ayahnya, Wahab, terdapat seorang raja yang tengah membangun sebuah istana yang menjulang tinggi dan megah.
Di sekitar lokasi pembangunan, berdiri sebuah gubuk sederhana milik seorang nenek tua yang hidup dalam kemiskinan.
Gubuk itu bukan hanya tempat tinggal baginya, tetapi juga tempat ia mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadahnya.
Suatu hari, sang raja melakukan inspeksi untuk memastikan pembangunan istananya berjalan sesuai rencana.
Didampingi oleh para pejabat dan kepala proyek, ia berkeliling sambil memperhatikan setiap sudut konstruksi.
Pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah gubuk di seberang.
Dengan ekspresi tidak senang, ia bertanya, “Apa itu?” sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Jauzi dalam Kitab 'Uyunul Hikayat (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2019), halaman 176-177.
Seorang pejabat yang mendampinginya menjawab, “Itu adalah rumah seorang perempuan tua, Baginda.”
Keberadaan gubuk itu dianggap mengganggu estetika dan kemegahan istana yang tengah dibangun.
Sang raja pun dengan penuh amarah memerintahkan para prajuritnya untuk segera merobohkannya.
Kebetulan, saat itu si nenek sedang tidak berada di rumah karena tengah mencari nafkah.
Tanpa kesulitan, para prajurit melaksanakan perintah tersebut, meruntuhkan gubuk itu hingga rata dengan tanah.
Ketika sang nenek kembali, ia terperanjat mendapati tempat tinggalnya telah lenyap. Hatinya remuk, dan ia bertanya dengan suara bergetar, “Siapa yang telah menghancurkan rumahku?”
Tak butuh waktu lama bagi nenek itu untuk mengetahui bahwa perintah tersebut berasal dari sang raja.
Dengan penuh kepiluan, ia menengadahkan tangan ke langit, air mata mengalir membasahi wajahnya.
Dengan hati yang hancur, ia mengadu kepada Allah atas ketidakadilan yang menimpanya.
“Ya Rabb, aku tidak ada di sini ketika rumahku dihancurkan, tetapi Engkau selalu ada dan mengetahui segala yang terjadi,” serunya lirih.
Allah pun tidak membiarkan kezaliman itu berlalu tanpa balasan.
Perlahan namun pasti, pembangunan istana sang raja mulai mengalami kendala.
Struktur yang awalnya kokoh mulai melemah, hingga akhirnya bangunan megah itu runtuh dengan sendirinya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa seorang pemimpin harus bersikap adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
Jangan sampai ada rakyat yang merasa terzalimi hingga mengadu kepada Sang Maha Kuasa. Rasulullah bersabda:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ
Artinya: “Takutlah dan waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi karena tidak ada antara ia dan Allah penghalang (mustajabah).” (HR Bukhari).
Seorang pemimpin juga harus memiliki empati terhadap penderitaan rakyatnya.
Seperti dalam kisah ini, sang raja bertindak sewenang-wenang hanya demi kepentingannya sendiri, tanpa sedikit pun mempertimbangkan nasib seorang nenek tua yang kehilangan satu-satunya tempat tinggalnya. Wallahu a‘lam.

