POJOKSATU.id — Di sebuah kota yang tengah dilanda kegelisahan, Abu Hasan bin Bisyar merasa terusik oleh kehadiran seorang pejabat baru yang gemar berpesta pora.

Pejabat itu sebelumnya bertugas di luar kota, namun kini ia membawa kebiasaan buruknya ke lingkungan baru.

Malam-malamnya diwarnai dengan perjamuan yang berlebihan, diiringi minuman keras dan diakhiri dengan percekcokan di antara para tamu.

Tak ada yang berani menegur, sebab rumah pejabat tersebut dijaga ketat oleh para pengawal bersenjata.

Sebagai seorang warga biasa, Abu Hasan tak memiliki kekuatan untuk secara langsung menghentikan perilaku buruk sang pejabat.

Baca Juga: Kisah Kesederhanaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Dicintai Langit dan Bumi, Para Syuhada Meminta Izin kepada Allah untuk Menghadiri Pemakamannya

Namun, keimanan dalam hatinya menuntunnya untuk mencari cara yang lebih bijaksana.

Ia mengajak teman-temannya bermusyawarah, hingga akhirnya muncul sebuah gagasan untuk melemahkan keangkuhan sang pejabat dengan cara yang tidak terduga: mereka akan berdoa bersama di rumah Abu Hasan yang terletak berhadapan dengan kediaman sang pejabat.

Dalam doa itu, mereka akan melantunkan syair-syair peringatan tentang pedihnya hari kebangkitan bagi mereka yang berlaku sewenang-wenang.

Malam pun tiba. Abu Hasan dan kawan-kawannya berkumpul di lantai atas rumahnya.

Baca Juga: Kisah Orang Badui Masuk Surga TANPA HISAB, Zikirnya Diikuti, Merasa Diolok-olok, Ia Lalu Bertanya, Betapa TERKEJUTNYA Ternyata yang DIhadapinya ...

Dengan suara lantang, mereka mulai melantunkan doa dan syair-syair yang menggugah hati.

Suara mereka menggema, membawa pesan yang mendalam. Gangguan ini membuat sang pejabat geram, sebab malam itu ia berencana menggelar pesta besar.

Tak ingin pestanya terganggu, ia mengutus ajudannya untuk memperingatkan Abu Hasan.

Baca Juga: Kisah Wanita yang Bersabar, Wajahnya Bersinar Saat Beribadah Haji, Tidak Mengeluh di Tengah Ujian Hebat yang Mengguncang

Ajudan itu mendatangi Abu Hasan dan berkata, "Sebaiknya kalian menghentikan perkumpulan ini. Tuan kami merasa terganggu, dan jika kalian membangkang, para pengawal akan segera menggerebek rumah kalian. Kalian tak akan memiliki penolong."

Namun, Abu Hasan tetap teguh pada pendiriannya.

Dengan tenang, ia menjawab, "Katakan pada tuanmu bahwa kami akan melawannya dengan pedang malam yang tak akan sanggup ia tangkis."

Ajudan itu kembali melapor kepada sang pejabat. Mendengar ucapan Abu Hasan, pejabat itu terkejut. "Apa maksudnya pedang malam?" tanyanya.

Karena tak memahami maksud ucapan itu, sang ajudan kembali menemui Abu Hasan untuk menanyakan artinya.

Baca Juga: Kisah Wanita Alawiyah, KELAPARAN Cari Makanan untuk Anaknya, Jadi CAHAYA HIDAYAH bagi Seorang Pemimpin Majusi, Allah SWT Menyiapkan Istana di Surga

Dengan keyakinan penuh, Abu Hasan menjawab, "Pedang malam adalah doa. Kami akan berdoa dengan sungguh-sungguh sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi, memohon kepada Allah agar memenangkan kami atas diri kalian."

Ketika jawaban itu sampai ke telinga sang pejabat, tubuhnya gemetar hebat.

Ia menyadari bahwa tak ada kekuatan yang mampu melawan doa orang-orang saleh.

Rasa takut menyelimuti hatinya, dan ia pun merenungi perbuatannya.

Air mata tobat mulai mengalir dari matanya. Malam itu, ia bersimpuh dalam penyesalan, berjanji dalam hati untuk tidak lagi mengulang kebiasaan buruknya. ***