POJOKSATU.id — Kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi orang yang membenci dirinya menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam.
Salah satu cerita yang kerap dikisahkan adalah tentang seorang pengemis buta di pasar Madinah yang setiap hari mencaci maki beliau tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang datang membantunya.
Setiap pagi, di salah satu sudut pasar, seorang pengemis buta Yahudi selalu meneriakkan kata-kata kebencian terhadap Nabi Muhammad SAW.
Ia memperingatkan orang-orang agar menjauhi Rasulullah dengan tuduhan bahwa beliau adalah penyihir, pembohong, dan orang gila.
Baca Juga: Kisah Sahabat Rasulullah MENAHAN LAPAR Demi Menghormati Tamu, Membuat Allah Takjub Kepadanya
“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad! Dia orang gila, dia pembohong, dia penyihir! Jika kalian mendekatinya, kalian akan dipengaruhinya!” teriaknya berulang kali.
Nabi Muhammad SAW mengetahui hal ini, namun bukannya marah atau membalas, beliau justru datang kepadanya setiap hari dengan membawa makanan.
Tanpa berkata sepatah kata pun, beliau menyuapi pengemis buta tersebut dengan penuh kelembutan.
Sementara itu, si pengemis tetap mencaci maki beliau tanpa menyadari siapa orang yang sedang menyuapinya.
Setelah Rasulullah SAW wafat, kebiasaan itu pun terhenti.
Suatu hari, Abu Bakar RA mengunjungi putrinya, Aisyah RA, dan bertanya, “Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku lakukan?”
Aisyah pun menjawab, “Wahai ayah, engkau telah menjalankan hampir semua sunnahnya, kecuali satu hal.”
Saat Abu Bakar bertanya lebih lanjut, Aisyah menjelaskan bahwa setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke sudut pasar untuk memberi makan seorang pengemis Yahudi buta.
Mendengar hal itu, Abu Bakar RA segera pergi ke pasar dengan membawa makanan.
Ia mendekati pengemis buta tersebut dan mulai menyuapinya.
Namun, pengemis itu langsung marah dan berteriak, “Siapa kamu? Engkau bukan orang yang biasa datang kepadaku!”
Abu Bakar RA terkejut dan bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu?”
Pengemis itu menjawab, “Orang yang biasa datang selalu menyuapiku dengan lembut. Sebelum memberikan makanan, ia menghaluskannya terlebih dahulu agar mudah kutelan. Ia begitu penuh kasih.”
Mendengar hal itu, Abu Bakar tidak dapat menahan tangisnya.
Dengan suara bergetar, ia berkata, “Orang yang selalu mendatangimu itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Pengemis itu terdiam sejenak, lalu menangis tersedu.
Dengan penuh penyesalan, ia berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu mencaci dan memfitnahnya, namun ia tidak pernah marah kepadaku sedikit pun. Ia bahkan tetap datang setiap pagi membawakan makanan dan menyuapiku dengan penuh kasih sayang.”
Di hadapan Abu Bakar RA, pengemis buta Yahudi itu akhirnya mengucapkan syahadat dan masuk Islam.
Kisah ini memang diragukan kebenarannya oleh banyak ulama, namun nilai hikmah yang terkandung di dalamnya tetap memberikan pelajaran berharga tentang akhlak mulia Rasulullah SAW. ***

