POJOKSATU.id — Di sebuah negeri yang jauh, hiduplah seorang pemuda yang dikenal sebagai sosok yang bertakwa, namun memiliki kepolosan yang luar biasa.
Ia menuntut ilmu dari seorang syekh yang bijaksana, dan setelah beberapa waktu belajar, syekh itu memberikan sebuah nasihat yang mendalam kepadanya dan murid-murid lainnya:
“Kalian tidak boleh menjadi beban bagi orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang mengulurkan tangan kepada orang-orang kaya tidak memiliki kebaikan dalam dirinya.
Pergilah dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Jalankan pekerjaan itu dengan ketakwaan kepada Allah.”
Mendengar nasihat tersebut, sang pemuda segera pulang dan bertanya kepada ibunya tentang pekerjaan ayahnya dahulu.
Namun, sang ibu tampak ragu dan enggan menjawab.
Setelah didesak berkali-kali, akhirnya dengan nada berat, ibunya berkata, “Nak, ayahmu dahulu adalah seorang pencuri.”
Pemuda itu terdiam, tetapi dengan keyakinan teguh ia menjawab, “Guruku memerintahkan kami untuk bekerja sesuai dengan pekerjaan ayah kami, dan tetap bertakwa dalam menjalankannya.”
Ibunya terkejut. “Bagaimana mungkin ada ketakwaan dalam mencuri?” tanyanya penuh cemas.
Namun, pemuda yang lugu itu tetap teguh pada keyakinannya.
Ia pun mulai belajar teknik mencuri dari orang-orang yang berpengalaman.
Setelah merasa siap, ia pun bersiap melakukan aksinya. Malam itu, setelah menunaikan shalat Isya, ia menunggu hingga semua orang terlelap.
Ketika malam semakin larut, ia keluar dengan peralatan mencurinya dan mendatangi rumah pertama yang ia temui.
Namun, sebelum masuk, ia teringat pesan syekhnya untuk selalu bertakwa. Ia merenung sejenak dan sadar bahwa mengganggu tetangga bukanlah bagian dari ketakwaan.
Maka, ia meninggalkan rumah itu.
Ia berjalan lagi dan menemukan rumah seorang anak yatim.
Hatinya kembali tersentuh, karena Allah telah memperingatkan agar tidak memakan harta anak yatim secara zalim. Maka, ia kembali mengurungkan niatnya.
Setelah berjalan lebih jauh, ia sampai di rumah seorang pedagang kaya yang tidak memiliki penjaga.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pedagang ini memiliki harta yang melimpah. “Ini tempatnya,” gumamnya.
Dengan hati-hati, ia membobol pintu rumah dan masuk. Rumah itu besar, dengan banyak ruangan, hingga akhirnya ia menemukan tempat penyimpanan harta.
Ketika membuka sebuah kotak, ia melihat emas, perak, dan uang dalam jumlah banyak. Tangannya hampir saja mengambilnya, tetapi ia kembali teringat pesan syekhnya.
“Syekhku berpesan untuk selalu bertakwa,” katanya dalam hati. “Mungkin pedagang ini belum menunaikan zakat hartanya. Lebih baik aku hitung dulu dan keluarkan zakatnya.”
Ia pun mencari buku catatan keuangan dan mulai menghitung dengan cermat.
Ia sangat pandai berhitung dan memiliki pengalaman dalam pembukuan. Berjam-jam ia sibuk memisahkan harta yang harus dikeluarkan sebagai zakat.
Saat ia tengah menghitung, fajar mulai menyingsing. Ia terkejut dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku harus shalat dulu!”
Ia pun pergi ke ruang tengah, mengambil air wudhu, dan mulai menunaikan shalat sunnah.
Pada saat itulah, pemilik rumah terbangun. Ia melihat ada cahaya dari lentera kecil di ruangan penyimpanan hartanya.
Ia berjalan perlahan, dan betapa terkejutnya ia saat melihat kotak hartanya terbuka, tetapi tidak ada yang hilang.
Justru, di hadapannya, seorang pria tengah khusyuk menunaikan shalat.
Istrinya yang ikut terbangun bertanya, “Ada apa ini?”
Sang pedagang menggeleng, “Demi Allah, aku juga tidak tahu.”
Ia kemudian mendekati pemuda itu, lalu bertanya dengan nada tegas, “Siapa kau, dan apa yang kau lakukan di sini?”
Pemuda itu menoleh dan dengan polos menjawab, “Aku seorang pencuri.”
Pedagang itu mengerutkan kening, “Kalau kau pencuri, mengapa kau tidak mengambil hartaku?”
Pemuda itu menjelaskan dengan jujur, “Aku ingin mengambilnya, tetapi aku teringat pesan guruku untuk selalu bertakwa. Maka aku memutuskan untuk terlebih dahulu menghitung zakat dari hartamu dan memisahkannya.”
Mendengar jawaban itu, sang pedagang tertawa terbahak-bahak, lalu menatap pemuda itu dengan rasa kagum. Ia berkata, “Demi Allah, kau bukan pencuri. Kau justru orang yang paling jujur yang pernah aku temui!”
Akhirnya, pedagang itu bukan hanya mengampuni pemuda tersebut, tetapi juga menjadikannya sebagai pegawai kepercayaannya.
Dari sana, hidup pemuda itu berubah. Ia tidak hanya memperoleh rezeki yang halal, tetapi juga semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan ilmu dan ketakwaannya. ***

