POJOKSATU.id, MEKAH tak hanya tempat menunaikan ibadah haji bagi Indonesia. Dalam sejarahnya, Tanah Suci itu menyalakan api nasionalisme menentang koloanialisme Belanda hingga muncul nama Snouck Hurgronje.

Snouck Hurgronje sampai diutus kolonial Belanda untuk memata-matai orang Indonesia yang ada di Mekah saat itu.

Snouck Hurgronje yang lahir 8 Februari 1857 hingga meninggal 26 Juni 1936 adalah seorang penasehat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Sejahrawan asal Sumatera Utara (Sumut) Dr. Phil Ichwan Azhari menjelaskan Belanda cemas dengan para haji yang sepulangnya dari Mekah mengobar-ngobarkan semangat jihad menentang kolonialisme dan menentang dominasi Belanda dalam perekonomian.

Baca Juga: Sepaham dengan Ahli Belanda, Prabowo Sebut Rumput Laut Bisa Gantikan BBM

"Belanda melakukan berbagai cara untuk mengatasi ini, diantaranya dengan membuka Konsulat di Mekah dan menempatkan Snouck Hurgronje untuk menjadi intelijen dan memberikan laporan rahasia kepada pemerintah Belanda," paparnya di laman Facebook milik Ichwan Azhari tertanggal 10 September 2016.

Snouck yang fasih berbahasa Arab, melalui mediasi dengan gubernur Ottoman di Jeddah berhasil masuk ke Mekah pada tahun 1885.

Snouck sebagai ilmuwan menggunakan apa yang disebut dalam antropologi tradisional sebagai metode observasi partisipasi.

Ichwan Azhari mengungkapkan Snouck berpura-pura masuk Islam, disyahadatkan dan mengganti namanya menjadi Abdul Ghafar.

Baca Juga: Calon Jemaah Haji Dibebankan Rp 56 Juta, Begini Komentar MUI

"Saya bayangkan bagaimana orang Belanda yang "saleh" ini. Naik haji dengan khidmat dan melakukan seluruh tahapan rangkaian ibadah haji, termasuk lari lari kecil kelilingi Ka'bah," tulisnya.

Ichwan menjelaskan dalam surat-surat Snouck yang kemudian disimpan di dalam arsip, pria tersebut menulis korespondensi dalam bahasa Jerman yang menyatakan keterusterangannya pura-pura masuk Islam.

Snouck mengakui berpura-pura masuk Islam agar bisa memasuki dan meneliti orang-orang Indonesia di jantung Mekah.

"Saat ini informasi tentang sepak terjang Snouck di Mekah bahannya sangat banyak di internet," lanjut keterangan Ichwan Azhari.

Baca Juga: Biaya Haji 2024 Rp93,4 Juta, Menag: Jamaah Bisa Cicil Pembayaranya

Saat itu, Belanda kesulitan mengidentifikasi gerakan kebangsaan Islam para Haji Indonesia. Sehingga perlu menghadirkan Snouck yang kemudian dikenal sebagai orientalis kaliber dunia.

Dia juga dikenal sebagaipengajar di Universitas Leiden dan bermukim di kota itu. Rumahnya telah dijadikan semacam museum dan arsip Snouck Hurgronje.

Tahun 1995, Ichwan Azhari berkesempatan mengunjungi rumah Snock di Leiden itu bersama Prof Usman Pelly dan didampingi adik kelasnya dosen UINSU, Zainul Fuad yang saat itu lagi kuliah di Leiden.

"Waktu itu saya katakan, rumah sejarah ini tempat awal menyimpan harta karun pengetahuan tentang Islam di Indonesia dan Aceh, kalau mau kaya pengetahuan Islam para orientalis, mari kita ” sita" rumah Snouck ini," kenangnya.

Baca Juga: Kisah Soekarno Larang Grup Musik The Beatles di Indonesia, Sampai Gelar Razia Rambut Gondrong 

Ichwan Azhari menjelaskan Snouck benar benar merupakan orang Belanda yang naik haji untuk kepentingan Belanda. Ini menandakan keberadaan jemaah haji Indonesia di Mekah sangat potensial membuat gerakan di tanah air.

Diantara para jamaah haji Indonesia yang ke Mekkah, tidak sedikit yang kemudian menjadi tokoh gerakan menentang kolonialisme.

"Nama-nama dan sumber tentang mereka begitu banyak namun belum dimasukkan dalam historiografi resmi versi pemerintah Indonesia. Peranan para haji yang ke Mekah dalam gerakan nasionalisme Indonesia belum ditulis dengan baik," jelasnya.

Pun demikian, Ichwan Azhari menyebutkan intel seperti Snouck Hurgronje itu tidak perlu dikirim pemerintah RI sekarang ke Mekah. Karena para jemaah haji Indonesia yang sekarang memiliki "pelan vital" perjuangan yang berbeda dengan dulu.

Baca Juga: Jadi Mantan Istri Prabowo Subianto, Ternyata Segini Harta Kekayaan Titik Soeharto Selama Ini

Menurutnya jamaah haji dulu mengkonsolidasikan perjuangan Indonesia yang bebas dari dominasi politik dan ekonomi asing.

Tapi sekarang, para jamaah haji kita yang berangkat dalam format berbeda. "Tak relevan lagikah, melahirkan gerakan politik, ekonomi, budaya ataupun pemikiran yang membuat Indonesia terbebas dari belenggu ekonomi asing?," ungkapnya.

Kini, dominasi ekonomi asing lebih parah menyusup ke sendi kehidupan Indonesia dibanding dulu. "Tapi apakah tak masanya lagi orang membahas , mengkonsolidasikan dan memperjuangkannya sambil naik haji ke Mekah?," tuturnya.

Dilansir dari sumber lain, Wikipedia berdasarkan arsip Departemen Koloni dikelola oleh Arsip Nasional di Den Haag menyebutkan, Snouck menjadi profesor Melayu di Universitas Leiden.

Dia menjadi penasehat resmi kepada pemerintah Belanda untuk urusan kolonial pada 1889. Dan, mengambil peran aktif dalam bagian akhir (1898-1905) Perang Aceh (1873-1913).

Snouck menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam untuk merancang strategi yang secara signifikan membantu menghancurkan perlawanan dari penduduk Aceh.

Dia juga memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda pada mereka, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekira 1 juta terluka.

Di awal kariernya, sebagai akademisi, Snouck berani mengkritik ahli Arab dan Islam A.W.T Juynboll dan Christian Van den Berg yang lebih senior darinya serta ahli hukum Utrecht J. de Louter.

Snouck mengkritik analisis Van den Berg tentang konsep kemurnian syariat Islam yang mengganggap praktik Islam di Indonesia melenceng dari praktik di Arab.

Kritikan Snouck ini malah disambut positif oleh kalangan akademisi di KITLV. Snouck mendapat pendanaan untuk melakukan penelitian di Mekah.

Ia mendapat rekomendasi dan dukungan dari Konsul J.A Kruyt di Jeddah untuk mempelajari ibadah haji yang digelar setiap tahun dan sejumlah kalangan Muslim dari Indonesia.

Bercita-cita untuk mereformasi kebijakan kolonial Belanda, Snouck pindah ke Hindia Belanda pada tahun 1889. Snouck awalnya ditunjuk sebagai peneliti pendidikan Islam di Buitenzorg dan profesor bahasa Arab di Batavia pada tahun 1890.

Meskipun pada awalnya ia tidak diizinkan untuk mengunjungi Aceh di Sumatra, ia menolak tawaran untuk kembali ke Eropa dari Universitas Leiden dan Universitas Cambridge.

Pada tahun 1890 ia menikah dengan putri seorang bangsawan pribumi di Ciamis, Jawa Barat.

Karena kontroversi ini disebabkan di Belanda, Snouck menyebut pernikahan ini sebagai "kesempatan ilmiah" untuk mempelajari dan menganalisis upacara pernikahan Islam. Empat anak telah lahir dari pernikahan ini.

Antara 1891-1892, Snouck yang saat itu telah fasih berbahasa Aceh, Melayu dan Jawa akhirnya pergi ke Aceh.

Di bawah nama "Haji Abdul Ghaffar", ia membangun sebuah hubungan kepercayaan dengan unsur agama penduduk di wilayah ini.

Selama tujuh bulan Snouck berada di Aceh, sejak 8 Juli 1891 dia dibantu beberapa orang pelayannya.

Baru pada 23 Mei 1892, Snouck mengajukan Atjeh Verslag, laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasihat strategi kemiliteran Snouck.

Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894.

Dalam Atjeh Verslag-lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya.

Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik Divide et impera.

Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung.

Pada tahun 1898 Snouck menjadi penasihat terdekat Kolonel Van Heutsz dalam "menenangkan" Aceh dan nasihatnya berperan dalam membalikkan keberuntungan Belanda dalam mengakhiri Perang Aceh yang berlarut-larut.

Hubungan antara Heutsz dan Snouck memburuk ketika Heutsz terbukti tidak mau menerapkan ide Snouck untuk administrasi dan etika tercerahkan.

Pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Snouck terpaksa membalikkan metode dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata.

Ini menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk.

Kecewa dengan kebijakan kolonial, ia kembali ke Belanda dan diterima beberapa profesor di Universitas Leiden, termasuk bahasa Arab, bahasa Aceh dan pendidikan Islam.

Pada tahun 1925, dia menawarkan diri sebagai guru besar di Mesir Universitas Nasional di Kairo, universitas utama di Timur Tengah.

Pada tahun 1927, Snouck Hurgronje mengundurkan diri sebagai rektor magnificus dan profesor, tetapi tetap aktif sebagai penasihat hingga meninggal dunia di Leiden pada 1936. ***