POJOKSATU.id — Bicara bajak laut, kebanyakan orang pasti langsung membayangkan karakter topi tengkorak, meriam, dan kapal layar besar seperti dalam film Pirates of the Caribbean atau serial anime One Piece yang lagi ramai gegara benderanya dipasang bersama Sang Merah Putih.
Percaya atau tidak, Indonesia punya kisah bajak laut yang jauh lebih nyata, berdarah, dan penuh intrik politik.
Salah satunya adalah jejak legendaris Chen Zuyi, si Naga Hitam dari Palembang!
Ketika Perairan Palembang Dikuasai Bajak Laut
Awal abad ke-15 menjadi salah satu periode tergelap bagi pelaut dan pedagang yang melintas di sekitar Selat Malaka.
Chen Zuyi, seorang perompak asal Tiongkok, menjelma menjadi mimpi buruk para pedagang di kawasan itu.
Ia bukan sekadar perampok laut biasa, tapi pemimpin kelompok bajak laut yang terorganisir dan kejam.
Konon, dia menguasai Palembang, memperalat kekuatan di laut untuk memungut upeti, menekan pedagang asing, dan menebar ketakutan.
Dalam bukunya Laksamana Cheng Ho (2020), Muhammad Muhibbudin menyebutkan bahwa kekuasaan Chen Zuyi benar-benar menebar ancaman hingga ke Sumatra.
Ia menjadi penguasa tak resmi Palembang dan menjadikan Selat Malaka sebagai ladang jarahan.
Kondisi ini bertepatan dengan melemahnya pengaruh Kerajaan Sriwijaya, yang sebelumnya dikenal sebagai penjaga laut Nusantara.
Ketika kekuatan politik Sriwijaya menurun, celah kekuasaan terbuka—dan bajak laut seperti Chen Zuyi pun leluasa beraksi.
Cheng Ho dan Misi Menumpas Sang Perompak
Mendapati kekacauan yang melanda jalur maritim penting itu, Kaisar Yongle dari Dinasti Ming tak tinggal diam.
Ia memerintahkan ekspedisi laut besar-besaran yang dipimpin oleh seorang laksamana legendaris, Cheng Ho.
Baca Juga: Legenda Danau Toba, Bencana yang Melahirkan Kajaiban Alam
Ekspedisi ini bukan sekadar pelayaran damai, tapi juga operasi militer untuk memulihkan wibawa dan ketertiban di jalur dagang penting.
Pada tahun 1407, Cheng Ho singgah di Palembang dengan armada raksasa—puluhan kapal dan puluhan ribu tentara.
Tujuan utama operasi ini adalah menghabisi Chen Zuyi dan kelompoknya.
Cheng Ho bahkan sudah menyampaikan maklumat kaisar secara terbuka agar Chen Zuyi menghentikan aksinya.
Tapi si Naga Hitam tetap keras kepala. Ia bahkan berniat merampok armada Cheng Ho yang membawa banyak harta upeti dari negeri-negeri lain.
Rencana busuk itu bocor ke telinga Shi Jinqing, seorang tokoh penting Palembang yang kemudian memberi tahu Cheng Ho.
Tak mau diserang duluan, Cheng Ho menyusun perangkap matang.
Malam itu, ketika kapal-kapal bajak laut mendekat, armada Cheng Ho menyerang balik dengan panah api dan meriam.
Baca Juga: Roro Jonggrang, Cinta, Kutukan, dan Legenda yang Membatu di Prambanan
Lautan Palembang berubah menjadi ladang pertempuran.
Dalam satu malam, kelompok bajak laut yang berjumlah lebih dari 5.000 orang itu dihancurkan.
Chen Zuyi dan dua pembantunya ditangkap hidup-hidup, lalu dibawa ke Tiongkok untuk dihukum mati. Tamat sudah riwayat sang perompak legendaris ini.
Bajak Laut dan Sriwijaya
Namun, tak semua bajak laut dipandang sebagai ancaman.
Jauh sebelum era Chen Zuyi, bajak laut justru menjadi bagian penting dari sistem pertahanan laut Kerajaan Sriwijaya.
Kerajaan maritim ini, yang berdiri sejak abad ke-7 hingga ke-11, dikenal sangat strategis dan lihai memanfaatkan kekuatan laut.
Mereka menjadikan kelompok-kelompok bajak laut sebagai bagian dari armada pertahanan kerajaan.
Bukannya dihancurkan, para bajak laut ini justru diintegrasikan ke dalam sistem militer untuk menjaga jalur perdagangan di Selat Malaka.
Mereka bertugas memantau lalu lintas kapal, memungut upeti, bahkan kadang memberikan perlindungan pada kapal dagang yang melintasi kawasan tersebut.
Dengan pendekatan cerdas ini, Sriwijaya berhasil mempertahankan dominasinya sebagai penguasa jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara selama berabad-abad.
Laut Nusantara, Panggung Kekuasaan yang Tak Pernah Sepi
Kisah Chen Zuyi, Cheng Ho, dan Sriwijaya adalah pengingat bahwa laut bukan hanya tempat pelayaran dan perdagangan, tapi juga arena pertarungan kekuasaan, diplomasi, dan kadang pengkhianatan.
Dari zaman Sriwijaya, kolonial, hingga kini, jalur laut di Indonesia selalu jadi titik panas yang diperebutkan.
Cerita bajak laut di nusantara adalah kisah yang menyimpan nilai heroik, membantu pasukan kerajaan dan memilih hidup di antara gelombang, senjata, dan tujuannya.
Laut memag tak pernah sepi dari panggung kekuasaan.
Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami:
-
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Reizka Kemala Nazar

