POJOKSATU.id — Musim haji telah tiba. Kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menuju Makkah, memenuhi panggilan Ilahi.
"Labbaikallahumma labbaik" menggema di seantero kota suci.
Mereka datang dengan bekal taqwa, mengingat jejak perjalanan Nabi Ibrahim a.s., sebagai wujud kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah SWT.
Di hadapan-Nya, tidak ada perbedaan antara raja dan rakyat, kaya dan miskin—hanya ketakwaan yang menjadi pembeda.
Di antara lautan manusia yang berthawaf mengelilingi Ka’bah, tampak seorang pria paruh baya tanpa penutup kepala, hanya mengenakan kain ihram dan bertelanjang kaki.
Di belakangnya, dua pemuda berwajah tampan mengikuti langkahnya dengan penuh hormat.
Kedua pemuda itu adalah anaknya, sedangkan pria tersebut tak lain adalah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.
Usai menyelesaikan putaran terakhir thawaf, sang khalifah berkata kepada salah satu prajuritnya, “Aku ingin menemui sahabatmu. Di mana dia?”
Prajurit itu menjawab, “Ia sedang sholat di sudut barat masjid.”
Segera, Khalifah Sulaiman berjalan ke arah yang dimaksud, diiringi kedua putranya serta beberapa pengawal kerajaan.
Saat mereka mendekat, para pengawal hendak menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan, tetapi sang khalifah segera mencegah mereka dan berkata,
“Di tempat ini, tidak ada perbedaan antara raja dan rakyat. Tidak ada seorang pun yang lebih mulia daripada yang lain, kecuali berdasarkan amal dan ketakwaannya.
Bisa jadi ada seseorang yang tampak lusuh dan berdebu, tetapi doanya diterima oleh Allah, sementara raja-raja justru tertolak di sisi-Nya.”
Setelah menunggu beberapa saat, lelaki yang dituju menyelesaikan sholatnya.
Kini, wajahnya terlihat jelas—ia adalah seorang pria tua berkulit hitam legam, berambut keriting, dan berhidung pesek.
Seorang dari Habsyah, yang menghabiskan masa mudanya di Hijaz untuk mendalami Islam. Dialah Atha’ bin Abi Rabah.
Dengan penuh takzim, Khalifah Sulaiman mendekatinya dan mengucapkan salam, lalu mengajukan beberapa pertanyaan tentang tata cara ibadah haji.
Atha’ menjawab dengan jelas dan rinci, disertai dalil dari hadis Rasulullah SAW.
Setelah memperoleh penjelasan, sang khalifah pun berpamitan untuk melanjutkan sa’i bersama kedua putranya dan rombongan.
Saat mereka berjalan, seorang pegawai pemerintahan menyerukan kepada jamaah, “Wahai kaum muslimin! Tidak ada yang boleh memberikan fatwa di tempat ini kecuali Atha’ bin Abi Rabah. Jika beliau tidak ada, maka Abdullah bin Abi Nujaih.”
Putra sulung khalifah merasa heran. “Mengapa mereka melarang orang lain memberi fatwa selain Atha’ bin Abi Rabah dan sahabatnya? Bahkan, ayahanda sendiri baru saja meminta fatwa kepada seseorang yang tak diperlakukan sebagaimana layaknya seorang khalifah.”
Sang khalifah tersenyum dan menatap putranya dengan penuh kebijaksanaan.
“Orang yang tadi kita temui saat sholat itu adalah Atha’ bin Abi Rabah. Dialah pemegang fatwa di Masjidil Haram dan penerus keilmuan Abdullah bin Abbas dalam kedudukan yang agung ini.”
Subhanallah, betapa mulianya ilmu. Ia mampu mengangkat derajat seseorang yang sebelumnya tak dianggap, menjadikan yang lemah menjadi kuat, dan meninggikan seorang mantan budak melebihi para raja. ***

