POJOKSATU.id — Dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Khalifah Harun Al Rasyid.
Di era emas ini, tidak ada negeri di belahan dunia mana pun yang menandingi kemajuan ilmu pengetahuan, arsitektur, serta peradaban masyarakat Daulah Islamiyah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.
Kota ini menjadi mercusuar ilmu pengetahuan, melahirkan banyak cendekiawan besar, dan menjadi tempat berkembangnya studi keagamaan serta penelitian yang pesat.
Harun Al Rasyid dikenal sebagai sosok pemimpin yang saleh, mencintai ilmu, dan memiliki kedekatan dengan para ulama.
Ia sering meminta nasihat dari mereka, bahkan anak-anaknya pun menuntut ilmu kepada Imam Malik rahimahullah.
Ia bersama putra-putranya kerap menghadiri majelis ilmu yang membahas Kitab Al Muwatha’. Di bawah kepemimpinannya, keadilan ditegakkan, dan kesejahteraan rakyat menjadi prioritas utama.
Salah satu ulama yang kerap memberi nasihat kepada Harun Al Rasyid adalah Ibnu Samak rahimahullah, seorang alim yang zuhud dan tidak tergiur gemerlap dunia.
Ia selalu menyampaikan kebenaran dengan lantang tanpa rasa takut.
Suatu hari, Ibnu Samak datang menemui Harun Al Rasyid yang tengah duduk bersama para penasihatnya.
Setelah mengucapkan salam, ia memuji Allah dan bershalawat atas Nabi serta para sahabatnya, lalu menyampaikan pesan penuh hikmah.
Ia mengingatkan sang khalifah agar senantiasa bertakwa kepada Allah dalam setiap kesempatan, karena rahmat dan ampunan hanya diberikan kepada hamba yang mendekatkan diri kepada-Nya.
Harun Al Rasyid mendengarkan dengan penuh perhatian.
Namun, salah seorang penasihatnya, Fadlal bin Rabi, mencoba mencari muka dengan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sungguh engkau telah menjalankan amanah dengan adil. Maka, aku yakin bahwa engkau akan masuk surga karena keadilanmu itu.”
Mendengar sanjungan tersebut, Ibnu Samak segera menimpali dengan penuh ketegasan,
“Wahai Amirul Mukminin, di hari perhitungan kelak, engkau akan berdiri sendiri di hadapan Pengadilan Allah Yang Maha Adil.
Tidak ada seorang pun, termasuk Fadlal bin Rabi, yang dapat mendampingimu untuk membela dirimu. Maka bertakwalah kepada Allah, karena sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.”
Baca Juga: Kisah Sahabat Rasulullah MENAHAN LAPAR Demi Menghormati Tamu, Membuat Allah Takjub Kepadanya
Ia kemudian menggambarkan beratnya hari hisab, di mana setiap amal manusia akan diperhitungkan dengan teliti.
Mendengar nasihat ini, air mata Khalifah Harun Al Rasyid jatuh membasahi janggutnya, tanda ketakutan dan kesadaran akan besarnya tanggung jawab yang ia emban.
Di sepanjang kepemimpinannya, Harun Al Rasyid terus berusaha menegakkan keadilan dan menjaga kesejahteraan umat.
Pada masanya, lahir berbagai karya besar yang memperkaya peradaban Islam, menjadikannya salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah Islam. ***

