POJOKSATU.id — Pada suatu hari, seorang pembunuh yang lehernya terikat dibawa ke hadapan Rasulullah SAW.

Wali dari orang yang terbunuh pun dipanggil untuk menentukan nasib sang pelaku.

Rasulullah SAW bertanya, "Apakah engkau ingin memaafkannya?"

Orang itu menjawab, "Tidak."

Beliau bertanya lagi, "Apakah engkau ingin menerima diat (tebusan)?"

Orang itu tetap menjawab, "Tidak."

Beliau kembali bertanya, "Apakah engkau akan membunuhnya?"

Ia menjawab, "Ya."

Rasulullah SAW pun bersabda, "Bawalah dia pergi."

Baca Juga: Kisah Nyata Al Miski, Pemuda yang Menjaga Iman dari GODAAN MAKSIAT, Tubuh Hingga MAKAMNYA Mengeluarkan AROMA WANGI

Namun, sebelum wali korban benar-benar pergi, Rasulullah SAW kembali menanyakan pertanyaan yang sama hingga keempat kalinya.

Lalu beliau bersabda, "Ingatlah. Jika engkau memaafkannya, maka itu akan menghapus dosa-dosanya dan dosa temanmu (orang yang terbunuh)."

Mendengar sabda Nabi SAW, wali korban pun tersentuh dan memutuskan untuk memaafkan si pembunuh dengan melepaskan tali dari lehernya. (HR Muslim)

Rasulullah dan Keteladanan dalam Memaafkan

Sikap pemaaf merupakan akhlak mulia yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Banyak kisah menunjukkan bagaimana beliau memaafkan baik kawan maupun musuh.

Baca Juga: KIsah Cinta Pemuda yang Menuntunnya ke Surga, Cinta Karena Allah, Takut Berbuat Maksiat, Dipertemukan di Surga

Rasulullah SAW tidak pernah menyimpan dendam terhadap orang-orang musyrik maupun ahli kitab yang menentang dakwahnya.

Alih-alih membalas dengan kebencian, beliau justru mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah.

Suatu ketika, seorang Badui mengencingi masjid, membuat para sahabat geram.

Namun, Rasulullah SAW bersabda, "Biarkanlah dia dan siramkanlah setimba air ke air kencingnya karena sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah dan tidak diutus untuk mempersulit." (HR Muslim)

Begitu pula dengan kisah Tsumamah bin Utsal, pemimpin Bani Hanifah yang awalnya sangat membenci Rasulullah SAW dan berencana membunuhnya.

Dalam suatu pertempuran, Tsumamah tertangkap oleh pasukan Muslim dan dibawa ke Madinah. Ia diikat di salah satu sudut masjid.

Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "Apa yang kamu miliki, wahai Tsumamah?"

Tsumamah menjawab, "Aku memiliki kebaikan, wahai Muhammad. Jika kamu membunuhku, kamu membunuh orang yang memiliki darah.

Jika kamu memberi kenikmatan, kamu memberi kenikmatan kepada orang yang berterima kasih. Jika kamu menginginkan harta, mintalah apa yang kamu inginkan."

Baca Juga: Kisah Keteguhan Imam Abu Hanifah, Selalu Menolak Jabatan yang Ditawarkan, Ilmunya Tetap Tersebar Luas sebagai Mazhab

Selama dalam tawanan, Rasulullah SAW memperlakukan Tsumamah dengan baik. Ia diberi makan dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang.

Hingga akhirnya, setelah tiga kali ditanya hal yang sama, Rasulullah SAW memerintahkan agar Tsumamah dibebaskan.

Tsumamah pun pergi ke sumur kecil di dekat masjid, mandi, lalu kembali ke hadapan Rasulullah SAW dan mengucapkan, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."

Memaafkan: Jalan Menuju Kedamaian

Memaafkan adalah jembatan untuk menciptakan cinta dan harmoni di antara manusia. Jika dihina atau dicerca, balasan terbaik adalah memberi maaf.

Baca Juga: Kisah PERDEBATAN KEREN Abu Hanifah dan Ilmuwan Kafir di Atas Mimbar, Mempertahankan Keislaman dengan Jawaban Bijak dan Logika yang Tajam

Jika diperlakukan dengan buruk, membalas dengan kebaikan adalah jalan yang lebih mulia.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS Fushshilat: 34-35)

Sifat pemaaf merupakan cerminan dari nama Allah, Al-‘Afuww, yang berarti Maha Penghapus dosa.

Imam Ghazali menjelaskan bahwa Al-‘Afuww lebih tinggi tingkatannya dibandingkan Al-Ghafur, karena Al-Ghafur berarti menutupi dosa, sedangkan Al-‘Afuww berarti menghapus dosa sepenuhnya.

Sebagai umat Islam, meneladani sifat ini bukan hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga membawa ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan.

Selamat Idul fitri. Mohon maaf lahir dan bathin. ***