POJOKSATU.ID- Dikenal sebagai sosok pengusaha kaya raya pada saat ini, namun siapa sangka, jika Jusuf Hamka mempunyai pengalaman mengerikan di zaman Orde Baru saat pemerintahan Soeharto.

Jusuf Hamka pernah merasakan dinginnya bui karena ucapannya saat itu yang menginginkan Ibu Tien Soeharto jadi Wakil Presiden Soeharto.

Jusuf Hamka mengatakan, kisah pahitnya itu berawal ketika dia bersama ribuan massa hadir di Gedung DPR MPR kompak mendukung Soeharto kembali menjadi Presiden Indonesia.

Baca Juga: Puncak Hari Bhakti Imigrasi Ke - 74 Tahun di Gelar di BIJB

Namun di tengah keramaian, Jusuf Hamka malah mengusulkan jika Ibu Tien Soeharto cocok menjadi Wapres Soeharto.

Karena menurutnya, pasangan suami istri itu cukup kompeten membangun Indonesia.

"Waktu itu saya dateng ke Gedung MPR-DPR, waktu itu setiap Pemilu calon presidennya cuma satu. (Orang banyak berteriak) mendukung Presiden Soeharto sebagai presiden selanjutnya', di situ saya bilang 'mendukung wakil presidennya Ibu Tien Soeharto," kata Jusuf Hamka.

Baca Juga: Tak Kantongi Izin Kepolisian, Laga Persiraja Menjamu PSMS Digelar Tanpa Penonton

Nahas baginya, ketika dia pulang, rupanya Jusuf Hamka diikuti satu unit mikrolet yang parkir di depan rumahnya. Kemudian tanpa peringatan, Jusuf Hamka dihadang anggota polisi yang membawa surat penangkapan.

Setelah ditahan, kemudian Jusuf Hamka berusaha untuk menghubungi rekannya dikepolisian yang mempunyai pangkat lebih tinggi. Namun, kawannya yang berpangkat Brigjen mengaku tidak bisa membantu Jusuf Hamka.

"Dia bilang waduh Suf saya gak bisa bantu, ini perintah Pangab Pak Benny Moerdani, dia langsung tutup telepon saya. Saya bilang, gila ini bahaya banget, temen gue Brigjen aje takut," katanya.

Baca Juga: Anak Buah Cak Imin Ditangkap KPK, Ini Kasusnya

Namun, akhirnya Jusuf Hamka bisa bernapas lega lantaran dia bisa dibebaskan oleh Hendropriyono. Saat itu, Hendropriyono mendudui jabatan sebagai Asisten Intelijen Kodam Jaya.

Usai dibebaskan, ia sempat curiga karena takut akan ada penembak misterius (Petrus).

"Saya takut pulangnya dipetrus, jujur saya takut, gue dilepas, gue dibedil, kalau di situ sih gak mungkin saya dieksekusi," katanya.

Namun, ketakutan Jusuf Hamka itu pun tak terbukti, lantaran dirinya pulang dengan selamat.

Baca Juga: Update Hasil Survei Capres-Cawapres 2024 dari 15 Lembaga Survei Terbaru Januari: LSI Denny JA, Charta Politika sampai Poltracking

Sebelumnya, Jusuf Hamka menyebut Presiden Soeharto mempersempit peluang orang Tionghoa untuk berkarier di sejumlah sektor pemerintahan negara.

Oleh karena itu kata Jusuf Hamka, orang Tionghoa saat itu membalas perlakuan Soeharto dengan cerdik dan berkelas di sektor lain yang dianggap peluang satu-satunya dan menjanjikan.

"Gini dulu sebenarnya ada kesalahan dari pemerintah di zaman Orde Baru bahwa semua orang-orang Tionghoa tidak boleh terlibat dalam politik. Terus tidak boleh ikut sekolah di sekolah negeri," kata Jusuf Hamka.

Baca Juga: Rahasia Cara Dapat Sertifikat Webinar dan Poin Bukti Dukung RHK TANPA MENYITA WAKTU DI RUMAH, Kecanggihan Teknologi Ini Bikin Hasil Tokcer

Oleh banyaknya larangan tersebut, Jusuf Hamka menyebut tak heran jika orang Tionghoa jarang ditemui berprofesi sebagai PNS, Polisi, dan TNI, lantaran saat itu pemerintahan Soeharto benar-benar menutup akses orang Tionghoa untuk berkarier di sana.

https://qc.pojoksatu.id/

***