POJOKSATU.id - Sejarah Indonesia pernah mencatat ironi dalam perjalanan hidup Mohammad Natsir.

Sosok yang pernah menduduki jabatan menteri hingga menjadi Perdana Menteri Indonesia itu justru sempat dikucilkan dan ditahan pemerintah di negeri sendiri.

Namun, ketika ruang politiknya di Indonesia menyempit, dunia internasional justru membuka pintu lebih lebar bagi Natsir.

Baca Juga: 350 Km Menyusuri Jawa Barat, Honda Ajak Jurnalis Rasakan Sensasi Touring dengan Motor Matic Premium

Natsir dikenal sebagai salah satu intelektual dan pemikir Islam berpengaruh pada masanya.

Ia meyakini bahwa Islam tidak bertentangan dengan penggunaan akal sehat dan dapat berperan dalam pembangunan bangsa melalui pemerintahan.

Dari Perdana Menteri hingga Tahanan Politik
Natsir pernah dipercaya menjadi Perdana Menteri Indonesia pada 1950. Namun, perjalanan politiknya kemudian berubah setelah ia terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Baca Juga: Stella Christie Beri 5 Pesan untuk Mahasiswa Baru, Jangan Setengah-Setengah dan Jangan Lupa Asal

Pemerintah menangkap Natsir pada 1960. Berdasarkan autobiografi Natsir: Politik Santun di Antara Dua Rezim (2016), ia menjalani masa tahanan politik hingga akhirnya dibebaskan pada 1966.

Selepas bebas, posisi Natsir di dalam negeri belum sepenuhnya pulih.

Pada masa pemerintahan Soeharto, ia tetap dipandang sebagai tokoh yang berseberangan dengan pemerintah.

Baca Juga: 8 Juta Sarjana Indonesia Bekerja di Bawah Level Pendidikan, LPEM UI Soroti Risiko Universitas Baru

Akan tetapi, keadaan tersebut tidak membuat pengaruh Natsir menghilang.

Dunia Internasional Justru Menghormatinya
Jauh sebelum bebas dari tahanan, pengaruh Natsir sudah mendapat perhatian dunia internasional.

Pada 1957, ia dianugerahi gelar Grand Gordon of Nikhan Istihar sebagai penghargaan atas dukungannya terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara.

Setelah bebas pada 1966, kiprah internasional Natsir semakin luas. Ia dipercaya menduduki berbagai posisi penting dalam organisasi Muslim dunia.

Baca Juga: Naik Bandros Cuma Rp81, Dishub Bandung Siapkan 12 Armada Selama HUT RI

Salah satunya adalah World Muslim Congress di Karachi, Pakistan. Natsir dipercaya menjadi wakil presiden organisasi tersebut sejak 1967 hingga wafat pada 1993.

Kepercayaan juga datang dari Mekkah. Sejak 1969 hingga 1993, Natsir menjadi anggota Majlis Ta'sisi Rabitah Alam Islami. Ia kemudian menjadi anggota Majlis Alami lil Masjid pada 1976 hingga 1993.

Pengaruhnya Menembus Barat dan Asia
Aktivitas Natsir tidak berhenti di organisasi yang berbasis di dunia Muslim. Pada dekade 1980-an, ia juga aktif dalam berbagai organisasi internasional di Kuwait, Inggris dan Pakistan.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Regional JBB Dorong Ketahanan Energi Desa Suntenjaya, Jadikan Energi Surya Penggerak Ekonomi

Pengakuan terhadap pemikiran dan kiprahnya turut datang melalui berbagai penghargaan.

Natsir menerima Jaizatul Malik Faisal al-Alamiya, penghargaan tertinggi yang diberikan Raja Arab Saudi Faisal. Ia juga memperoleh gelar doktor Honoris Causa dari sejumlah perguruan tinggi di luar negeri.

Bagi dunia internasional, Natsir bukan hanya mantan Perdana Menteri Indonesia. Ia dipandang sebagai intelektual Muslim yang memiliki pemikiran dan pengaruh melampaui batas negara.

Namanya Baru Dipulihkan Setelah Wafat
Ironi kehidupan Natsir terlihat jelas hingga akhir hayatnya.

Baca Juga: Gempur Rokok Ilegal di Jember, Satpol PP Sita 72 Ribu Batang Tanpa Pita Cukai

Di Indonesia, ia pernah berada di pusat kekuasaan, kemudian menjadi tahanan politik dan hidup dalam posisi yang tersisih dari panggung politik nasional.

Sebaliknya, di luar negeri ia justru dipercaya menduduki posisi penting dan menerima penghormatan dari berbagai lembaga internasional.

Natsir meninggal dunia pada 6 Februari 1993. Bertahun-tahun setelah wafat, pemerintah Indonesia akhirnya memberikan pengakuan negara dengan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2008. ***