POJOKSATU.id — Ilmu bisa datang dari mana saja, bahkan dari seorang yang tidak disangka-sangka.

Kisah Imam Abu Hanifah berikut ini menjadi bukti bahwa kebijaksanaan dan pemahaman agama tidak hanya dimiliki oleh ulama besar, tetapi juga bisa ditemukan dalam diri seseorang yang sederhana, asalkan ia memiliki kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Imam Abu Hanifah, seorang tabi'in yang memiliki wawasan keilmuan yang luas, sangat dikenal dengan kepiawaiannya dalam memberikan solusi atas berbagai pertanyaan.

Dalam membahas hadits Nabi, beliau selalu berhati-hati dan penuh adab, menunjukkan betapa besarnya rasa hormatnya terhadap ilmu dan gurunya.

Baca Juga: Kisah Khalifah Sulaiman yang Hormat pada KEILMUAN Atha’ bin Abi Rabah, Ilmu Lebih Mulia dari KEKUASAAN atau JABATAN

Namun, siapa sangka, dalam suatu kesempatan, beliau justru belajar dari seorang tukang cukur di Makkah.

Tukang cukur tersebut bukan orang biasa.

Ia merupakan murid dari seorang ulama besar, Imam Atha bin Abi Rabah rahimahullah, seorang tabi'in yang diberikan wewenang untuk memberikan fatwa kepada penduduk Makkah.

Suatu hari, Imam Abu Hanifah mengalami lima kesalahan dalam manasik haji. Dalam keadaan demikian, tukang cukur itu memberikan pelajaran berharga kepadanya.

Imam Abu Hanifah menceritakan pengalamannya, "Aku ingin mencukur rambutku agar keluar dari ihram.

Baca Juga: Kisah Umar bin Abdul Aziz, Cahaya Keadilan yang Bersinar dalam Dua Tahun Kepemimpinan, Dicintai Rakyat, Warga Ridha Dipimpin

Lalu aku bertanya kepada tukang cukur, 'Berapa bayaran untuk mencukur rambutku?'

Tukang cukur itu menjawab, 'Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepadamu. Ibadah tidak disyaratkan dengan bayaran. Duduklah dan berikan sekadar kerelaan.' Aku merasa malu dan duduk, namun dalam posisi membelakangi kiblat."

Melihat hal itu, tukang cukur menoleh ke arahnya dan memintanya untuk menghadap kiblat.

Imam Abu Hanifah menurutinya dan semakin merasa salah tingkah.

Baca Juga: Kisah Penguasa yang Gemar Berpesta Pora, Dilawan Abu Hasan dengan Pedang Malam, Ketakutan dengan Air Mata Tobat

Kemudian, beliau meminta agar dicukur dari sisi kiri, namun tukang cukur tersebut berkata, "Berikan bagian kanan kepalamu lebih dulu."

Imam Abu Hanifah pun mengikuti arahannya. Ketika cukuran dimulai, beliau hanya diam memperhatikan.

Tukang cukur pun bertanya, "Kenapa Anda diam? Bertakbirlah."

Imam Abu Hanifah pun bertakbir.

Setelah selesai, beliau bersiap untuk pergi, namun tukang cukur itu bertanya, "Ke mana Anda akan pergi?" Imam Abu Hanifah menjawab, "Aku akan menuju kendaraanku."

Tukang cukur itu lalu berkata, "Shalatlah dua rakaat terlebih dahulu, kemudian pergilah ke mana pun Anda suka."

Baca Juga: Kisah Khalifah Harun Al Rasyid, Mendapat Nasihat dari Ibnu Samak, Nasihatnya JLEB BANGET, di Tengah Peradaban Islam Zaman Abbasiyah

Imam Abu Hanifah pun melaksanakan shalat dua rakaat dan merenungkan kejadian tersebut.

Dalam hati, beliau berpikir, "Seorang tukang cukur tidak mungkin berperilaku seperti ini kecuali ia adalah orang yang berilmu."

Dengan penuh rasa penasaran, beliau bertanya, "Dari mana Anda mendapatkan manasik yang Anda perintahkan kepadaku ini?"

Tukang cukur itu menjawab, "Demi Allah, aku telah melihat Imam Atha bin Abi Rabah melakukannya, lalu aku mengikutinya dan mengajarkannya kepada orang lain."

Kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menuntut ilmu.

Bahkan seorang tukang cukur pun mampu memberikan ilmu kepada seorang ulama besar seperti Imam Abu Hanifah.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada alasan bagi siapa pun untuk berhenti belajar. Dengan ilmu, amal perbuatan kita akan terhindar dari kekeliruan.

Baca Juga: Kisah Orang Badui Masuk Surga TANPA HISAB, Zikirnya Diikuti, Merasa Diolok-olok, Ia Lalu Bertanya, Betapa TERKEJUTNYA Ternyata yang DIhadapinya ...

Betapa banyak orang yang tekun beribadah tetapi lalai dalam menuntut ilmu, sehingga ibadah mereka mudah disusupi kesalahan.

Sebaliknya, meski sedikit beramal, jika dilakukan dengan pemahaman yang benar, maka itu lebih baik dibandingkan banyaknya ibadah tanpa dasar ilmu.

Ilmu bagaikan peta yang membimbing seseorang agar sampai ke tujuan dengan lebih cepat dan selamat.

Sebagai penutup, mari kita renungkan pesan bijak dari Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi rahimahullah.

"Tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya karena ia tidak akan membahayakan ibadahmu, dan beribadahlah sebanyak-banyaknya karena ia tidak akan membahayakan ilmumu." ***