POJOKSATU.id — 'Ikrimah Al Qurasyi Al-Hasyimi, seorang ahli tafsir terkemuka dari golongan tabi'in pertengahan, memiliki kisah hidup yang penuh keteladanan.
Ia adalah mantan budak Ibnu Abbas dan dikenal dengan nama panggilan Abu Abdillah.
Berasal dari Barbar, penduduk Maghrib, 'Ikrimah belajar langsung dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, termasuk Ibnu ‘Amr, Ibnu Abbas, Abu Sa'id, Abu Hurairah, Imam Husain bin 'Ali, serta 'Aisyah radhiyallahu 'anhum.
Dalam riwayat Kholid As-Sikhtiyani, 'Ikrimah pernah mengatakan, “Aku telah bertemu dengan ratusan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di masjid ini (Masjid Nabawi).”
Hal ini menunjukkan betapa luasnya interaksi beliau dengan para sahabat Nabi.
Pada saat sahabat mulia Ibnu Abbas wafat, 'Ikrimah masih dalam status sebagai budak. Anak Ibnu Abbas, yakni 'Ali bin 'Abdullah bin 'Abbas, kemudian menjualnya kepada Kholid bin Yazid bin Mu'awiyah seharga 4000 dinar.
Mendengar hal itu, 'Ikrimah segera mendatangi 'Ali dan berkata, "Apakah engkau menjual ilmu ayahmu seharga 4000 dinar?" Menyadari hal tersebut, akhirnya 'Ali menyerahkan 'Ikrimah kepada Kholid, yang kemudian memerdekakannya.
Sejak muda, 'Ikrimah sudah dididik dengan disiplin ketat oleh Ibnu Abbas dalam mempelajari Al-Qur'an dan hadits. Bahkan, demi memastikan 'Ikrimah benar-benar mendalami ilmu tersebut, Ibnu Abbas pernah mengikat kakinya.
Dalam riwayat Az-Zubair bin Al-Khirrit, 'Ikrimah berkata, "Ibnu Abbas membelenggu kakiku, lalu beliau mengajariku Al-Qur'an dan hadits Nabi." Berkat didikan tersebut, 'Ikrimah tumbuh menjadi seorang ulama besar dalam bidang tafsir.
Kecerdasan dan keluasan ilmu 'Ikrimah diakui oleh banyak ulama tabi'in. Jabir bin Zaid menyebutnya sebagai orang yang paling berilmu di zamannya. Asy-Sya'bi menegaskan,
"Tidak ada manusia yang lebih memahami Kitabullah (Al-Qur'an) selain 'Ikrimah." Sementara itu, Qotadah As-Sadusi berkata, "Orang yang paling memahami tafsir di antara manusia saat ini adalah 'Ikrimah."
Selain keilmuannya yang mendalam, 'Ikrimah juga memberikan nasihat berharga tentang pentingnya akhlak mulia dalam Islam.
Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya bahwa 'Ikrimah pernah berkata, "Segala sesuatu memiliki landasan (asas), sedangkan asas Islam adalah husnul khuluq (akhlak yang luhur)."
Hal ini menunjukkan bahwa selain menguasai ilmu, beliau juga sangat menekankan pentingnya karakter dan perilaku yang baik.
'Ikrimah wafat di Madinah dalam usia 80 tahun. Terdapat beberapa pendapat mengenai tahun wafatnya, yakni 104 H, 105 H, 106 H, atau 107 H.
Ketika beliau meninggal dunia, orang-orang pun berkata, "Orang yang paling faqih dan paling berilmu telah meninggal dunia." ***

