POJOKSATU.id — Kisah seorang wali Allah, Ibrahim al-Khawas, mengajarkan tentang keimanan, ketulusan, dan keajaiban yang menyentuh hati.
Suatu hari, dalam perjalanannya menuju Mekkah tanpa kendaraan maupun kafilah, ia tersesat dan bertemu dengan seorang pendeta Kristen.
Pendeta itu menyapanya, "Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?"
Tanpa ragu, Ibrahim menjawab, "Ya, aku tidak akan menghalangi keinginanmu."
Keduanya pun berjalan bersama selama tiga hari tanpa makanan.
Hingga akhirnya, pendeta itu berkata, "Aku tidak ingin mengeluh, tetapi aku sangat lapar. Berikanlah kepadaku sebagian makanan yang engkau miliki."
Ibrahim yang tak memiliki makanan pun memohon kepada Allah, "Ya Tuhan, Pemimpinku, Penguasaku, jangan membuatku malu di hadapan musuh-Mu."
Belum selesai ia berdoa, tiba-tiba turunlah sebuah piring dari langit berisi dua potong roti, air minum, daging matang, dan kurma.
Mereka pun makan dan minum bersama dengan penuh kebahagiaan.
Perjalanan berlanjut, dan setelah tiga hari kembali tanpa makanan, Ibrahim meminta pendeta itu untuk menyediakan makanan.
Pendeta itu pun berdoa, lalu turunlah hidangan dari langit serupa dengan yang diterima Ibrahim sebelumnya.
Melihat keajaiban itu, Ibrahim bertanya, "Demi kemuliaan Allah, aku tidak akan makan sebelum engkau menjelaskan kepadaku."
Pendeta itu tersenyum dan berkata, "Wahai Ibrahim, ketika aku bersamamu, aku merasakan kebenaran dalam agama yang engkau anut.
Aku telah membuang kesesatanku dan kini aku mendekat kepada Allah. Dengan kasih sayang-Nya, Dia tidak mempermalukanku."
Mendengar hal itu, Ibrahim merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di Mekkah dan menunaikan ibadah haji.
Beberapa hari setelah ibadah suci itu, Ibrahim kehilangan jejak pendeta tersebut.
Setelah mencari, ia menemukannya sedang salat di dekat Ka’bah.
Selesai berdoa, pendeta itu berkata, "Wahai Ibrahim, pertemuanku dengan Allah sudah dekat. Jagalah persahabatan dan persaudaraan kita."
Tak lama setelah itu, pendeta tersebut menghembuskan napas terakhirnya.
Ibrahim pun mengurus jenazahnya dengan penuh penghormatan, memandikannya, mengafani, serta menguburkannya.
Pada malam harinya, Ibrahim bermimpi melihat pendeta tersebut dalam keadaan yang begitu indah, tubuhnya dihiasi pakaian sutra yang memancarkan cahaya.
Ibrahim bertanya, "Bukankah kemarin engkau adalah temanku? Apa yang telah Allah perbuat kepadamu?"
Pendeta itu menjawab, "Aku bertemu Allah dengan banyak dosa, tetapi Dia mengampuniku karena aku berprasangka baik kepada-Nya.
Allah membalas persahabatanku denganmu di dunia dengan kedekatan di akhirat."
Kisah ini menjadi bukti bahwa persahabatan yang tulus dan ilmu yang bermanfaat dapat membawa seseorang pada hidayah.
Keikhlasan dalam beribadah serta prasangka baik kepada Allah akan berbuah manis di dunia dan akhirat. ***

