POJOKSATU.id, JAKARTA-- Anak kedua Hoegeng yang bernama Aditya Sutanto menyebut ketidakcocokan Hoegeng dengan Soeharto terjadi sejak Soeharto menduduki posisi Pangdam Diponegoro (1956-1959).

Saat itu, Hoegeng menyelediki dugaan penyelundupan tekstil oleh warga negara India yang melibatkan istri Soeharto, Siti Hartinah.

Soeharto meminta istrinya dibebaskan, bahkan menjanjikan membayar pajak barang-barang yang diselundupkan tersebut.

Hoegeng meladeni dan berkata akan melepaskannya jika Soeharto sudah memberikan bukti pembayaran serta memastikan uangnya masuk ke kas negara.

Baca Juga: Hampir Pingsan usai Jadi MC Kampanye di JIS, Olla Ramlan Beberkan Kondisi Terkininya

Mendengar ucapan Hoegeng, Soeharto diduga tersinggung. Akhirnya, hubungan keduanya pun mengalami pasang-surut walaupun Soeharto melantik Hoegeng sebagai Kapolri pada 1968.

Klimaks ketidakharmonisan terjadi ketika polisi menyelidiki kasus penyelundupan mobil mewah yang dilakukan pengusaha Robby Tjahjadi.

Hoegeng yang saat itu Kapolri mendapati Robby keluar dari ruang tamu rumah Soeharto ketika hendak melaporkan kasus tersebut.

Baca Juga: Dihadiri Jokowi Hingga Anies, Cap Go Meh di Kota Bogor Dari Masa ke Masa, Dua Kali Arak-arakan Pernah Masuk Istana Bogor

Ia pun batal menemui Presiden Soeharto. Setelah itu, Hoegeng digembosi sampai dilarang berbicara di publik dan pergi ke luar negeri.

Kisah Mercy Raib Milik Istri Menteri

Anak kedua Hoegeng, Aditya Sutanto, berkisah suatu hari Meriyati, ibunya, menerima panggilan telepon dari Sihwati Nawangwulan.

Sihwati merupakan istri dari mantan Menteri Luar Negeri yang tengah menjabat menjadi Duta Besar Perserikatan Bangsa-bangsa, Roeslan Abdulgani.

Kala itu, Sihwati menyampaikan bahwa polisi tak kunjung menemukan mobil merek Mercedes-Benz miliknya yang raib beberapa waktu lalu. Meriyati pun menyampaikan keluhan ini kepada Hoegeng yang saat itu Kapolri.

Baca Juga: DKM Puser Bumi Gunungati Bareng PAMACI Gelar Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Kurang dari seminggu, mobil milik Sihwati akhirnya berhasil ditemukan di Sukabumi, Jawa Barat.

Tak lama setelah itu, ketika Hoegeng baru saja pulang dari kantornya, Meriyati melaporkan bahwa ia mendapatkan bungkusan yang berisi kalung emas seberat 5 gram dari Sihwati.

Hoegeng pun langsung menghubungi istri Roeslan tersebut. Dia mengucapkan terima kasih dan berkata akan mengembalikan pemberiannya.***