POJOKSATU.id — Hidupnya dulu penuh dengan kelalaian, jauh dari Allah, dan tanpa pernah bersujud sekalipun.

Tinggal di Riyadh, bertahun-tahun ia tidak mengenal masjid, hingga akhirnya hidayah datang dengan cara yang tak terduga: melalui puteri kecilnya.

Ia biasa menghabiskan malam dengan teman-temannya, larut dalam kesenangan dunia.

Istrinya yang setia hanya bisa menahan kesedihan, lelah menasihatinya yang tak kunjung berubah.

Hingga suatu malam, pukul 03.00 dini hari, ia pulang ke rumah setelah begadang.

Istri dan puteri kecilnya sudah terlelap, sementara ia menuju kamar sebelah untuk menonton film yang diharamkan.

Baca Juga: Kisah Seorang Wanita Mekah yang Cantik, MENGUJI KEIMANAN Ubaid bin Umair, IZIN pada Suaminya, Ketika Pulang, Suaminya TERKEJUT Karena Ini

Saat itulah, dalam keheningan malam ketika Allah berfirman, “Adakah orang yang berdoa sehingga Aku mengabulkannya? Adakah orang yang meminta ampun sehingga Aku mengampuninya?”, pintu kamar mendadak terbuka.

Di ambang pintu, berdiri puteri kecilnya yang belum genap lima tahun. Dengan polos dan tulus, ia berkata, "Bapak, ini adalah aib bagimu. Takutlah kepada Allah."

Ucapan itu diulanginya tiga kali sebelum ia menutup pintu dan kembali tidur. Sang ayah terdiam, terkejut, seolah tersambar petir.

Kata-kata puterinya menggema di telinganya, menusuk jiwanya lebih dalam daripada nasihat siapa pun sebelumnya.

Tanpa sadar, ia mematikan video dan duduk termenung. Panggilan adzan Subuh memecah keheningan, menggugah hati yang lama terlelap dalam dosa.

Ia pun berwudhu dan melangkah ke masjid. Meskipun hatinya masih gamang, kata-kata puterinya tetap terngiang, memaksanya untuk mengikuti gerakan shalat.

Baca Juga: Kisah Keteguhan Imam Abu Hanifah, Selalu Menolak Jabatan yang Ditawarkan, Ilmunya Tetap Tersebar Luas sebagai Mazhab

Saat imam bersujud, ia pun bersujud, dan tiba-tiba air matanya jatuh deras. Itu adalah sujud pertamanya kepada Allah setelah bertahun-tahun.

Tangis itu adalah awal dari perubahan besar. Ia merasa sesuatu yang selama ini menggelapkan hatinya perlahan menghilang.

Setelah shalat, ia kembali bekerja, dan teman-temannya pun heran melihatnya datang lebih awal dari biasanya.

Ketika ditanya, ia menceritakan kejadian malam itu. Seorang temannya berkata, "Bersyukurlah kepada Allah yang telah menggerakkan anak kecil itu untuk menyadarkanmu sebelum ajal menjemput."

Namun, ujian sejati baru datang. Ketika pulang untuk beristirahat, istrinya menyambutnya dengan tangis. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Puterimu telah meninggal dunia."

Baca Juga: Kisah PERDEBATAN KEREN Abu Hanifah dan Ilmuwan Kafir di Atas Mimbar, Mempertahankan Keislaman dengan Jawaban Bijak dan Logika yang Tajam

Dunia seakan runtuh. Ia tak kuasa menahan tangis, tetapi di balik kesedihannya, ia sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah.

Dengan penuh keikhlasan, ia menerima takdir-Nya. Bersama temannya, ia memandikan dan mengafani puterinya, lalu mengangkatnya dengan air mata yang tak terbendung menuju pemakaman.

Saat menurunkan tubuh mungil itu ke liang lahad, ia berkata dalam hatinya, "Aku tidak mengubur puteriku, tapi cahaya yang telah menerangi jalanku menuju Allah.

Semoga ia menjadi perisai bagiku dari api neraka dan semoga Allah memberi balasan terbaik bagi istriku yang begitu sabar." ***