POJOKSATU.id - Nama presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid, amat populer di Indonesia bahkan di luar negeri.

Gus Dur juga pernah mengemban amanah prestisius, Ketua Umum PBNU. Tak hanya sekali, Gus Dur merupakan ketum tiga kali berturut-turut.

Gus Dur merupakan sosok yang cerdas. Dia mampu melihat sesuatu dengan beragam perspektif. Maklum, Gus Dur juga menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus.

Masa kecil Gus Dur juga spesial. Dia bocah nakal, tapi cerdas.

Baca Juga: Dalam Sepekan, Polda Sumut Berhasil Tangkap 145 Pelaku Tindak Pidana Narkotika

Saking nakalnya, satu ketika Gus Dur sampai diikat di tiang bendera oleh ayahnya, KH Wahid Hasyim.

Gus Dur tumbuh dan berkembang di masa kecilnya memang berpindah-pindah, Jombang-Jakarta. Karena sang ayah pernah menjadi Menteri Agama, sekaligus juga pernah menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng.

KH Abdurrahman Wahid lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil.

Baca Juga: Besok Debat Cawapres Kedua, Ini Tema yang Akan Dibahas

“Addakhil” berarti “Sang Penakluk”, kata “Addakhil” tidak cukup dikenal dan diganti nama “Wahid”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur.”

Abdurrahman Wahid lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 di Denanyar Jombang, Jawa Timur dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah Bisri.

Sejak Kecil Gus Dur dikenal sebagai anak yang aktif, bahkan hiperaktif, tidak bisa diam, dan bandel.

Baca Juga: Budisatrio Djiwandono Beberkan Cara Prabowo Gibran Sejahterakan Petani Indonesia

Baik di Denanyar maupun di Tebuireng, Gus Dur sering berbuat ulah, jail, dan merepotkan.

Tahun 1944, Gus Dur pindah ke Jakarta karena sang ayah diminta menjadi ketua pertama Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Tahun 1945 pasca-kemerdekaan, keluarga Gus Dur kembali ke Jombang. Namun, tahun 1949 setelah perang melawan sekutu selesai, kembali lagi ke Jakarta karena ayahnya, Kiai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama RI.

Baca Juga: Relawan Rumah Gibran Ada di 24 DPD Provinsi dan 130 DPK Kota, Siap Menangkan Prabowo - Gibran

Pada tahun 1952, ketika berumur 12 tahun, saking aktif dan semaunya, Gus Dur pernah megalami dua kali patah tulang lengan.

Pertama kali lengannya patah karena terjatuh dari pohon akibat dahan yang dia injak patah. Kemudian, Gus Dur juga hampir kehilangan tangannya untuk kedua kali dalam satu masa usia.

Kisahnya, waktu itu Gus Dur mengambil makanan dari dapur lalu memakannya di atas pohon besar. Karena keenakan di atas pohon sampai tertidur lalu menggelinding dan terjatuh ke bawah.

Baca Juga: Sosok Jenderal Sampah Ini yang Ternyata Ditakuti Soeharto, Berikut Profilnya

Waktu itu, Gusdur mengalami patah tulang serius sehingga tulang lengannya menonjol keluar. Dokter pertama yang merawatnya khawatir kemungkinan dia akan kehilangan tangannya.

Beruntung, karena kecekatan dokter, tangannya bisa disambung kembali.

Akan tetapi pengalaman ini hampir tak berpengaruh terhadap dirinya karena Gus Dur kecil tetap kurang berhati-hati dan selalu bertindak impulsif.

Baca Juga: Fancy and Tasty! Resep Pancake Durian Creamy, Tak Kalah Enak dengan Hidangan Penutup Mewah

Perilaku Gus Dur yang bandel itu, kadang membuat Sang Ayah yang sangat sabar itu juga harus berlaku tegas.

Kadang-kadang, Dur kecil diikat dengan dengan tambang di tiang bendera di halaman depan sebagai hukuman buat leluconnya yang terlalu jauh atau sikapnya yang kurang sopan.

Saat sekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Gus Dur juga pernah tidak naik kelas, karena sering bolos.

Baca Juga: Waspada Hoaks! Perintah Presiden Jokowi untuk Mengusir Pengungsi Rohingya Tak Benar

Saat ditanya alasannya, mengaku tidak punya teman yang mengerti jalan pikirannya, sehingga malas sekolah, akhirnya bolos.

Tapi bolosnya tidak ke mana-mana, dan mudah dicari sebenarnya, yaitu di perpustakaan Jakarta. Kadang juga bermain bola, olahraga kegemarannya.

Alhasil Gus Dur tidak naik kelas. Oleh ibunya Gus Dur dipindahkan ke Krapyak Jogja, diasuh oleh KH Aly Makshum.

Tapi lagi-lagi, jiwa-jiwanya yang pemberontak tidak cocok dengan peraturan pesantren yang ketat. Gus Dur minta izin kepada ibunya untuk sekolah dan kos di luar pondok.

Baca Juga: Hadiah Ratu Belanda dan Dibangun Tanpa Besi Penyangga, Jam Gadang Kini Jadi Ikon Kota Bukittinggi

Pada akhirnya, dia kos di daerah Kauman, di lingkungan sekitar Keraton Yogyakarta.

Gus Dur remaja tinggal di rumah Haji Djunaid, seorang tokoh organisasi Islam Muhammadiyah.

Haji Djunaid merupakan sahabat dekat Wahid Hasyim, ayah Gus Dur saat nyantri di Tremas Pacitan. Benar saja, sejak kos di luar pondok itu, Gus Dur semakin giat belajar.

Baca Juga: Soal Pemakzulan Jokowi, Amien Rais Kena Sentil Dinilai Kebanyakan Angan- angan

Tapi, di balik kenakalan dan kabandelannya, Gus Dur adalah sosok anak yang tumbuh sangat cerdas. Gus Dur kecil juga dikenal sebagai pecandu buku bacaan.

Beberapa kali Gus Dur ditegur oleh ibunya soal kebiasaannya membaca buku yang terlalu.

Nyai Solichah meminta putranya itu untuk mengurangi membaca agar matanya tidak sakit. Gus Dur saat itu baru berusia 10 tahun dan sudah membaca novel-novel dengan tingkat sastra tinggi.

Baca Juga: KPU Beri Hak Suara Kepada 8.808 ODGJ di Sumut Pada Pemilu 2024

Soal mata, tidak bisa dipungkiri, sejak kecil Gus Dur sudah mulai memakai kacamata, dan saat dewasa gangguan kesehatan matanya semakin memburuk.

Gus Dur memang maniak membaca. Dia benar-benar memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Sudah dilahap semua dan merasa kurang, ia kerap berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta.

Pada usia itu, dia sudah akrab dengan buku-buku serius, dari filsafat, cerita silat, sejarah, hingga sastra.

Baca Juga: Prabowo Subianto: Anak Cucu Dayak harus Medapatkan Pendidikan Sebaik-baiknya

Kecerdasan, pikiran yang liar, dan kritis itulah yang membuat Gus Dur tumbuh menjadi pribadi yang penuh semangat dalam mendobrak tatanan.

Dalam Orde Baru, Gus Dur menjadi orang yang sangat ditakuti oleh rezim. Hingga berkali-kali terancam keselamatannya. ***