POJOKSATU.id, JAKARTA-- Feisal Tanjung merupakan panglima TNI masa Orde Baru. Setelah lulus dari Akademi Militer Nasional, pria bernama lengkap Feisal Edno Tanjung ini mulai bertugas di Kodam Pattimura dan di RPKAD.
Saat peristiwa G30 S/PKI, ia terlibat dalam operasi penumpasan PKI di Jawa serta memimpin Operasi Lembah X di Papua. Karirnya berkembang di Kostrad, RPKAD, dan Pusat Persenjataan Infanteri.
Ia menjabat sebagai Panglima Kodam di Kalimantan dan pada tahun 1988, ia diangkat sebagai Panglima SESKOAD dengan pangkat Mayor Jenderal.
Nama Feisal Tanjung menjadi perbincangan setelah menjabat sebagai anggota Dewan Kehormatan Militer terkait pembantaian Santa Cruz di Timor Leste tahun 1991.
Pada 1992, ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Umum ABRI dan setahun kemudian diangkat sebagai Panglima TNI dari tahun 1993 hingga 1998.
Kemudian ia melanjutkan karier sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan hingga Oktober 1999.
Putra ke-5 dari 10 bersaudara dari pasangan Amin Husin Abdul Mun’im Tanjung, seorang tokoh Muhammadiyah di Tapanuli Utara, Sumut, dan Siti Rawani Hutagalung.
Baca Juga: Begini Analisa Pengamat Soal Sikap Jokowi yang Memperbolehkan Presiden Ikut Kampanye
Nama tengah "Edno" pada namanya disesuaikan dengan urutan kelahirannya (E adalah huruf ke-5 alfabet). Nama keluarga "Tanjung" bukan nama yang dibawa dari lahir.
Tapi baru diadopsi ketika saudara tertua Feisal, Fahmi Ahda Tanjung, mulai memasuki bangku perkuliahan.
Feisal Edno Tanjung lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 17 Juni 1939.
Pada masa kecilnya, Feisal sempat mengenyam pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Sibolga. Usai keluarganya pindah ke Medan, dia melanjutkan sekolah di SR Yosua.***

